Poultry Indonesia Edisi Cetak Maret 2006

3 May, 2006 Uncategorized No comments

<?xml:namespace prefix = st1 ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags” />Poultryindonesia.com, Indonesia dinilai gagal dalam menanggulangi flu burung. Tudingan Alex Thierman, pakar dari Organisasi Kesehatan Unggas Dunia (WOAH), ini didasarkan pada pesatnya perkembangan kasus flu burung di Indonesia, baik pada unggas maupun manusia. Ini, kata Alex, menunjukkan mekanisme penanggulangan penyakit itu tidak berjalan sebagaimana mestinya.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Menanggapi tudingan tersebut Menteri Pertanian Anton Apriyantono kontan menangkisnya sebagai penilaian yang berlebihan. “Mereka hanya menilai dari permukaan, tetapi tidak melihat usaha yang kita lakukan,” katanya. Tidak hanya Menteri Pertanian, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari juga membantah anggapan upaya pemerintah dalam menangani kasus flu burung belum optimal. “Tidak ada sesuatu yang salah dalam penanganan pasien flu burung,” ujarnya.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Itu dia ! Tidak memanfaatkan penilaian dari luar sebagai masukan untuk mendorong dilakukannya evaluasi, kita justru buru-buru bereaksi menolaknya. Nah, tapi bagaimana persisnya upaya-upaya yang sudah dilakukan serta kenyataan hasilnya di lapangan terkait dengan flu burung ini ? Pasti dan jelas pemerintah sudah melakukan berbagai tindakan untuk menanggulangi penyebaran penyakit flu burung ini. Hanya saja, bahwa hasilnya memang belum optimal, itu dapat dilihat dari masih munculnya kasus flu burung di sejumlah tempat, mengindikasikan perlunya penyempurnaan dalam kita menangani penyakit yang berbahaya ini. Termasuk ke depan mendorong kesiagaan masyarakat menghadapi pandemi influenza unggas ini.

Menunjuk upaya penyempurnaan yang perlu dilakukan, melalui rubrik Opini Ir Hadiyanto mengingatkan, selain tindakan preventif dan pendekatan teknis ada lagi sejumlah tindakan strategis yang harus ditempuh, yang salah satunya adalah program yang dikenal dengan istilah Komunikasi, Informasi, Edukasi (KIE) Flu Burung. Inti program KIE Flu Burung adalah menggiatkan komunikasi, informasi dan pembelajaran kepada masyarakat seputar penyakit flu burung, dengan menunjukkan dan mendorong mereka peduli akan kesehatan diri dan lingkungan.

Selain melalui rubrik Opini, topik flu burung juga kita angkat dalam rubrik Nasional, di bawah judul “Anti Sitokin: Melawan Flu Burung pada Hewan dan Manusia.” Nah, tapi mari kita tidak lalai untuk hanya melihat flu burung sebagai satu-satunya penyakit yang mengancam kelangsungan industri perunggasan kita. Sebab, dalam kenyataannya di lapangan para peternak juga masih diharu-biru berbagai problem kesehatan unggas yang semakin kompleks. Salah satu problem kesehatan unggas tersebut adalah masih terjadinya kasus-kasus penyakit yang digolongkan sebagai ‘penyakit unggas klasik’. Lalu, apa saja penyakit unggas klasik itu? Melalui rubrik Laporan Utama, Pembaca diajak melacak dan mengetahui penyebaran kelompok penyakit ini serta seberapa jauh kadar penyerangannya di lapangan.

Pembaca, demikian beberapa pokok isi yang kita sajikan dalam edisi Mei ini. Selamat membaca, salam!

Kekerdilan Broiler dan Kemungkinannya

Poultryindonesia.com, Seringkali didapati peternak mengeluh karena dalam satu flok ayam peliharaannya terdapat berbagai ukuran bobot badan ayam, sebagian besar tubuhnya besar-besar dan sebagian lagi kerdil. Kerdil pada ayam memiliki pengertian yang mudah, ayam tumbuh kecil dan jauh tertinggal dari kawan sekandangnya walaupun diberi ransum dalam jumlah dan kualitas yang sama. Tetapi permasalahannya tidak sesederhana itu. Peternak harus menyingkirkannya karena secara ekonomis merugikan, menghabiskan pakan. Rekomendasi yang diajukan peternak harus “meng-culling”, walaupun DOC-nya juga diperoleh dari pembelian.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Bagaimana dengan “kerdil semu”?. Keith J. Rosario (1999), seorang tenaga ahli disuatu breeding farm di India mengungkapkan bahwa dalam skala pemeliharaan 1000 ekor broiler, pada waktu panen 80% diantaranya akan diperoleh berat badan sebesar 1,8 kg, sedangkan 20% lagi hanya berkisar 1,4 kg. Sebanyak 20% ayam ini tidak mencapai bobot utuh sebagaimana diharapkan. Peternakan akan kehilangan bobot panen sebesar 80kg dari bobot tubuh yang semestinya bias dikonversi kedalam bentuk uang.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Kondisi normal yang diharapkan-harapkan oleh peternak dalam suatu flok pemeliharaan broiler terjadi komposisi 75% jantan dan 25% betina. Sebanyak 78% dari broiler betina bobot tubuhnya akan 10% dibawah bobot tubuh broiler jantan. Beberapa faktor penting yang menyebabkan terjadinya deformitas pada broiler sering dijumpai di peternak adalah :

1.       Perbedaan jantan dan betina. Secara alami broiler jantan akan memiliki bobot badan 150-200 gram lebih tinggi dibandingkan broiler betina pada umur 6-7 minggu. Pada saat panen perbedaan bobot ini tentunya dapat dikonversi nilai rupiahnya dengan memperhatikan jumlah peliharaan dan harga per kg bobot hidup broiler. Cara efektif untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan melakukan pemisahan sedini mungkin, sehingga dapat menghemat pakan dan kepadatan kandang.

2.       Perbedaan berat DOC saat diterima. Kondisi ini disebabkan karena DOC berasal dari induk yang berbeda flok dan umur sehingga menghsilkan perbedaan berat DOC.

3.       Dehidrasi awal. Untuk dapat sampai ke peternak, tidak jarang DOC mengalami perjalana yang panjang karena jauhnya jarak yang ditempuh antara breeder dengan kandang peternak, belum lagi ditambah kondisi cuaca yang panas dan harus berganti-ganti sarana transportasi. Keadaan ini mengakibatkan dehidrasi  akibat kehilangan cairan tubuh secara signifikan. Untuk mengatasi permasalahan ini, peternak harus memberikan cairan elektrolit berupa larutan gula sebagai pengganti cairan tubuh.

4.       Temperatur brooder. Panas dari brooder diperlukan DOC untuk menghangatkan tubuhnya karena belum tumbuh bulu. Pada minggu pertama panas yang diperlukan oleh DOC adalah sebesar 95 0F. Temperatur ini diturunkan 5 0F setiap minggunya hingga sampai minggu ketiga.

5.       Ventilasi yang kurang. Pada periode anak ayam berada pada brooder, kadar CO2 dan amonia secara perlahan terakumulasi didalam brooder. Untuk mencegah akumulasi CO2 dan amonia yang semakin banyak, perlu memperbaiki ventilasi pada sisi dinding bagian atas agar sirkulasi udara menjadi baik.

6.       Kualitas pakan. Pakan yang baik memiliki komposisi nutrisi yang seimbang, pencampuran yang baik dan jika dalam bentuk butiran (pellet) harus lebih banyak terlihat pellet yang utuh.

7.       Overcrowding. Memperhatikan kapasitas kandang adalah tindakan pencegahan terhadap penyebaran bibit penyakit. Karena kandang yang terlalu sesak mengakibatkan stres. Stres merupakan gerbang awal dari segala penyakit, karena saat stres daya tahan tubuh ternak menurun.

8.       Penyakit. Penyakit dapat menghambat pertumbuhan. Karena kemampuan absorbsi nutrisi untuk pertumbuhan dialihkan untuk melawan penyakit. Karena itu biosekuriti dan nutrisi perlu diperhatikan.

 

PI/Hasan

Silahkan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya : www.poultryindonesia.com

Perusahaan Produsen dan Distributor Obat Hewan

28 April, 2006 Uncategorized No comments

Poultryindonesia.com, Sebuah perusahaan Produsen dan Distributor obat hewan yang sedang  berkembang membutuhkan segera :

   1 orang SUPERVISOR<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

   3 orang TECHNICAL SALES REPRESENTATIVE

Syarat :

   Pendidikan Kedokteran Hewan/Sarjana Peternakan

   Pengalaman kerja minimal 2 tahun di bidang pemasaran obat hewan

   Usia maximum 35 tahun

   Diutamakan wanita

  Untuk ditempatkan di wilayah: Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur

 

Kirimkan lamaran dan CV ke alamat :

<?xml:namespace prefix = st1 ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags” />PO BOX No. 141 / Pog 17400

Lamaran diterima paling lambat tanggal 25 Mei 2006

Kelit di Saat Sulit

28 April, 2006 Uncategorized No comments

Poultryindonesia.com. Betapa sulit beternak unggas sekarang ini. Ya, benar, bahkan semakin bertambah sulit. Kalau lebih diperinci lagi, kesulitan di bidang usaha peternakan unggas tentu sangat beragam, dan satu sama lain saling kait-mengait. Yang pertama,  jelas melambungnya ongkos produksi. Kenaikan harga bahan bakar minyak memicu kenaikan biaya-biaya lain yang berhubungan dengan suplai energi dan tenaga kerja. <?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Kedua adalah rendahnya konsumsi masyarakat terhadap hasil peternakan ayam. Ini akibat melemahnya daya beli masyarakat karena memang semakin sulitnya perekonomian di Tanah Air. Sementara, di kalangan masyarakat mampu, informasi yang tidak tuntas seputar flu burung menyebabkan rendahnya konsumsi hasil unggas pula.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Kesulitan ketiga adalah imbas kebijakan pemerintah pusat maupun daerah akibat merebaknya kasus flu burung pada manusia. Atas nama kepentingan nyawa manusia,  lahirlah beragam keputusan, instruksi atau apalah namanya yang dengan gagah berani bertujuan ‘menjauhkan’ unggas dari lingkungan tinggal manusia. Sayang, kebijakan seperti itu  turun dengan sangat gegabah dan sembrono, sehingga membuat cemas para peternak maupun pengusaha peternakan. Contoh paling populer adalah ‘program’ penumpasan seluruh unggas dalam radius satu kilometer dari unggas yang ditemukan terjangkit virus flu burung. 

Bagaimana ini tidak mencemaskan? Bila ia telah menjaga kondisi peternakan dengan baik, tapi ada ayam kampung atau burung peliharaan orang lain yang positif kena flu burung, dan lokasinya dalam radius satu kilo meter, bagaimana nasib usaha peternakannya? Sementara uang ganti rugi belum jelas juntrungannya. Konsep aturan yang belum jelas seperti ini tapi telanjur tersebar luas, akhirnya hanya membuat kepanikan dan akal-akalan belaka. Ingat, saat razia unggas di DKI Jakarta tempo hari, banyak burung-burung peliharaan yang diungsikan di vila-vila Kawasan Puncak.

Kesulitan berikutnya yang tak kalah kronis-nya di dunia agribisnis ayam ras adalah semakin sulitnya dicapai efisiensi dalam teknis berbudidaya. Pengertian efisiensi di sini bukan memproduksi sesuatu secara maksimal dengan biaya semurah-murahnya, akan tetapi memaksimalkan potensi (ayam) dengan jumlah yang tidak harus banyak namun dicapai hasil yang maksimal. Bukankah secara genetis ayam-ayam ras pedaging maupun petelur dewasa ini telah dikondisikan berkembang pesat untuk meningkatkan produksi?  Ya, tapi mengapa gejala umum dalam peternakan ayam ras dewasa ini, kerap terjadi penurunan produksi, bobot sulit dicapai, dan sebagainya?

Jawaban sementara dan masih menjadi polemik adalah : ayam-ayam sekarang ini terlalu sarat program vaksinasi.

Nah, betapa banyaknya kesulitan yang dihadapi oleh peternak ayam dewasa ini. Adakah jalan keluar – setidaknya menjadi titik terang dalam lorong gelap agribisnis perunggasan yang tampaknya kian panjang ?  Bermula dari Subang, Sukabumi, kemudian berlanjut ke Bangka dan  Palembang wartawan Poultry Indonesia  mengais informasi, mencari titik terang, adakah harapan dan sejumlah ‘kelit’ yang dilakukan pelaku bisnis   unggas di masa–masa sulit seperti sekarang ini ?

Bersyukur, masih ditemukan titik terang dari seorang Asep (H. Asep Sulaiman Sabanda),  kesabaran dan ketekunan Asen (Franciscus Supardinata), sikap antisipatif  dan kerja cerdas Like (Rusli Hadi), serta perpaduan kepedulian yang tinggi antara Pemda Muara Enim, BUMN (PT. Tambang Batubara Bukit Asam), perbankan (Bank Sumsel), dan perusahaan perunggasan  (PT. Primatama Karya Persada dan PT. Musiraya Unggasindo), untuk memberdayakan perekonomian masyarakat pedesaan dengan pola kemitraan.

Berkas-berkas cahaya inilah yang kini dihimpun oleh Poultry Indonesia untuk menjadi tulisan utama pada edisi sekarang ini. Harapannya, berkas-berkas cahaya tersebut dapat menjadi obor penerang di saat mengarungi lorong agribisnis perunggasan yang dewasa ini sedang ‘gelap’. Tentu, masih banyak peternak atau pelaku (agribisnis perunggasan) lain yang dapat menjadi penerang, sumber inspirasi bagi yang lain, dan…

Ada pesan bijak : jangan berlama-lama dalam kesulitan, karena hanya akan mengumpulkan kreativitas Anda.   

 

Selengkapnya tersaji dalam Majalah Poultry Indonesia edisi April 2006. Selamat membaca…

Mineral Bagi Ayam Modern

Poultryindonesia.com, Dahulu kasus kekurangan mineral baru dapat dipastikan bila sudah menunjukkan gejala klinis. Sayangnya, kasus kekurangan trace mineral tidak selalu menunjukkan gejala klinis.  Kekurangan mineral lebih banyak terjadi  secara sub klinis  akibat dari level trace mineral yang sub optimal.  Pada level sub optimal,  penampilan ayam  terganggu, misalnya dari pencapaian berat badan, prosentase produksi,  dan prosentase hatchability.  Kasus sub optimal trace mineral ini umumnya tidak terdeteksi , tetapi  tanpa disadari menyedot biaya yang sangat mahal.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Pada kondisi defisiensi,  gejala klinis akan nampak jelas (Narahari, 2000). Berikut diantaranya.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Aktualita Kasus di Lapangan

1.   Trend kasus  sub  optimal            trace mineral meningkat, tetapi           tidak  terdiagnosa, karena pada umumnya  tidak  menunjukkan gejala klinis maupun  perubahan organ yang patognomonis ( nyata ). Apalagi kasus yang ada di dunia peternakan saat ini lebih banyak dihubungkan dengan kasus  viral seperti AI.  Misalnya pada kasus perubahan kualitas kerabang, penurunan produksi telur, daya tetas telur dan daya hidup DOC. 

2.   Kasus defisiensi  kini lebih banyak ditemukan di lapangan.  Misalnya   kasus  ayam lambat tumbuh dengan ciri  exudative diathesis , ternyata positif mengalami defisiensi vitamin E dan Se

 

Lanjutan artikel ini dapat anda simak di Majalah Poultry Indonesia edisi April 2006. Selamat membaca…