Ayam Cemani, Paling Tahan AI

28 January, 2008 Uncategorized No comments

www.poultryindonesia.com. Hasil analisis Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan bahwa diantara 15 galur ayam lokal dan
ayam kampung yang ada di Indonesia, ayam cemani paling tahan terhadap serangan
AI.

Hasil
penelitian Sri Sulandari dan M. Syamsul Arifin Zein, peneliti genetika zoologi
dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, menunjukkan ayam cemani memiliki resistensi
terhadap virus flu burung yang paling tinggi, yaitu 0,89 persen. Analisa ini
didasarkan pada alel A (genotipe AA), alel G, (genotipe GG), dan alel R
(genotipe AG) gen Mx yang merupakan penentu kekebalan ayam cemani. Dimana alel
A resisten terhadap serangan AI, alel G rentan, dan alel R bisa resisten dan
bisa juga rentan. Ayam yang memiliki alel A di atas 50% relatif lebih tahan terhadap
serangan AI.

 

Menurut
Zein, faktor daya tahan terhadap AI ini dapat dimanfaatkan dalam program
pemuliaan ternak. Ini penting untuk keperluan breeding. Dengan demikian dapat
diciptakan populasi ayam yang 100% tahan terhadap serangan AI. Krm 

Satu lagi, Manusia Positif Flu Burung

25 January, 2008 Uncategorized No comments

www.poultryindonesia.com. Korban flu burung pada manusia di Indonesia bertambah satu lagi. GR
(L, 30 th), adalah kasus flu burung positif ke-120.

Warga Jl. Imam Bonjol, Kp. Bansing, Kota
Tangerang, Propinsi Banten ini dinyatakan positif terinfeksi virus Flu
Burung, H5N1, berdasarkan pemeriksaan RT – PCR (Real Time Polimerase Chain
Reaction)
Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
(Balitbangkes) Depkes dan Laboratorium Lembaga Biologi Molekuler Eijkman,
tanggal 22 Januari lalu.

GR adalah sales executive sebuah perusahaan
otomotif, mulai sakit sejak 14 Januari dengan gejala demam, batuk, sesak nafas,
eukopeni, thrombositopeni, pneumoni. Masuk Rumah Sakit Honoris Tangerang pada
18 Januari. Dua hari kemudian GR dirujuk ke RS Persahabatan Jakarta Timur dan
masih dirawat hingga saat ini. Dengan demikian, jumlah kasus positif flu burung
di Indonesia mencapai 120 orang, 97 diantaranya meninggal dunia. Angka kematian
atau Case Fatality Rate (CFR)
mencapai 80,8%. Isti.

Minyak Ikan Lemuru, Immunomodulator Ayam

25 January, 2008 Uncategorized No comments

www.poultryindonesia.com. Hasil
penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) menunjukkan bahwa penggunaan minyak
ikan lemuru dan suplemen vitamin E dalam pakan ayam mampu meningkatkan kekebalan
ayam broiler.

Ikan lemuru
mengandung asam lemak linolenat yang dibutuhkan ayam untuk mengoptimalkan daya
tahan tubuh. Minyak ikan lemuru bisa diperoleh dari hasil sampingan pembuatan
tepung dan pengalengan ikan. Dari proses pengalengan ikan diperoleh rendemen
minyak sebesar 5 persen, sedangkan dari proses pembuatan tepung ikan sebesar 10
persen.

Hasil
penelitian sebelumnya menunjukkan, penggunaan tiga persen minyak ikan lemuru
yang dicampur pakan jagung bisa menekan peradangan pada ayam, dan penambahan
minyak ikan lebih dari tujuh persen memberikan efek kurang menguntungkan, sebab
asam lemak jenuh dalam minyak ikan lemuru sangat mudah teroksidasi dan
menurunkan kadar vitamin E, yang pada gilirannya akan menyebabkan defesiensi
vitamin E -mempengaruhi fungsi kekebalan tubuh.
Atas dasar itulah, perlu penambahan vitamin E dalam bentuk alfa tocopherol
dalam ransum -yang mengandung minyak ikan lemuru- untuk menstabilkan vitamin E.

Penelitian yang dilaksanakan Denny Rusmana,
mahasiswa S3 Ilmu
Ternak IPB, diujicobakan pada 216 ekor
ayam broiler. Hasilnya, ayam yang mengonsumsi ransum minyak ikan lemuru enam
persen dan 200 ppm vitamin E secara signifikan meningkat daya tahan tubuhnya
terhadap penyakit khususnya ND dan IBD. Minyak Ikan Lemuru digunakan sebagai
Imunomodulator dan penambahan Vitamin E untuk Meningkatkan Kekebalan Tubuh Ayam
Broiler

Menurut
Denny, selama ini penyusunan ransum (pakan) ditekankan kepada terpenuhinya
kebutuhan energi, protein, vitamin dan mineral. Sementara asam lemak tak jenuh
ganda jarang menjadi perhatian dalam penyusunan ransum, padahal zat ini sangat
mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Krm

Alltech Indonesia Dealer Meeting & Training 2008

24 January, 2008 Uncategorized No comments

www.poultryindonesia.com. Pada tanggal 16 – 18 Januari 2008, untuk pertama kalinya Alltech Indonesia menyelenggarakan Dealer Meeting & Training, mengambil tempat di Hotel Ibis, Slipi, Jakarta. Acara ini diikuti oleh dealer-dealer Alltech dari berbagai daerah. Beberapa diantaranya, yaitu : Hi-Tech, yang menangani poultry dan swine untuk wilayah Medan dan Sumatera Utara dan Barat; CV. Fenanza Putra yang menangani poultry, swine, ruminansia dan aquakultur di wilayah Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah (Solo) dan Jawa Timur (Blitar dan Kediri); UD. Bagelen Jaya untuk aquakultur di Blitar, Malang dan Pati, Jawa Timur; UD. Muncul Jaya untuk aquakultur di Banyuwangi, Sidoarjo dan Porbolinggo, Jawa Timur.
Dalam sambutannya, drh. Isra’ Noor selaku GM Alltech Indonesia, menjelaskan bahwa acara tersebut diselenggarakan guna membina kerjasama yang lebih baik dan lebih erat dengan para dealer. Selain itu,  juga sebagai sarana diskusi mengenai produk-produk Alltech, support yang dapat diberikan oleh Alltech, serta bagaimana langkah Alltech bersama para dealer mengembangkan market di Indonesia. Acara diakhiri dengan kunjungan ke warehouse Alltech untuk mengetahui proses penerimaan dan pengiriman barang kepada pelanggan dan bagaimana cara terbaik untuk menangani produk Alltech di warehouse. kromo

Ketahanan Pangan Target dan Realisasinya

www.poultryindonesia.com. INDONESIA harus menuju swasembada pangan. Tidak perlu impor pangan dari negara lain. Untuk itu mari kita lakukan langkah nyata untuk memenuhi standar sebagai negara yang memiliki ketahanan pangan yang baik. Penegasan di atas disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada puncak peringatan Hari Pangan Sedunia dan pembukaan Indonesian Food Expo 2007 yang berlangsung di Bandar Lampung, 5 Desember lalu. Negara yang memiliki ketahanan pangan yang baik, menurut Presiden, apabila pangan cukup tersedia, rakyat bisa membeli, harga terjangkau, dan tidak harus tergantung kepada sumber pangan negara lain. Berdasarkan kriteria tersebut menjadilah jelas bahwa Indonesia — saat ini — belum termasuk negara yang memiliki ketahanan pangan yang baik. Hal itu dapat dilacak dari kenyataan, pertama: masih besarnya ketergantungan kita terhadap sumber pangan dari negara lain, dan kedua : tingkat ketersediaannya yang belum mencukupi membuat harga pangan sangat mahal, — untuk tidak terjangkau oleh berpuluh juta penduduk miskin berdaya beli rendah.
Lebih jauh, potret buram sebagai negara yang belum memiliki ketahanan pangan yang baik ini tercermin dari sering munculnya kasus-kasus kekurangan pangan dan gizi buruk yang melanda negeri ini, untuk berlanjut dengan kekhawatiran akan gagalnya pembangunan sumberdaya manusia (SDM) Indonesia yang berkualitas di masa depan. Memberikan gambaran dalam angka, apabila pada 2005 penderita gizi buruk tercatat 1,8 juta jiwa maka pada 2006 jumlah tersebut naik menjadi 2,3 juta. Sementara dalam kasus kerawanan pangan statistik mencatat dari seluruhnya 265 kabupaten/kota 100 di antaranya (37,8 persen) masuk kategori rawan pangan. Dalam ‘bahasa’ Kepala Badan Ketahanan Pangan – Deptan, Kaman Nainggolan, “Kelaparan, busung lapar atau gizi buruk di sini masih jauh dari selesai.”
Nah, dihadapkan kenyataan yang demikian menjadi pada tempatnya bila kita semua, lebih-lebih Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, tergugah dan bertekad melakukan upaya-upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan. Langkah ke arah itu menjadi lebih mendesak lagi ditempuh, mengingat ketergantungan Indonesia terhadap sumber pangan dari negara lain sudah meliputi berbagai komoditas hasil pertanian. Tidak hanya beras yang setiap tahun masih harus diimpor, kedelai, jagung, gula dan gandum juga tak putus-putus dibeli dari negeri luar untuk memenuhi kebutuhan konsumsi penduduk republik ini. Cukupkah semua catatan di atas itu? Ternyata belum. Masih ada komoditas susu dan produk turunannya yang impornya terus meningkat. Di belakangnya menyusul komoditas daging (sapi) yang kebutuhannya belum kunjung dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Untuk tidak memandang enteng tantangan yang kita hadapi dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan tersebut, angka-angka impor komoditas pangan berikut kiranya dapat dijadikan rujukan langkah-langkah apa harus ditempuh, — tidak hanya programnya tapi lebih-lebih pelaksanaannya. Impor beras sebagai komoditas pangan strategis rata-rata 2 juta ton/tahun, impor gula 1,6 juta ton/tahun, impor jagung 1,5 juta ton/tahun, impor kedelai 1,2 juta ton/tahun, impor gandum 4,5 juta ton/tahun, impor sapi 400.000 ekor/tahun, impor daging beku 30.000 ton/tahun, sementara impor susu dan produk turunannya mencapai 70 persen dari total kebutuhannya. Dari catatan di atas tampak, selain dari komoditas tanaman pangan ketergantungan yang tinggi juga terjadi pada komoditas peternakan yang untuk komoditas daging sapi impornya mencapai 35 persen dari total kebutuhan, sedang untuk komoditas susu impornya mencapai 70 persen dari total kebutuhan.
Dengan tantangan seperti tergambar dalam angka-angka impor komoditas pangan di atas, segera tampak bahwa seruan Presiden SBY untuk mewujudkan swasembada pangan bukanlah pekerjaan ringan. Lebih-lebih bukan urusan yang langsung selesai setelah disuarakan di mimbar, diperbincangkan dalam forum seminar, bahkan tidak juga setelah dirumuskan dalam program yang runtut dan rinci. Ini perlu ditekankan karena pengalaman mencatat, selama ini kita rajin menyusun program dan menetapkan target yang ingin dicapai, tapi segera lupa untuk merealisasikannya. Sebagai contoh, kebijakan Revitalisasi Pertanian yang dicanangkan Juni 2005 lalu, menetapkan target swasembada gula tercapai tahun 2008, swasembada daging 2010 dan swasembada kedelai 2015. Apa yang kita lihat di lapangan? Tahun 2008 sudah datang, tapi gula masih juga diimpor. Tahun 2010 juga tinggal dua langkah lagi di depan kita, tapi angka impor daging beku dan sapi bakalan masih tinggi. Jangan lagi komoditas kedelai, yang saat ini impornya mencapai 64,8 persen dari total kebutuhan.
Maka tak ayal lengan baju harus segera disingsingkan karena mewujudkan ketahanan pangan merupakan kerja besar, yang selain menyangkut banyak bidang kegiatan juga mensyaratkan keterlibatan banyak pihak. Terkait dengan bidang kegiatan, di sana ada penyelamatan lahan pertanian dari alihguna (konversi) untuk kepentingan non pertanian. Menyusul itu perbaikan infrastruktur (irigasi, sarana transportasi, dll). Dua hal di atas tak bisa diabaikan mengingat setiap tahunnya 145.000 hektare lahan pertanian hilang akibat konversi, sementara infrastruktur di sektor ini nyaris tak terurus, — kendati pernah dijanjikan anggaran untuk infrastruktur pertanian akan naik 50 persen. Dalam pada itu keterlibatan banyak pihak juga disyaratkan, untuk menjadikan kerja besar mewujudkan ketahanan pangan sebagai program bersama. Jangan lagi terjadi satu pihak bersemangat menggenjot produksi, pihak lain maunya impor terus.
Nah, pasti masih banyak lagi langkah harus ditempuh ke arah terwujudnya swasembada dan lebih jauh lagi ketahanan pangan. Tapi yang menjadi inti kiranya adalah keberpihakan pemerintah kepada sektor pertanian, yang dalam praktiknya tercermin pada kebijakan yang pro petani, — bermuara pada meningkatnya produksi hasil-hasil pertanian sekaligus meningkatnya kesejahteraan petani. Dengan menempuh langkah ini tidak disangsikan subsektor peternakan akan ikut terangkat naik, karena dari sana banyak sarana produksi peternakan — khususnya bahan baku pakan — akan tercukupi dari produksi di dalam negeri.
Maka, kata kuncinya adalah kebijakan pembangunan yang pro petani!