Menentukan Waktu Afkir Layer

www.poultryindonesia.com, Culling atau pengafkiran adalah tindakan yang harus dilakukan peternak. Namun harus diperhatikan saat yang tepat untuk melakukannya.

Makin tinggi pengelolaan suatu usaha peternakan, perhitungan terhadap keselamatan modal dan produksi optimal senantiasa diutamakan. Oleh karena itu perlu dilakukan kegiatan culling atau pengafkiran terhadap ternak yang sudah tidak produktif, terserang penyakit maupun pertumbuhannya lamban.

Culling merupakan kegiatan seleksi terhadap individu ternak, sebagai langkah agar ternak yang dipelihara benar-benar baik. Artinya, normal serta sehat. Dengan demikian, harapan mendapatkan keuntungan besar dikemudian hari makin besar dan terbuka lebar.

Pada setiap keadaan peternakan ayam, culling merupakan tindakan yang harus dilakukan peternak. Tapi kenyataannya, kegiatan ini hanya dilakukan pada usaha peternakan intensif dan komersial saja. Pada pemeliharaan ayam skala keluarga, tindakan ini jarang dilakukan.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Ditinjau dari segi ekonomi, pelaksanaan culling sangat menguntungkan peternak. Sebab makanan yang diberikan pada ayam akan benar-benar dimanfaatkan dengan baik untuk pertumbuhan maupun produksi. Sebab ayam yang sudah di bawah standar, diberikan pakan yang baik sekalipun belum tentu memberikan hasil baik.

Ayam yang normal dan sehat, meskipun diberi pakan yang sedikit di bawah ketentuan akan tetap memberikan hasil yang memuaskan. Laju pertumbuhannya baik dan produksi telurnya juga tetap banyak. Dengan demikian, biaya produksi yang dikeluarkan tidak terlalu terbuang sia-sia, karena ayam memberikan hasil seperti harapan.

Sebelum melakukan culling, yang harus dipikirkan apakah ayam yang dipelihara sudah diperlakukan dengan benar dan baik. Kalau terjadi kesalahan pemeliharaan maka culling tidak banyak memberikan arti. Sebab ayam yang sehat dan normal tidak akan memberikan hasil optimal kalau pemeliharaannya salah.

Pada fase starter yang diafkir sebaiknya yang mempunyai cacat tubuh, ukuran atau bobotnya dibawah standar, tidak lincah, suka menyendiri dan kurang aktif mencari makan.

Kalau culling dilakukan pada fase grower, maka yang harus diafkir adalah ayam yang kemampuan mengonsumsi pakan rendah dan gerakannya kurang lincah.

Sedang culling pada frase produksi hanya dilakukan pada ayam yang rendah produksinya selama tiga bulan dan tampak terserang penyakit.

Culling juga bisa dilakukan dengan memperhatikan masa luruh bulu. Untuk ayam yang produktif, masa luruh bulu akan terjadi setelah berproduksi 8 bulan. Tapi untuk ayam yang kurang produktif, masa luruh bulu akan terjadi lebih awal dan biasanya sebelum mencapai 8 bulan produksi.

 

PI/Hasan

Silahkan mengutip dan atau meng-copy isi tulisan ini dengan menyebutkan sumbernya : www.poultryindonesia.com

Ciamis Antisipasi Virus Flu Burung

23 August, 2006 Uncategorized No comments

Dinas Kesehatan Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, gencarkan penyemprotan desinfektan dan vaksinasi unggas. Langkah ini untuk mengantisipasi kasus flu burung menyusul maraknya virus avian influenza di Kabupaten Garut. Menurut Kuswara Suwarman, Kepala Dinas Pertanian Kabuipaten Ciamis, ini penting karena Ciamis menjadi salah satu pemasok ayam ke berbagai daerah. Ciamis merupakan pemasok terbesar ayam ke <?xml:namespace prefix = st1 ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags” />Jakarta dan Bandung.

Berdasarkan catatan di Kantor Dinas Peternakan Ciamis, setiap harinya ada 70 truk yang membawa ayam keluar kota yang berisi sekitar 105 ribu ekor ayam.

“Adanya flu burung di Garut sangat berpengaruh bagi kelangsungan industri peternakan di Ciamis. Karena jarak Garut dengan Ciamis tidak terlampau jauh,” katanya siang tadi. Flu burung di Garut, tepatnya di Kecamatan Cikelet, telah memakan korban dua orang dan belasan lainnya sempat dirawat di sejumlah rumah sakit.
TI

News in English

11 August, 2006 Uncategorized No comments

Mathur Riady, director general of livestock for the Indonesian Agriculture Ministry, said recently that more than a million birds had died of the flu between January and March, about the same number as died all of last year.

The biggest obstacle to beating the disease, international flu experts say, is the decentralized Indonesian government. Health officials in the capital, Jakarta, have been described as having powers extending no further than their office walls, while real power resides in the governors of the 33 provinces and the elected regents, of 480 districts. <?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

AS of July 25th, the number of confirmed bird flu deaths in <?xml:namespace prefix = st1 ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags” />Indonesia to 42 since the first human case was confirmed a year ago, equal to the toll in Vietnam.

<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” /> 

The flu is ubiquitous in thousands of Indonesian backyard flocks, and appears to be killing more birds every month, increasing the likelihood of human cases.

 

A spokesman for the World Health Organization said, “Until the animal situation gets under control, there’s going to be this steady drip, drip, drip of human cases, and that’s a problem.”

Mathur Riady, director general of livestock for the Indonesian Agriculture Ministry, said recently that more than a million birds had died of the flu between January and March, about the same number as died all of last year.

 

The biggest obstacle to beating the disease, international flu experts say, is the decentralized Indonesian government. Health officials in the capital, Jakarta, have been described as having powers extending no further than their office walls, while real power resides in the governors of the 33 provinces and the elected regents, of 480 districts.

 

However, decentralization is not a principle that Indonesians are likely to abandon. The regions prefer having more self- government, and “decentralized units get very wary when the center takes on emergency powers,” said Dr. David Nabarro, a UN chief pandemic flu coordinator.

 

Shortages of trained veterinarians and slow compensation of farmers have also been major obstacles to crushing the outbreak. Another problem is the sheer profusion of backyard chickens. The outbreak is not a big problem in commercial flocks, but in the country, every household has poultry. “Retired people here keep chickens like other retirees take up woodworking. It’s household food, and income, and something to do. Asking Indonesians to give up their chickens is like asking Americans to give up their dogs and cats,” said Dr. Jeffrey Mariner, a veterinary medicine professor from Tufts University, in Boston, who is helping the UN Food and Agricultural Organization train new veterinary workers.

 

The government pays about $1 per bird – just a bit below market value, which veterinary experts suggest is the best way to get compliance while not creating the temptation to breed just for the culling payments.

Indonesians also raise fighting cocks, songbirds and trained doves worth much more than $1, he said, but they are paid nothing extra, giving the owners little incentive to cooperate.

 

AROUND US$10 million is needed to help the agriculture sector in quake-hit areas in Yogyakarta and Central Java recover following the May 27 disaster, the Food and Agriculture Organization (FAO) of the United Nations announced.

 

The fund would be needed to provide the farmers with seeds and fertilizer, to provide livestock to raise and shelters for livestock and poultry, to mend the irrigation system, and to provide farming tools, equipment and machinery.

 

FAO Regional Special Program for Food Security Coordinator Shin Imai said that out of the $10 million, at least $1.2 million would be for providing poultry, livestock and fish to raise and shelters for livestock and fish ponds.

 

Director General of Food Crops of the Agriculture Ministry, Sutarto, said the ministry had allocated some Rp 5 billion for agriculture recovery programs in quake-hit regions in Yogyakarta and Central Java provinces.

 

Imai said in order to encourage more donor support and to expose the true extent of the damage to the agriculture sector, FAO with the financial support of the Japanese government had conducted a detailed quick assessment of the damage in the agriculture sector.

 

The assessment focused on the quake’s impact on production of food crops, livestock, fisheries, irrigation, farm tools, post-harvest machinery and infrastructure.

 

“Although the crops seem to be just fine after the earthquake, meaning that they are still growing well in the fields, it is completely wrong to say that the agriculture sector was unaffected by the earthquake,” Imai said. There is, he said, what is called the Multiple Negative Impacts (MNI) of the quake. This is not just direct physical damage, but is more indirect, invisible damage caused by capital loss, collapse of supporting systems, damage to market capacity, loss of opportunity for employment and trauma. This will result in a decrease in the productivity capacity of farmers.

 

“We are talking about farmers whose houses have been completely destroyed. So, they need to spend their savings, if they have any, to rebuild their homes.”

 

“It’s true their crops are still growing now, but after harvesting they cannot sell it to the market, as they need it for their household food security. It means they will not be able to earn any money for the next season,” he added.

 

He said a lack of attention on the immediate revitalization of the agriculture sector would create long term dependency on national and international aid, especially in the food sector.

 

INDONESIAN veterinarians believe a failure to implement a standardised approach to handling rampant bird flu infection in Indonesian poultry is allowing H5N1 to spread, and fault the government for sluggish handling of the problem. The Indonesian Veterinarians Association (PDHI) said the government erred by allowing regional administrations and their officials to take different approaches to dealing with infected fowl.

“Such a variety of approaches has proven to be ineffective because it allowed the virus to reemerge in regions that already culled their sick chickens,” PDHI chairman Budi Tri Akoso told ahead of the 15th national congress of veterinarians, held last month. Budi highlighted the fact that regional administrations used different approaches in handling outbreaks, with some favoring culls and others opting for mass vaccinations.

“The approaches were carried out without carrying out thorough research as the basis to determine what solutions should be taken,” he said. “They don’t apply a standard culling and vaccination process. How could we be sure then that these measures are successful?” he asked.

The PHDI has urged the government to quickly utilise more than 10,000 veterinarians nationwide to eradicate H5N1 infection in poultry in the nation’s 33 provinces before it evolved into a form allowing human-to-human transmission. “We demand the government focus on eliminating the disease from its sources – sick poultry – to avert more human and material losses, as well as to the animals,” he said.

An agriculture ministry official handling avian influenza said that the department recently published manuals contained standard procedures on surveillance, vaccination, culls and the restocking of the poultry industry. However, he admitted some regional administrations had disregarded the standard procedures because their leaders tended to take short-term approaches to the problem. The official also claimed that the government had so far succeeded in containing the spread of the virus, which he argued was shown by a lower incidence of poultry infection and a gradual increase in the consumption of chicken.

AI, Virus vs Vaksinasi

8 August, 2006 Uncategorized No comments

Poultryindonesia.com, Untuk mengevaluasi keberhasilan vaksinasi AI harus dilihat dari beberapa aspek, mulai gejala klinis pada unggas, dinamika virus AI dan seputar vaksinasi itu sendiri. <?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Bila mengikuti prosedur pelaksanaan vaksinasi AI pada negara yang menerapkan stamping out dan vaksinasi -idealnya. Daerah wabah  AI dalam radius 3 km dilakukan pemusnahan  seluruh unggas. Sedangkan untuk vaksinasi dikenal istilah “ring vaccination”. Dengan cara ini,  dalam radius 5 km diluar daerah wabah  (vaccinated buffer zone) dilakukanlah vaksinasi seluruh unggas yang ada. Bahkan, untuk mencegah penyakit meluas, masih ditambah 1 tindakan lagi yaitu dalam radius 10 km tidak boleh ada unggas keluar.  <?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Paparan prosedur tersebut  tidak dapat diterapkan di Indonesia, hal ini terkait dengan pertimbangan sosial, ekonomi, budaya dan lain-lainnya. Sehingga akhirnya Indonesia menerapkan depopulasi terbatas/ tebang pilih dan vaksinasi pada unggas. Dengan kondisi ini, berdasarkan pengelompokan  negara yang melakukan vaksinasi –versi FAO, Indonesia dikategorikan sebagai negara yang menerapkan strategi vaksinasi terus menerus tanpa pemusnahan yang jelas. Termasuk dalam kelompok ini adalah Meksiko, Venezuela, Pakistan, China, dan  Vietnam.

 

 

Dahulu, strategi  penanggulangan AI yang direkomendasikan OIE

 adalah pemusnahan total tanpa vaksinasi. Namun, rekomendasi ini sekarang melemah –melihat situasi yang berkembang- menjadi stamping out dan vaksinasi (awal 2004). Seperti halnya Indonesia, saat ini sudah banyak negara besar yang melakukan vaksinasi

 sebagai strategi dalam menanggulangi AI.

 

Bebas AI

Bahwa Indonesia akan bebas AI di tahun 2007 pernah dicanangkan melalui Deklarasi Blitar, walaupun FAO meragukan pernyataan ini dengan prediksi bahwa Indonesia bisa bebas AI dalam 10-12 tahun ke depan itupun masih ditambah kata “kalau negara tersebut –Indonesia- serius”.

Berdasarkan kriteria OIE, ada kategori yang harus dipenuhi suatu negara agar dikatakan bebas AI. Pertama, jika melakukan stamping out tanpa vaksinasi: bebas AI dapat dinyatakan setelah 3 bulan dari kasus terakhir. Ditegaskan Prof. Charles Rangga Tabbu, MSc., Ph.D., ahli penyakit unggas UGM yang juga Ketua ADHPI (Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia), status ini pun tidak begitu saja diperoleh, harus ada surveilans -minimal radius 3-5 km. Kalau berdasarkan surveilans –yang dilakukan terus menerus dalam 3 bulan- hasilnya negatif barulah bisa dinyatakan bebas. Kedua, jika hanya melakukan vaksinasi, tanpa stamping out : bebas AI dapat dinyatakan setelah 1 tahun dari kasus terakhir. Ini pun, kata Charles, juga tetap harus diikuti surveilans.

Mengenai target bebas AI ini, banyak kalangan di bidang perunggasan tidak ambil pusing dengan “pernyataan” tersebut. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa hidup berdampingan dengan AI secara damai, dengan tetap mengambil langkah untuk mengendalikan virus berbahaya ini. Salah satunya adalah dengan jalan vaksinasi AI.

Untuk mengevaluasi keberhasilan vaksinasi AI di Indonesia harus dilihat dari beberapa aspek, mulai gejala klinis pada unggas, dinamika virus AI dan seputar vaksinasi itu sendiri.

Dinamika virus

Melihat kondisi virus AI yang ada dilapangan saat ini, menurut Prof. Charles Rangga Tabbu, MSc., Ph.D., isolat virus AI yang ditemukan pada saat awal wabah –akhir 2003-  sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan virus AI pada 2005. Homologi susunan asam amino antara isolat virus AI dari ayam tahun 2003 dan tahun 2005 adalah 98,4%, dengan perbedaan susunan asam amino sekitar 3 nukleotida/asam amino.  Perubahan yang terjadi adalah pada 1-2 asam amino pada cleavage site (tempat pembelahan) gen HA. Walaupun sudah terjadi sedikit perubahan  pada virus AI isolat 2005, Charles berpendapat bahwa perubahan tersebut belum sampai menimbulkan perubahan pada struktur antigenik virus AI lapangan.

Beberapa ahli mengatakan bahwa virus AI sekarang tergolong LPAI (Low Pathogenic Avian Influenza), namun Charles membantah hal tersebut. Menurutnya, virus AI tahun 2005 dan 2006 masih tergolong subtipe H5N1/HPAI bentuk ringan. “Karena ada antibodi yang terbentuk baik dari hasil vaksinasi maupun kontak dengan virus lapang, sebagian besar virus lapang sudah di netralisir oleh antibodi yang ada. Dengan demikian manifestasi klinik dan patologiknya lebih ringan bila dibandingkan dengan awal babak 2004,” demikian jelas Charles.

 

Evaluasi kasus

S

ecara umum, gejala klinik dan perubahan patologik yang ditemui saat ini berbeda dengan yang ditemukan pada awal wabah AI. Setidaknya ada dua bentuk gejala klinis AI yang ditemukan, yaitu : HPAI dengan mortalitas tinggi, dan manifestasi HPAI ringan dengan mortalitas rendah. Bentuk yang  kedua ini, menurut Charles cukup membingungkan terutama pada layer. Ini karena sifat immunosupresif (menekan kekebalan) virus yang menyebabkan penurunan titer antibodi terhadap bermacam-macam vaksinasi, seperti : ND, IBD dan lain sebagainya. Ditambahkan oleh Charles, derajat keparahan dan distribusi lesi yang terjadi sangat erat hubungannya dengan manifestasi klinik AI, pada bentuk yang ringan lesi terbatas sekali dan bersifat lokal, contohnya yaitu perdarahan di ovarium.

Menurut Charles, saat ini virus AI sudah bersirkulasi di lapangan. Hal ini ditunjukkan dari hasil pemeriksaan serologis pada unggas yang tidak divaksinasi terhadap AI ternyata didapatkan hasil positif terhadap H5N1. Dengan fenomena tersebut, Charles mengingatkan agar kita harus semakin berhati-hati dan ada upaya untuk menghambat dinamika penyebaran virus dari satu tempat ke tempat lainnya. 

 

Kejadian AI

K

ejadian AI pada peternakan ayam ras sektor 1 dan 2 telah menurun drastis. Walaupun demikian, Charles menyayangkan tidak ada data yang akurat mengenai hal ini. Karena selama ini tidak ada data hasil surveilans terhadap kasus AI di sektor 1 dan 2 yang bisa diperoleh. Sementara pada sektor 3 (peternakan ayam ras dengan biosecurity longgar dan tidak divaksinasi AI) dan sektor 4 (ayam buras, itik, entog, dan burung puyuh) statusnya masih  endemik, kasus AI masih ditemukan. Khusus sektor 4, diyakini punya peran yang cukup penting sebagai reservoir/sumber penularan virus AI.

Dari kasus yang berkembang di lapangan, seperti dipantau PI awal 2006, kasus AI yang dulu kerap terjadi pada layer, kini sudah merambat ke broiler.

 

Vaksinasi

Ditegaskan oleh Charles, setidaknya ada 3 hasil yang bisa didapatkan melalui vaksinasi AI, yaitu : meningkatkan ketahanan terhadap tantangan virus lapang,  menekan tingkat penyebaran virus (viral shedding ), dan  menekan dinamika penyebaran virus AI.

 

Risiko

  

Walaupun vaksinasi merupakan salah satu alat dalam pengendalian AI, tindakan vaksinasi ini tidak sepenuhnya memberi rasa aman. Para ahli kawatir, vaksinasi AI yang dilakukan dapat menekan kasus HPAI menjadi kasus AI ringan. Dari kematian yang tinggi kemudian beralih menjadi tidak ada gejala, tapi sebenarnya di lapangan masih ada infeksi. Kondisi ini oleh Charles dilukiskan seperti fenomena gunung es. AI seolah  sudah tidak ada, padahal sebenarnya masih berkeliaran di lapang. Inilah yang akan terjadi apabila vaksinasi tidak disertai dengan monitoring.

Vaksinasi tanpa monitoring, menurut Charles, dapat mempercepat evolusi, adaptasi, atau reasorsi virus AI serta dapat mendukung  mutasi dan  endemisitas AI. Yang paling ditakutkan terjadi yaitu apabila vaksinasi ternyata memperbesar peluang timbulnya pandemi global influenza.

Selain monitoring, ditegaskan oleh Charles, bahwa inaktivasi virus vaksin juga harus diperhatikan. Berkenaan dengan produk vaksin AI dalam bentuk killed/ inaktif ini, Charles mengingatkan agar  inaktivasi harus dilakukan dengan sempurna. Apabila hal ini tidak terpenuhi maka efek sampingnya adalah terjadi pencemaran virus yang lebih luas.

Ditambahkan Charles, perencanaan dan pelaksanaan vaksinasi AI yang kurang tepat memiliki resiko mempercepat dinamika penularan virus AI dari kelompok unggas yang mempunyai antibodi protektif ke kelompok yang tidak divaksinasi.

 

Fakta vaksinasi

Mengenai vaksinasi AI, menurut Charles,

hasilnya tidak dapat menghilangkan infeksi hingga tidak ada sama sekali. Jangan terlalu berharap banyak hanya pada vaksinasi saja, melainkah

harus diupayakan suatu sistem penanggulangan yang terpadu. Itu artinya harus selalu disertai oleh biosekuriti ketat dan didukung monitoring dan evaluasi yang terus menerus mengenai tingkat keamanan vaksin AI (sistem sentinel dan/atau uji DIVA, dan uji laboratorik lain), tingkat perlindungan vaksin, dan kemungkinan mutasi virus AI asal lapang.

 

 

            Dipaparkan oleh Charles,

masalah yang kerap timbul dalam vaksinasi AI adalah tingkat keberhasilan yang cukup bervariasi. Menurut Charles, ini terkait dengan kualitas vaksin, program vaksinasi, kondisi ayam pada waktu divaksinasi, dan jenis ayam/unggas yang divaksinasi. Ditambahkan oleh Charles, keterbatasan alokasi dana yang ada saat ini menyebabkan pelaksanaan vaksinasi AI masih dalam skala yang terbatas –terutama pada ayam pedaging, buras, puyuh dan itik. Hal ini, kata Charles, membuka peluang berkembangnya reservoir virus AI. Fakta lainnya yaitu : monitoring hasil vaksinasi dan dinamika virus AI di lapangan masih terbatas, selain itu pengawasan distribusi vaksin dan pelaksanaan vaksinasi masih belum optimal.

 

Kesuksesan vaksinasi

Untuk mendukung keberhasilan vaksinasi AI, menurut Charles, ada beberapa aspek penting yang harus diperhatikan, antara lain : kualitas vaksin, pemberian vaksin, sarana/ prasarana  peternakan, dan unggas itu sendiri.

Penggunaan vaksin AI berkualitas tinggi mutlak diperlukan –dibahas dalam artikel lain edisi ini. Selain itu, vaksinasi harus diberikan sebelum terjadi infeksi AI,  dan harus memberikan perlindungan yang kolektif atau dengan kata lain semua unggas harus mendapat vaksin.

Dalam pemberian vaksin, ada beberapa hal yang perlu dipantau, antara lain : metode vaksinasi, program vaksinasi, vaksinator, dan peralatan vaksinasi yang digunakan. Sementara pada sarana/prasarana peternakan, sistem perkandangan/peralatan, lingkungan, sumber air minum, dan pakan juga tetap harus diperhatikan.

Yang tidak kalah pentingnya adalah memperhatikan kondisi ayam/unggas. Harus dipertimbangkan umur/variasi umur, dan status kesehatannya. Jangan sampai ada penyakit immunosupresif yang dapat mengganggu terbentuknya kekebalan terhadap AI.

Menutup pernyataanya, ada beberapa saran yang dilontarkan Charles sehubungan dengan vaksinasi AI ini. Yang paling utama, menurut Charles vaksinasi harus merupakan bagian dari suatu program penanggulangan yang terpadu. Strategi vaksinasi sebaiknya dijalankan berdasarkan perkembangan kasus AI dilapangan serta didukung oleh sarana/prasarana dan kajian epidemiologik yang memadai. Yang terakhir, perlu kerjasama antar tenaga ahli/profesional, peternak, pengusaha industri peternakan, pemegang kebijakan, dan masyarakat luas dalam penanggulangan AI secara terpadu dan bertanggung jawab. Kromo

Polemik seputar vaksin AI

4 August, 2006 Uncategorized No comments

Poultryindonesia.com, Wabah Avian influenza (AI) bukanlah dongeng, tapi kasus di <?xml:namespace prefix = st1 ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags” />Indonesia ternyata menjadi kisah yang panjang, terdiri dari  babak demi babak dengan cerita yang semakin seru. <?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Serangan pada ayam ras akhir 2003 sampai 2004 merupakan babak pertama. Pengakuan resmi dari pemerintah terlambat, produksi vaksin dan kebijakan impor vaksin juga terlambat, sehingga tidak sedikit vaksin ilegal yang masuk.<?xml:namespace prefix = o ns = “urn:schemas-microsoft-com:office:office” />

Akhirnya vaksin produksi nasional beredar, dan vaksinasi menjadi program utama penanganan AI pada peternakan unggas. Pada perjalanannya program vaksinasi dinilai berhasil dan mendapat pujian dunia.

Juni 2006 Prosedur Operasional Standar Pengendalian Penyakit Avian Influenza di Indonesia diterbitkan Ditjen Peternakan Deptan. Isi juklak penanganan meliputi biosekuriti, depopulasi, disposal dan kompensasi. Kemudian bagian berikutnya perihal vaksinasi. Lalu ada perihal pengawasan dan pembatasan lalu lintas unggas, produk, peralatan & limbah peternakan unggas. Juga mengenai deteksi dini dan penetapan diagnosa awal.

Mengiringi terbitnya juklak tersebut, ada sedikit perdebatan mengenai vaksinasi. Karena pada ketentuan vaksin dan vaksinasi tertera : Vaksin AI yang digunakan adalah vaksin inaktif strain LPAI, subtipe H5, selain H5N1 yang memiliki homologi sequens nucleotida atau asam amino dari antigen H diatas 80% terhadap isolat lokal.

Pernyataan di atas mengandung makna, produksi vaksin H5N1 dihentikan. Inilah yang mengundang perdebatan diantara para pakar, dan memicu kebingungan peternak. Akhirnya, pada sebuah wawancara di ruang kerjanya, Dirjen Peternakan Mathur Riady menyatakan, sesuai dengan arahan tim narasumber yang merujuk pada strain virus yang low pathogenic, maka kata “low pathogenic” ini dieksplisitkan menjadi “selain H5N1”.  Namun, setelah beberapa waktu kata-kata ‘selain H5N1’ itu dihapuskan.

Namun, perdebatan mengenai vaksin AI ini masih berlanjut. Mengenai apa yang sesungguhnya diperdebatkan, lebih rinci dapat anda simak pada Majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2006. Selamat membaca….