Siaga Menangkal Bencana

Poultryindonesia.com, <?xml:namespace prefix = st1 ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags” />INDONESIA kembali harus berduka! Lagi dan lagi. Kali ini bencana datang dari gempa tektonik berkekuatan 5,9 pada Skala Richter, yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan sejumlah kota di Jawa Tengah, pagi 27 Mei lalu. Ini musibah besar, bukan hanya sangat mengejutkan karena kejadiannya yang tanpa isyarat sebelumnya, tetapi lebih-lebih disebabkan oleh jatuhnya ribuan korban jiwa dan musnahnya harta benda yang tak terbilang nilainya.

Kita semua berduka. Menundukkan kepala untuk 5.857 saudara-saudara kita yang meninggal dunia, menyampaikan simpati kepada lebih 18.000 penduduk yang luka-luka, dan ikut prihatin atas hancurnya sekitar 400.000 rumah untuk membuat masyarakat korban bencana ini lebih menderita.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Tetapi duka dan simpati kiranya belum berhenti hingga di sini. Juga tidak sebatas bencana gempa sebagai sumber musababnya. Sebab, sebagaimana masih terjadi hari-hari ini, bencana dan musibah terus berdatangan silih berganti — bahkan acap berbarengan — dan berlangsung di seantero Tanah Air dengan ragam dan intensitas berbeda-beda. Masih di wilayah DI Yogyakarta dan sekitarnya, misalnya, selain terus berkutat mengatasi dampak gempa dahsyat yang cukup melumpuhkan, masyarakat juga dihadapkan ancaman Gunung Merapi yang minggu-minggu terakhir ini giat memuntahkan awan panas serta lahar dan bebatuan yang sangat membahayakan. Sementara di Porong-Sidoarjo, Jawa Timur, masyarakat dihadapkan luapan lumpur panas dan gas beracun yang muncul dari eksplorasi gas PT Lapindo Brantas. Telah berlangsung berminggu-minggu dan belum berhasil diatasi, jelas bencana ini akan menjadi beban tambahan bagi masyarakat yang kesehariannya sudah sarat dengan berbagai persoalan.

Melengkapi musibah yang bersumber dari gempa, erupsi Gunung Merapi dan banjir lumpur panas, di kawasan timur Tanah Air khususnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), kita mendapati saudara-saudara kita yang tengah menyandang kesusahan menyusul gagal panen tanaman pangan yang mengakibatkan terjadinya rawan pangan. Di Kabupaten Sikka – NTT, umpamanya, 64.000 warga dari wilayah berpenduduk 270.000 jiwa itu hari-hari ini dihadapkan kepada ancaman kelaparan. Seperti diberitakan pers, warga di <?xml:namespace prefix = st1 ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags” />sana terpaksa makan putak, yakni tepung olahan dari isi batang gewang (enau), karena mereka tak mampu membeli beras menyusul gagal panen kakao yang mereka budidayakan. Masih di Provinsi NTT, ancaman rawan pangan juga dihadapi warga di kabupaten-kabupaten Lembata, Alor dan Timor Tengah Selatan, — semuanya disebabkan tanaman pangan yang mereka budidayakan (jagung dan ubi) gagal dipanen akibat hujan dan badai yang melanda kawasan ini.

Di sektor pertanian, gagal panen yang berkolerasi dengan menurunnya tingkat produksi seringkali memang dipicu oleh kondisi alam yang suatu saat muncul sebagai bencana, — banjir misalnya, atau sebaliknya kekeringan. Namun tak jarang penurunan produksi juga bersumber pada perencanaan yang tidak matang, program bagus tapi gagal diimplementasikan, atau buruknya infrastruktur. Pendek kata, pembangunan pertanian yang kurang dikelola secara semestinya. Di Indonesia, yang terakhir itulah justru yang kerap muncul sebagai faktor kendala. Menunjuk contoh paling aktual, berulangnya dilakukan importasi jagung dalam jumlah besar belakangan ini, menyusul tak tercukupinya sediaan jagung lokal untuk memasok pabrik pakan ternak. Seperti kita tahu, sejak bulan Mei lalu jagung menghilang dan kalau pun diperoleh harganya sudah melambung mencapai Rp. 2.000,-/kg — satu tingkat harga yang akan mendorong melonjaknya biaya produksi usaha perunggasan.

Dari sisi ‘prestasi’, melonjaknya kembali impor jagung jelas merupakan kemunduran. Bukan saja karena sepanjang tahun 2004-2005 impor jagung hanya mencapai 300.000 – 400.000 ton dibanding tahun-tahun sebelumnya yang mencapai 1 – 1,5 juta ton/tahun, tetapi juga menjadi isyarat akan sulit diwujudkannya swasembada jagung pada tahun 2007,  sebagaimana pemerintah mencanangkannya dengan penuh keyakinan. ‘Prestasi’ yang jelas tidak menggembirakan ini, selain faktor alam tak pelak juga bersumber pada kegagalan mengimplementasikan program yang sudah disusun sangat bagus, — terkait dengan upaya mewujudkan swasembada jagung tersebut. Demikian maka, tantangannya ke depan adalah menindaklanjuti program yang sudah tersusun bagus dengan mengimplementasikannya di lapangan. Sebab, sebaik apa pun program yang berhasil dirumuskan tidak ada manfaatnya kalau tidak dilaksanakan.

Hal mendasar yang kita catat di atas kiranya harus dikatakan terjadi juga dalam langkah yang kita tempuh menanggulangi flu burung. Diakui berbagai pihak, strategi pemerintah dalam merespons masalah flu burung sudah cukup baik, tetapi implementasinya sangat lemah sehingga hasilnya pun tidak optimal. Dalam ungkapan Ketua Satgas penanggulangan Flu Burung Deptan Dr Delima H. Azahari, “Setiap hari ada rapat tapi implementasi dan efektivitasnya belum terasa.” Maka di sini  pun tantangannya tidak berbeda: selain strategi,  yang sangat dinanti adalah pelaksanaan dan hasilnya. Itu artinya, faktor-faktor yang menjadi penghambat penanggulangan flu burung harus secepatnya disingkirkan, termasuk dan utamanya penghambat yang berupa keterbatasan pembiayaan, — selain tetap menempatkan surveilans dan kontrol terhadap kesehatan hewan sebagai prioritas. Ini mendesak ditangani, guna menangkis tudingan Indonesia kurang serius menangani flu burung. Jika tidak, tak mustahil Indonesia akan dikucilkan dari pergaulan internasional dengan berbagai dampaknya, — termasuk pembatasan terhadap produk ekspor Indonesia.

Kiranya menjadi nyata bahwa bencana yang kita hadapi sangatlah kompleks sifatnya. Tidak terbatas bersumber pada amarah alam, ia juga muncul sebagai akibat perilaku kita, — terutama perilaku dalam melaksanakan pembangunan untuk mewujudkan kesejahteraan bersama. Tak cukup itu, juga diperlukan keteguhan untuk membela kepentingan bersama, keberanian untuk menegakkan kemandirian, dan selalu waspada untuk tak terjebak prangkap isu globalisasi yang menyesatkan. Apa di antaranya ? Masuknya Chicken Leg Quarter (CLQ) ke Indonesia. Tak boleh terjadi, karena itu juga bencana!

Open Recruitment ADHPI

24 June, 2006 Uncategorized No comments

Poultryindonesia.com. Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (Indonesian Poultry Veterinarian Association) merupakan organisasi Dokter Hewan yang berbentuk forum komunikasi, koordinasi dan konsultasi serta bersifat profesional bagi seluruh Dokter Hewan yang mempunyai komitmen kuat terhadap dunia perunggasan

Mengajak anda untuk bergabung dalam organisasi profesi Dokter Hewan yang profesional guna mendukung dan mengembangkan industri perunggasan  yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

 

Persyaratan anggota :

1.      Dokter hewan

2.      Mengisi biodata dan surat pernyataan kesediaan menjadi anggota ADHPI

3.      Membayar iuran anggota sebesar Rp. 10.000,- / bulan dengan pembayaran 1 tahun sekali ke rekening bendahara a.n. Drh. Maryono, BCA Jogjakarta Cabang Pingit No. Rek. 060 0320611

4.      Sanggup mematuhi segala tata aturan keanggotaan yang tertuang dalam AD/ART ADHPI

 

Informasi lebih lanjut silahkan menghubungi :

Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI)

Sekretariat : Jl. Stadion Baru No. 24 Tajem. Yogyakarta 55584

Telp. 0274-884545 Fax. 0274-887272 E-mail : adhpi@yahoo.com

Mengatasi Berak Darah

Poultryindonesia.comPenyakit yang disebabkan protozoa ini makin mudah berjangkit ketika kandungan air pada litter melebihi 30%.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Koksiodiosis atau di <?xml:namespace prefix = st1 ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags” />Indonesia lebih dikenal sebagai penyakit berak darah dapat ditemukan di hampir seluruh lokasi peternakan dunia. Walaupun secara umum penyakit ini dapat diatasi, namun biaya untuk menanggulanginya termasuk yang termahal dalam sebuah industri perungasan. Bahkan dalam suatu riset disebutkan, biaya pengobatan dan pemberian aditif pakan anti-koksidiosis tidak kurang dari US $ 300 juta per tahun untuk seluruh wilayah penghasil unggas dunia. Harga yang teramat mahal yang harus dibayar jika peternak lalai melakukan tindakan pencegahan berak darah.

            Koksidiosis disebabkan oleh berbagai protozoa yang termasuk dalam genus Eimeria. Saat ini diketahui terdapat sembilan species Eimeria yang menyerang ternak ayam dengan enam species diantaranya bersifat pathogenik (menimbulkan penyakit) dan menyebabkan penyakit. Infeksi berawal dari tertelannya ookista yang telah mengalami sporulasi. Ookista ini dapat ditularkan secara mekanik melalui anak kandang, peralatan kandang atau litter yang tercemar.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

            Wabah berak darah menjadi makin mudah berjangkit ketika kandungan air litter melebihi 30% akibat air hujan atau kerusakan saluran air. Demikian juga dengan stres lingkungan dan kesalahan manajemen pemeliharaan seperti kepadatan kandang ayam yang berlebihan, sistem pemberian pakan yang tidak benar, dan sistem sirkulasi udara yang buruk, dapat menimbulkan munculnya kasus berak darah. Sebab lain munculnya penyakit berbahaya ini adalah pemberian obat anti-koksidiosis yang tidak optimal sesuai rekomendasi, pencampuran obat anti-koksidiosis yang tidak merata dalam pakan, atau karena faktor melemahnya kekebalan ayam akibat penyakit lain seperti Infectious Bursal Disease (IBD) atau marek.

            Enam species Eimeria tersebut jika masuk ke tubuh ayam akan menyerang berbagai bagian pencernaan ayam. Eimeria acevullina dan Eimeria mivati menyerang usus dua belas jari dan usus halus hingga menyebabkan pendarahan. Sedangkan Eimeria necatrix dan Eimeria maxima lebih suka berada di usus halus. Keduanya menyebabkan pendarahan pada mukosa serta penggelembungan pada bagian tengah usus halus. Kotoran yang terlihat bercampur darah merupakan akibat yang ditimbulkan oleh Eimeria tenella dimana species ini menyebabkan radang pada sekum dan usus buntu.

            Ayam yang menderita berak darah kelihatan lemah, megalami depresi, bulu kusut dan mengalami diare (bercampur darah) terus-terusan. Ayam yang telah terinfeksi Eimeria tenella dapat dikenali dari jenggernya yang kelihatan pucat, disamping kotorannya bercampur darah.

 

Pencegahan dan pengobatan

 

            Agar ayam terhindar dari berak darah, harus dilakukan langkah-langkah pencegahan seperti pengaturan sistem ventilasi udara yang baik, pengaturan kepadatan kandang yang sesuai dengan kapasitasnya dan penyediaan tempat pakan dan minum yang cukup. Khusus untuk pengaturan tempat air minum, sebaiknya menggunakan tempat minum nipple drinker agar tidak banyak air yang tumpah ke litter. Hal ini dapat mengurangi resiko kelembaban tinggi pada litter. Jangan lupa berikan koksidiostat (pencegah berak darah) kimiawi dan ionoforik untuk broiler dan koksidiostat sintetik untuk induk dan pullet petelur sesuai dengan petunjuk yang ada.

            Bagaimana jika berak darah sudah terlanjur berjangkit? Jangan panik. Berikan ayam yang terjangkit dengan larutan amprolium atau sulfanamida dalam air minum. Pemberian air yang dapat mensuspensi suplemen vitamin A dan K dapat pula mempercepat proses penyembuhannya.

 

PI/Hasan

Silahkan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya : www.poultryindonesia.com

Manajemen Menangani Cacat Kaki pada Broiler

Poultryindonesia.com, Cacat kaki memberi kerugian yang tidak sedikit pada usaha ternak broiler. Namun dengan manajemen pemeliharaan yang baik dapat menangani kasus ini.

Manajemen merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap ekspresi potensi genetik ternak. Pada unggas, domestikasi yang membawa terbentuknya ayam modern adalah sebagai akibat majunya pengetahuan ilmu genetik tentang heritability dan seleksi untuk tujuan ekonomi. Sukses yang dicapai dengan memperpendek masa panen telah menimbulkan masalah lain sehingga perlu diimbangi dengan manajemen yang memadai. Sebagai contoh terjadinya cacat pada kaki (leg disorder) membawa kerugian yang tidak sedikit bagi peternak broiler. Kejadian ini nampak sederhana tetapi menyebabkan frustasi bagi pemeliharaannya. Dugaan karena faktor kualitas bibit yang kurang baik dan kesalahan dalam  cahaya yang tepat, pemberian pakan terbatas, kandang litter yang baik dan ayam yang bebas dari stres akan memperkecil terjadinya cacat ini pada broiler.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

 

Pemberian cahaya

            Penelitian tentang pemberian cahaya menunjukkan bahwa intermittent lighting (pemberian lampu terang dan gelap) meningkatkan produktivitas ayam broiler dan mengurangi kejadian leg disorder. Ahli unggas dari <?xml:namespace prefix = st1 ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags” />Canada, Dr. Classen (1994( mengemukakan bahwa konversi pakan, daya hidup, pertumbuhan dan nafsu makan (appetite) yang lebih baik serta menurunnya angka kematian akibat serangan jantung, karena pemberian cahaya yang tepat. Program ini bertujuan memperlambat pertumbuhan broiler pada masa starter, kemudian diikuti dengan compensatory growth pada masa berikutnya. Intermittent lighting akan mengurangi kebutuhan energi dengan berkurangnya aktivitas harian sehingga juga mengurangi pengeluaran energi (energy expenditure). Pengamatan terhadap tingkah laku ayam ternyata konsumsi air dan pakan meningkat 50% lebih tinggi dalam waktu dua jam setelah lampu dinyalakan. Dengan demikian aktivitas makan dipengaruhi oleh cahaya.

            Dibandingkan dengan pemberian cahaya secara kontinyu, Kamyab (2000) mengemukakan bahwa intermittent lighting mengurangi kematian dan leg disorder.

 

Pembatasan pakan secara kualitatif maupun kuantitatif

            Pertumbuhan yang sangat cepat dengan ukuran tubuh yang besar berdampak negatif terhadap penyakit tulang. Kesiapan tulang kaku menanggung pertambahan bobot badan yang sangatlah kritis untuk memperoleh penampilan ayam yang prima. Kejadian penyakit tulang dapat dikurangi dengan pembatasan pakan dengan mengatur perubahan pada bobot badan. Namun menurunnya kecepatan pertumbuhan yang dapat memperkecil kejadian penyakit tulang perlu pula tetap mempertimbangkan sasaran bobot badan akhir pemeliharaan, karena keterlambatan mencapai bobot badan pada umur panen akan mengurangi manfaat manajemen ini dalam mengontrol problem pada kaki ayam.

            Dr. Colin Fisher, seorang ahli nutrisi dan sekaligus konsultan Roos Breeder, UK, mengemukakan empat cara pemberian pakan yang tepat, yakni mengontrol komposisi, mengontrol kualitas (diet dilution), mengontrol kuantitas (controlled feeding) dan mengontrol waktu pemberian pakan (feeding time). Cara ini mengurangi lemak karkas dan memperbaiki konversi pakan. Pembatasan pakan masih dilakukan dibeberapa breeding farm di United Kingdom.

            Pembatasan pakan secara kualitatif dengan memberi pakan asam amino rendah pada masa awal terbukti mengurangi beberapa masalah cacat kaki.

 

Kandang litter

            Pengujian terhadap kekuatan tulang mengungkapkan bahwa kandang yang tidak nyaman, terutama kandang yang tidak memberikan keleluasaan pada ayam (terkurung), berpengaruh pada kekuatan tulang humerus dan tibia. Perbedaan inil berkaitan dengan tingkat aktivitas maupun exercise. Teknik manajemen yang mendorong ayam lebih aktif merupakan cara yang sangat potensial untuk menurunkan leg disorder. Kandang litter dapat berfungsi sebagai proteksi terhadap lantai yang dingin dan menyerap kelembaban. Akan tetapi litter yang lembab akan mempercepat produksi mikroba dan amonia yang akan mengganggu kesehatan ayam.

            Kelembaban litter dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain type litter, temperatur udara, kelembaban relatif dan ventilasi. Perpaduan faktor-faktor ini mendorong terjadinya kondisi litter yang kurang menguntungkan bagi ayam dan akan mempengaruhi dermatitis pada telapak kaki. Jenis maupunkomposisi pakan dapat mempengaruhi kelembaban litter dan mungkin mengandung bahan-bahan yang mudah menempel pada kaki, akibatnya kejadian dermatitis akan meningkat pula.

 

Stress

            Penelitian oleh McFarlene dkk (1989), menunjukkan adanya hubungan linifser antara jumlah penyebab stress dengan pertumbuhan broiler dan efisiensi pakan. Pertumbuhan dan perkembangan tulang yang terganggu karena stress disebabkan oleh gangguan hormon. Hormon yang dihasilkan kaitannya dengan respon terhadap stress yang tidak spesifik akan mempengaruhi metabolisme tulang dan berpengaruh negatif terhadap kejadian leg disorder.

            Kejadian bengkok pada kaki sering dihubungkan dengan kepadatan kandang. Kepadatan kandang yang tinggi akan meningkatkan litter dan ini berpengaruh tidak langsung terhadap gaya berjalan ayam.

            Walaupun pengaruh leg disorder ini kurang dianggap penting dengan mempertimbangkan bahwa kaki merupakan bagian karkas yang sangat murah, akan tetapi akibat leg disorder yang hebat menghambat kemampuan ayam untuk mencapai tempat pakan. Kematian merupakan akhir dari penderitaan ayam yang mengalami cacat kaki. Di negara maju, leg disorder sangat menjadi perhatian karena menyangkut animal welfare.      

 

PI/Hasan

Silahkan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya : www.poultryindonesia.com

Problem Bahan Baku

6 June, 2006 Uncategorized No comments


Poultryindonesia.com, Membuat pakan sendiri atau membeli pakan jadi dari pabrik adalah sebuah pilihan bagi peternak ayam ras petelur. Pilihan itu sangat tergantung sejumlah faktor, dan faktor yang paling menentukan adalah bahan <?xml:namespace prefix = st1 ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags” />baku pakan<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

 

Ketersediaan bahan <?xml:namespace prefix = st1 ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags” />baku pakan ternak di tanah air yang gemah ripah loh jinawi ini ternyata sangat beragam. Daerah tertentu menghasilkan jagung, daerah lain melimpah pertanian padinya sehingga dedak padi pun tersedia cukup banyak. Demikian pula hasil tangkapan laut yang juga menyisakan untuk memenuhi kebutuhan ternak meskipun – sekali lagi – tidak merata pada semua wilayah. Maka pilihan membuat pakan sendiri yang dilakukan oleh peternak ayam ras petelur tidak seragam pula adanya.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Sementara peternak ada yang membuat pakan sendiri sejak dari pengadaan bahan baku pakan, menganalisakan kandungan nutrien bahan baku, lalu meracik formula, kemudian mengaduk rata menjadi pakan ternak. Tapi ada pula peternak yang membeli pakan ‘setengah jadi’ yang kerap disebut konsentrat, lalu peternak tinggal mencampurnya dengan jagung dan dedak.

Upaya membuat pakan sendiri meskipun tidak harus berinvestasi mesin-mesin penggiling atau pencampur, juga bisa dilakukan oleh peternak berskala besar yang mempunyai posisi tawar kuat. Posisi tawar yang kuat tersebut digunakan peternak dengan memesan pakan spesial dengan volume, kualitas dan harga yang spesial.

Ketiga pilihan di atas, pada beberapa bulan terakhir ini, kabarnya agak terganggu akibat pasok jagung yang sangat kurang dan harganya pun melambung.  Peternak berbondong-bondong membeli pakan jadi, pabrik pakan juga butuh jagung, dan pasoknya belum tentu cukup, maka harga pakan ternak per Mei 2006 naik.

Mengapa jagung sangat penting? Sudah menjadi pengetahuan umum di dunia peternakan unggas, bahwa bahan baku pakan tidak dicampur sama rata dalam proses pembuatan pakan. Jagung digunakan dengan porsi paling banyak, yaitu 40 – 50%, dedak padi 20 – 30%, bungkil kedelai 10 – 15%, dan sisanya bahan-bahan lain dengan porsi yang sangat sedikit. Oleh sebab itu, jagung disebut sebagai bahan baku utama.

Berbeda dengan peternakan ayam ras petelur, peternak ayam ras pedaging – sepertinya — tidak punya pilihan untuk membuat pakan sendiri. Ia harus membeli pakan jadi yang dibuat oleh pabrik, dengan bentuk dan kecernaan, yang menuntut keterlibatan teknologi canggih.

Ayam ras pedaging yang bongsor itu memang bak bayi ajaib, umur 35 hari sudah mencapai bobot 2 kilogram dan siap dipotong dengan cita-rasa daging ayam dewasa. Sementara ayam ras petelur yang menjalani hidup dengan siklus hidup ‘normal’ membutuhkan pakan yang tidak ‘rewel-rewel amat’, sehingga peternak bisa membuat pakan sendiri.  Tapi bila peternak broiler mempunyai populasi yang banyak, berkelompok atau mempunyai pangsa pasar yang menjanjikan (pabrik pakan), ia pun bisa memesan untuk dibuatkan pakan sendiri dengan kualitas dan harga yang spesial – tentunya.

Jadi peternak yang memiliki keleluasan membuat pakan sendiri tampaknya hanyalah peternak petelur. Membuat pakan sendiri, membeli konsentrat, atau membeli pakan jadi, bisa ditempuh berdasarkan pertimbangan dan kondisi masing-masing peternak.

Tentang kelangkaan jagung, memang ada beberapa versi yang menjelaskan kondisi ini. Fakta bahwa impor jagung untuk pakan ternak pada 2005 turun dari tahun sebelumnya membahagiakan semua pihak. Betapa tidak, pada 2004 impor jagung kita tercatat 1.080.000 ton, sementara ekspornya 32.000 ton. Lalu pada 2005 impor turun menjadi 400.000 ton, dan ekspornya naik menjadi 60.000 ton. Sementara, total produksi jagung Indonesia (2005) menurut catatan USDA sebanyak 7,5 juta ton, dengan pemakaian benih jagung hybrida sekitar 19%.

Betapapun adanya, penurunan impor jagung pada 2005 disambut gembira semua pihak, produksi jagung di dalam negeri ‘diartikan’ meningkat. Namun dalam  tri wulan pertama 2006, stok jagung di lapangan maupun di gudang mulai menipis. Bahkan dalam bulan-bulan itu sejumlah perusahaan pakan besar di negeri ini mencari-cari jagung di lapangan untuk diborong. “Entah mengapa, apa pabrik-pabrik pakan salah prediksi dalam memperkirakan stok, sehingga terjadi seperti ini?” ujar seorang peternak ayam petelur yang masih mencampur pakan sendiri, dan untuk kebutuhannya ia mengaku tidak kesulitan memperoleh jagung, namun harganya tentu mengikuti pasar.

Sementara narasumber dari pabrik pakan ternak mengatakan, banjir dan sejumlah bencana longsor di tanah air tampaknya menjadi faktor turunnya produksi hasil pertanian, termasuk jagung. Bahkan ada yang mengatakan, turunnya produksi jagung ada kaitannya dengan kelangkaan pasokan pupuk dewasa ini. Untuk mengatasi hal tersebut, dalam  bulan Juni diperkirakan masuk jagung dari USA dan Argentina. Dan selama 2006 diperkirakan jagung yang diimpor sebanyak 700.000 – 800.000 ton.

Akankah ini menurunkan harga jagung dan nantinya menurunkan harga pakan ternak? 

 

Ulasan selengkapnya dapat anda simak di Majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2006. Selamat membaca…