a href="http://www.poultryindonesia.com/pi/wp-content/plugins/adrotate/adrotate-out.php?track=NTIsMCwxLGh0dHA6Ly93d3cua2FsYmUuY28uaWQ" targe="_blank">
 

Poultry Indonesia Edisi Cetak Oktober 2007

8 October, 2007 Uncategorized No comments

Betapa tidak, pada pertengahan tahun ini wanita asal kota tahu Kediri ini disunting oleh pemuda keturunan Pakistan yang berdomisili di New York – Amerika Serikat. Akad nikah dilangsungkan di Kediri – Jawa Timur pada  1 Juli 2007, kemudian pengantin kita terbang ke Amerika Serikat pada 15 Juli, dan melangsungkan pesta pernikahan di New York pada 28 Juli. Heboh!
     Mau tak mau, peristiwa ini juga mengesankan bagi tim PI yang ditinggalkannya.  Sungguhpun begitu pembaca setia PI masih bisa mengikuti Rubrik Topic dan sejumlah tulisan Elis — yang tentu saja ditulisnya dari nun jauh di sana.
 Sebagai contoh,  ketika kami membuat Laporan Utama untuk edisi September baru lalu dengan tema ‘Mendongkrak Konsumsi Dengan Promosi’, Elis mengirim tulisan tentang program promosi makan ayam yang dilakukan di Negeri Paman Sam. Kemudian ketika kami mengangkat Evaluasi Vaksin AI untuk Laporan Utama edisi ini, melalui jaringan informasi yang telah terbangun, ia menghimpun informasi dan mengirim tulisan tentang pelaksanaan vaksinasi AI di sejumlah negara. Komunikasi lewat jaringan internet telah terbukti memudahkan segalanya.
       Ya. Untuk kesekian kalinya kami mengangkat persoalan AI, terutama seputar program vaksinasi dan vaksin-nya.  Melihat respon yang diberikan narasumber dalam memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kami, membuktikan bahwa persoalan AI benar-benar persoalan yang rumit dan panjang, sehingga dibutuhkan stamina yang hebat dan kerjasama semua pihak yang lebih kompak.
       Tak kalah peliknya adalah persoalan melambungnya harga bahan baku pakan ternak, yang pada akhirnya memaksa kenaikan harga pakan ternak. Ditengah-tengah kenaikan harga bahan bakar minyak, gas dan lain-lain, kenaikan harga pakan benar-benar melambungkan biaya produksi hasil ternak. Sayangnya, konsumen juga dipepet oleh kenaikan harga-harga kebutuhan pokok lainnya sehingga penyerapan hasil unggas di tingkat konsumen cenderung melemah dan sangat sulit untuk ‘penyesuaian’ harga. Tapi itulah dinamikanya, seorang pegusaha katanya harus piawai mengubah tantangan menjadi peluang
            Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir & Batin!

Lebaran tanpa Panen Raya

Masyarakat yang sebelumnya sudah gerah dihadapkan sulitnya memperoleh minyak tanah dan melambungnya harga minyak goreng, dibikin lebih suntuk lagi oleh membengkaknya belanja rumah tangga menyusul naiknya harga berbagai bahan pangan seperti beras, gula, bawang putih, bawang merah, cabe, kentang, susu, telur ayam, daging ayam dan daging sapi.

Sementara itu, di sisi lain, seraya terus asyik ‘menjajakan’ kompor gas gratis untuk menyukseskan program konversi minyak tanah ke gas, pemerintah seperti tak peduli pada keterbatasan daya beli masyarakat kecil yang hanya mampu membeli satu liter minyak tanah, — ketimbang membeli tabung gas ukuran 3 kg dengan harga Rp. 14.500.-
Gerah dan suntuk! Itulah yang kita tangkap pada suasana kehidupan masyarakat kita hari-hari ini. Dan itu terjadi bukanlah semata-mata dipengaruhi datangnya Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) — yang di depan ini kebetulan Hari Raya Idul Fitri. Sebab, sejujurnya, suasana yang demikian sudah menjadi pengalaman keseharian yang sudah berjalan beberapa waktu, dengan menunjuk tingginya jumlah penduduk miskin (37,17 juta) dan besarnya angka pengangguran (10 juta) sebagai sumbernya, serta kebijakan pembangunan yang tidak pro rakyat sebagai penentunya. Tingginya jumlah penduduk miskin dan besarnya angka pengangguran bisa dibaca sebagai terbatas atau rendahnya daya beli masyarakat, sementara kebijakan yang tidak pro rakyat segera terlihat pada tidak berkembangnya sektor-sektor produktif yang memiliki potensi andalan dalam perekonomian nasional.
Sehingga, suasana gerah dan suntuk bersumber melonjaknya biaya hidup menjelang Idul Fitri sekarang ini bukanlah semata sebagai tren kenaikan harga pada Hari Besar Keagamaan Nasional belaka, tetapi juga merupakan ‘buah’ dari berbagai kebijakan yang tidak pro rakyat dan bermuara pada semakin sulitnya hidup ini dilakoni. Menunjuk salah satu kebijakan tidak pro rakyat yang belakangan ditempuh pemerintah adalah naiknya tarif jalan tol, yang selain dirasakan cukup membebani masyarakat pengguna dampak lebih jauhnya lagi adalah naiknya biaya transportasi untuk pendistribusian berbagai kebutuhan hidup, — utamanya kebutuhan pangan. Kebijakan yang sungguh mencederai kepentingan dan rasa keadilan publik, menilik arah kebijakan menaikkan tarif tol ini ditengarai untuk memenuhi permintaan investor dalam rangka membujuk mereka meningkatkan investasinya membangun jalan bebas hambatan di negeri ini, — tak penting apakah itu mengakibatkan harga beras, gula, minyak goreng, susu, sayur mayur dll. melonjak untuk nyaris tak terbeli masyarakat berpenghasilan rendah.
Menyambut perayaan Idul Fitri sekarang ini masyarakat pasti juga mengelus dada, karena di pasar mereka dihadapkan kepada naiknya harga telur dan daging ayam, — lebih-lebih melonjaknya harga daging sapi. Harga telur misalnya, sejak hari pertama puasa di pasar-pasar tradisional Jakarta harga telur naik Rp. 1.000 untuk menjadi Rp. 11.000/kg, sedangkan harga ayam hidup naik dari sebelumnya Rp. 12.000 menjadi Rp. 13.000/kg, sementara daging sapi naik Rp. 2.000 untuk menjadi Rp. 50.000/kg. Dalam perkembangannya, hingga dua minggu terakhir menjelang Lebaran harga telur mantap pada angka Rp. 9.400,-/kg, ayam hidup Rp. 12.400,-/kg, sementara harga daging sapi terpatok pada kisaran Rp. 60.000,-/kg.
Dengan tingkat harga seperti itu benarkah peternak mengalami ‘panen raya’? Sayang sekali tidak! Bukannya sibuk menghitung untung, peternak justru bingung menentukan sikap bagaimana mengurus usaha peternakannya ke depan. Ini terkait dengan melonjaknya harga pakan dan ayam bibit (DOC) selama satu bulan terakhir ini, yang dalam hitung-hitungan bisnis akan sulit dipertemukan dengan harga jual hasil produknya (telur dan ayam dewasa) kelak. Sebagai gambaran, pada minggu pertama puasa harga pakan sudah berada pada kisaran Rp. 3.400 – Rp. 3.450/kg sedang harga DOC sudah menyentuh Rp. 4.500/ekor. Kisaran harga sarana produksi perunggasan ini diperkirakan masih akan merangkak naik, mengingat yang menjadi sumbernya adalah terjadinya lonjakan harga nyaris semua bahan baku pakan ternak. Jagung lokal misalnya naik dari sebelumnya Rp. 1.800 menjadi Rp. 2.300/kg, — bahkan jagung impor sudah bertengger pada kisaran Rp. 2.800/kg. Seperti halnya jagung, bungkil kedelai juga mengalami lonjakan harga dari 240 dolar AS menjadi 370 dolar AS per ton. Sedang harga meat bone meal (MBM) tercatat 400 dolar AS per ton.
Apa yang bisa kita tangkap dari tren kenaikan harga sejumlah komoditas di atas? Sekalipun datangnya Hari Besar Keagamaan Nasional (puasa dan Lebaran) cukup berpengaruh, tetapi sumbernya tidaklah di sana. Naiknya harga jagung, bungkil kedelai, MBM dll. jelas tidak ada sangkut pautnya dengan puasa dan Lebaran. Ia lebih merujuk kepada keterbatasan pasokan — kelangkaan — yang berimbas kepada ketidakseimbangan permintaan dan penawaran. Komoditas jagung umpamanya, sekalipun Departemen Pertanian mengklaim produksi terus meningkat mencapai 11 juta ton/tahun, untuk kebutuhan pakan ternak yang hanya sebanyak ± 3 juta ton jagung masih harus diimpor. Sekadar catatan, tahun 2006 impor jagung mencapai 1.700.000 ton. sedang tahun ini sampai dengan bulan Mei lalu impor jagung sudah mencapai 1.000.000 ton. Pertanyaannya: Dikemanakan produksi jagung nasional yang diaku 11 juta ton itu, dan sampai kapan jagung untuk pakan ternak masih harus diimpor? Sama halnya dengan jagung, melambungnya harga MBM juga terkait dengan terbatasnya pasokan, — ditangarai sebagai akibat praktik monopoli perusahaan pemasok. Belakangan, kelangkaan MBM bertambah kritis disebabkan terhambatnya impor bahan baku pakan ini menyusul pencopotan Dirjen Peternakan pertengahan September lalu.
Maka menjadilah jelas bahwa suasana gerah dan suntuk hari-hari ini tak lepas dari kenyataan bahwa sebagai bangsa kita belum benar-benar mandiri. Dan itu bermula dari kegagalan kita mengolah dan memanfaatkan potensi-potensi sumberdaya yang tersedia di negeri ini untuk kesejahteraan bersama. Ya, pembangunan di sini belum berjalan pada relnya yang benar!
Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.

Poultry Indonesia Printing Edition, 2007 October

4 October, 2007 Uncategorized No comments

www.poultryindonesia.com. BASED on imported grandparent stock (GPS) and parent stock (PS), national potential production of broiler day old chick (DOC) in August 2007 was about 24.8 million per week, a sharp increase compare to 20.8 million, 21.2 million and 21.4 million per week for May, June, and July, respectively. Data released by Agricultural Ministry stated that imports of parent stock in first quarter of 2007 was reached 344,709 chicks, which was three times higher compare to the same quarter in 2006. In second quarters of 2007, broiler parent stock imports reached 155,361 chicks. Grand parent stock import for the third quarter of 2007 was noted decline up to 37% compare to the same period in 2006. Import of PS in the third quarter also saw a decrease of 30% compare to the same quarter of last year.
According to the ministry, day old chick production in September was slightly decreased to about 24.5 million per week.
However, some growers have doubts on the real production of final stock DOC, as there was indication of shortage during the weeks before Ramadan. After all, the prices of DOC were also quite high with about Rp. 4,000-Rp. 4,500/chick during August and September. Some growers said that breeding companies cut their production in order to maintain the high price of DOC.
THE recent media coverage of the use of formaldehyde in chicken carcasses at two traditional markets in North Jakarta has sparked a drop in sales of broiler, according to chicken traders and farmers.
Unlike previous years where demand increased days during the fasting month, the markets were pretty quiet in the past few days. Traders usually slightly increase prices during the fasting month and the post-fasting Idul Fitri holidays, but with the issue of formaldehyde, along with recent feed ingredients prices hike that made poultry products become more expensive, the consumers decided not to shop much.
The decline of demand has resulted lower prices in broiler compared to the first week of the fasting month. In Jakarta, farm-gate live broiler was traded at Rp 9,400/kg at the third week of September, a sharp drop from Rp 12,400/kg the previous week. The weaken price of broiler was also worsen by the flood of broiler stocks from other provinces like Central Java and East Java to Jakarta and surrounded area. Jakarta and Botabek is the largest market for broiler in the country.
On the other hand, the rise of feed ingredients prices such as corn and meat and bone meal has result the increase of feed prices. Broiler feed price has reached Rp. 3,600/kg from the normal price of Rp. 3,000/kg. A 20% increased that burdened the growers as they already paid higher price for day old chick since last several months. Cost of production for broiler is now estimated Rp. 9,250/kg, another hard time for growers. With the purchasing power of the average Indonesian still suffering, consumers have to pay more in the market.
However, as Idul Fitri nears, growers expect the price might climb as it usually involves a large family feast.
INDONESIAN Veterinarians Association has proposed a new bill that would set up an integrated system involving the government and the public to curb the spread of animal-borne diseases such as bird flu.
The draft bill obliges citizens to report any animal-related illnesses in their area and pet owners to ensure their animals have regular health checks.
It would also require the government to set a list of actions to be taken in the case of a pandemic.
Olan Sebastian, the head of the team preparing the bill, said the battle against bird flu had inspired the association to propose the bill.
“We are struggling to curb the disease because we don’t have a national system to deal with this sort of thing. Our weak veterinary system also makes us vulnerable to animal-to-human diseases like bird flu,” he said.
Indonesia only has one animal husbandry law, which was set in 1967 and focuses on livestock safety. Veterinary oversight is only part of the process and as it is production oriented, it does not regulate pets or strays.
When bird flu broke out in Indonesia in 2005, the government had problems convincing residents to keep their pet and backyard farm bird healthy. Mass cullings of birds are the result of experience, rather than a national policy that is useful around the country, the association believes.
The draft bill is to be discussed with members of House Commission IV overseeing agriculture, plantations, forestry, fisheries and maritime affairs by mid-October.
A group of international health experts has drafted a three-year program for Indonesia aimed at containing the spread of bird flu. About 150 participants from 11 countries have gathered in Bali to help Indonesia improve its bird flu control measures.
The U.N. Food and Agriculture Organization is helping Indonesia establish community programs to make sure outbreaks of the virus among birds are reported as quickly as possible.
John Weaver, the FAO senior adviser on bird flu in Indonesia, says the country has made small gains in reducing the number of human infections during the past year. He says the key to controlling the disease is keeping people away from sick birds.
“The problem is that the disease is so entrenched that we have got a real endemic situation. So what we need to do is identify and then knock out these risk pathways,” he said.
In the mean time, chief executive of the Indonesian National Committee for Avian Influenza Control and Pandemic Preparedness Bayu Krisnamurthi said that Indonesia needs around US$ 300 million per year to fight avian influenza.
“Currently we have only around $120 million from the national budget combined with funds from international donors. So we are short of more than half the amount we need,” he said, adding the committee is trying to survive with the existing budget.
Bayu said the funding is being used to finance six strategies for Avian Influenza control, which include a public campaign, the restructuring of the poultry industry, disease surveillance in animals and humans, virus elimination at the source (i.e, bio-security, vaccination, culling and compensation), health facilities and the establishment of pandemic preparedness measures.
The committee is changing its strategy by focusing more on animals, in a move to better contain the virus.
Bayu said last year the focus on controlling the virus was equal between humans and animals. “Now, our focus is 70 percent on animals and 30 percent on humans,” he said.
Meanwhile, Agriculture Minister Anton Apriyantono said “The restructuring of the poultry industry and transportation of poultry is currently the most important measure in controlling the spread of avian influenza. However, it is not an easy task and will take some time.”
Anton said the government was attempting to relocate chicken farms away from residences in cities as well as re-organize markets and the transportation of poultry.
“We are also setting up abattoirs so chickens would only be transported in the form of carcasses (not live birds),” he said. So far, Indonesia is still relying on traditional distribution and sale methods for poultry.

Kebanggaan pada kesempurnaan produk

www.poultryindonesia.com. Nutreco, melalui anak perusahaannya, Trouw Nutrition International menjadikan dirinya sebagai pemain utama dalam industri nutrisi ternak terbesar setelah mengakuisisi bisnis premix dari BASF pada Februari 2007 yang lalu. Selain itu, sejak September 2007 seluruh aktivitas bisnis nutrisi ternak pada PT. BASF Indonesia beralih ke PT. Trouw Nutrition Indonesia. Info lebih lengkap, silahkan klik di sini.

Medion, Memajukan Peternak Melalui Diklat

www.poultryindonesia.com. Pada 27-29 Agustus lalu, Medion kembali kedatangan delegasi peternak dari berbagai daerah dalam rangka mengikuti Diklat Medion. Diklat yang diselenggarakan untuk ke-71 kalinya ini diikuti tidak kurang dari 44 peserta. Info lebih lengkap, silahkan klik di sini.