Bangkitkan Perekonomian Nasional

Melalui berbagai rintangan dan pengorbanan besar untuk sampai ke titik kulminasinya pada Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, menjadilah berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 tersebut sebagai titik awal Bangsa Indonesia berjuang membebaskan dirinya dari belenggu penjajahan dan memasuki zaman barunya sebagai bangsa merdeka.

Dihubungkan dengan peran sejarah berdirinya Boedi Oetomo tersebut, menjadi tak disangsikan peringatan seratus tahun Kebangkitan Nasional tahun ini sebagai momen penting untuk menilik kembali jejak langkah perjalanan kita selama ini, mengevaluasi capaian-capaian yang membesarkan hati tetapi juga dengan kritis mencatat kekurangan-kekurangan bahkan kegagalan sekalipun. Tilikan dan evaluasi demikian diperlukan, untuk menakar seberapa besar tanggungjawab kita sebagai pewaris negeri ini mampu mewujudkan segala hal yang dahulu diidamkan dan menjadi  sumber semangat para perintis serta pejuang mengantar bangsa ini ke pintu gerbang kemerdekaan. Apa yang sudah dicapai, apa yang belum, dan bagaimana kita menyikapi semuanya itu, — inilah yang harus menjadi fokus dalam kita memperingati satu abad Kebangkitan Nasional tahun ini.
Menunjuk capaian yang membesarkan hati, dengan rasa syukur tentunya harus dikatakan bahwa dalam 63 tahun hidup dalam  alam kemerdekaan sebagai bangsa kita tetap utuh bersatu di bawah naungan semangat Bhineka Tunggal Ika. Kita juga bersyukur dan bangga akan sejumlah prestasi yang dicapai anak-anak bangsa ini di berbagai lapangan — nasional dan internasional. Sebut misalnya prestasi di bidang olahraga, kebudayaan, keilmuwan dan lain-lain, sebagaimana kita juga bersyukur dan bangga akan peran yang dimainkan bangsa Indonesia dalam ikut mewujudkan perdamaian dan ketertiban dunia. Kesemua prestasi tersebut, sedikit atau banyak, ikut mengangkat harkat bangsa Indonesia dalam pergaulan internasional. Capaian-capaian positif tersebut pada intinya menunjukkan, sebagai bangsa kita dikaruniai kemampuan (potensi) untuk mengatasi tantangan bahkan tampil sebagai unggulan. Satu syarat yang dituntut di sini adalah kemauan dan keteguhan hati untuk memegang dan menjunjung amanah!
Selanjutnya, menunjuk sejumlah kenyataan yang secara gamblang mengisyaratkan kegagalan maka dengan tidak ragu-ragu harus dikatakan bahwa dalam kurun 63 tahun hidup di alam kemerdekaan, rakyat belum bisa menikmati ‘janji-janji kemerdekaan’ yang meliputi : kehidupan yang makmur sejahtera, tercukupi kebutuhan sandang-pangan-papan dan terjaga kesehatannya, terjamin ketenteraman hidup karena tegaknya hukum dan keadilan, dll. Ya, ‘janji-janji kemerdekaan’ yang belum terwujud tersebut muncul dalam bentuk tingginya angka kemiskinan dan besarnya jumlah penggangguran, — yang dalam kenyataan sehari-hari menampak pada merebaknya kasus-kasus gizi buruk, barisan panjang ibu-ibu rumah tangga mengantre beras murah (raskin), besarnya angka  anak-anak yang putus sekolah, dan banyak lagi ‘penyakit sosial’ dari yang tingkat ecek-ecek sampai kepada sifatnya yang elitis.
Dari catatan di atas dapat segera disimpulkan pembangunan ekonomi di negeri ini belum berjalan sebagaimana diharapkan. Potensi sumberdaya alam yang melimpah, eksploitasinya belum diperuntukkan bagi sebesar-besarnya kepentingan rakyat. Sementara perekonomian nasional yang landasan filosofinya dibangun berdasar semangat gotong-royong, dalam praktiknya justru mengarah menghidupkan konglomerasi, — tercermin pada kehidupan perekonomian rakyat yang mestinya dibina untuk menjadi besar justru sering menghadapi aneka hambatan termasuk pungutan liar dan bahkan aksi-aksi penggusuran. Maka demikianlah berbagai kegiatan ekonomi bersifat kerakyatan seringkali dihadapkan ancaman gulung tikar karena tiadanya kepedulian pemerintah untuk memberikan perlindungan. Krisis kedelai yang membuat puluhan ribu perajin tahu-tempe bangkrut, melonjaknya harga daging yang membuat pedagang bakso, tukang daging dan usaha warungan ‘mogok’ berjualan, adalah sedikit dari banyak contoh pendekatan pembangunan yang tidak berpihak kepada perekonomian rakyat.
Model pendekatan pembangunan ekonomi yang demikian, di sektor pertanian dan peternakan dampaknya tercermin tidak saja dari kegagalan kita mewujudkan swasembada sejumlah hasil-hasil pertanian strategis, tetapi juga kurang berkembangnya kegiatan usaha agribisnis yang berbasis peternakan, — seperti usaha peternakan sapi potong, sapi perah, perunggasan dan usaha ternak lainnya. Terus membengkaknya angka impor daging sapi dan susu, sering bergejolaknya bisnis perunggasan akibat fluktuasi harga sarana produksi, sepenuhnya menggambarkan buruknya kinerja pembangunan di sektor ini. Ini masih bisa ditambah dengan kebijakan penanggulangan penyakit hewan, yang pada tingkat implementasinya di lapangan masih jauh dari memenuhi harapan. Secara ekstrim hal ini terlihat pada tidak berjalannya kebijakan penanggulangan flu burung, — untuk memosisikan Indonesia sebagai negara terpapar flu burung terparah di dunia.
Demikian maka, kembali pada memperingati satu abad Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2008 ini, kiranya sangat relevan untuk menjadikan momen ini sebagai titik awal melakukan perubahan bagi terwujudnya ‘janji-janji kemerdekaan’, — dengan melakukan pembangunan ekonomi di mana pembangunan pertanian sebagai lokomotif penggeraknya. Saatnya kini kita bangkitkan perekonomian nasional!

Pemerintah Belum Mengijinkan Pendaftaran Produk Vaksin AI Baru

21 May, 2008 Uncategorized No comments

www.poultryindonesia.com. Pemerintah cq. Direktorat Kesehatan Hewan – Departemen Pertanian, belum memberikan ijin untuk pendaftaran produk vaksin AI yang baru karena masih  menunggu selesainya uji tantang semua produk vaksin AI yang sudah beredar. Menurut Direktur Kesehatan Hewan, Drh. Musny Suatmodjo, MM, saat ini setidaknya ada 20 merek produk vaksin AI yang beredar di lapangan. “Setelah uji tantang terhadap vaksin yang sudah beredar ini selesai, maka pemerintah akan membuka kembali registrasi produk vaksin AI yang baru,  yang juga akan melalui proses uji tantang  , karena itu merupakan persyaratan dasar pengujian vaksin AI,“ urai Musny (19/05).
Musny menjelaskan, uji tantang ini akan dilakukan oleh tim yang terdiri dari BPMSOH dan para ahli dari  Fakultas Kedokteran Hewan. Keduapuluh vaksin AI ini akan diuji tantang dengan strain virus AI yang beredar di lapangan. Bagi produk vaksin yang hasil proteksinya dibawah  90% akan ditolak dan tidak bisa mendapatkan registrasi. Saat ini fasilitas untuk menguji tantang keduapuluh produk vaksin itu telah siap digunakan.
“Saya sudah menginstruksikan pengawas obat hewan dari tingkat lapangan sampai pusat untuk  lebih responsif apabila ditemukan vaksin AI ilegal. Di Indonesia saat ini ada 3 jenis vaksin AI, tapi yang beredar sudah ada 20 merek. Selain itu adanya kabar tentang beredarnya vaksin reverse genetik di lapangan yang hingga kini masih belum bisa dibuktikan. Dengan demikian, perlu ada regulasi yang ketat,“ pungkas Musny. krm

EEA BANTU USAHA PETERNAKAN

16 May, 2008 Uncategorized No comments

www.poultryindonesia.com. Education and Employment Alliance (EEA), sebuah organisasi prakarsa berbagai sektor untuk mendorong percepatan pendidikan dan lapangan kerja bagi kaum muda telah melakukan 43 proyek inovatif di enam negara guna mengurangi tingkat pengangguran. Keenam negara tersebut adalah Mesir, Maroko, Pakistan, Filipina, India, dan Indonesia. Memang, sasaran utama EEA adalah kaum muda berusia 18-24 tahun di Asia dan Timur Tengah dan sektor peternakan merupakan salah satu bidang garap dalam 43 proyek tersebut. Sementara itu EEA yang pendiriannya diprakarsai oleh International Youth Foundation (IYF) mendapatkan dukungan dana dari berbagai pihak, terutama United State Agency for International Development (USAID). Untuk tahap awal USAID telah mengucurkan hibah senilai US$ 12.8 juta. Sedangkan dari sumber lain EEA memperoleh US$ 9 juta. Di Indonesia, EEA menggandeng Indonesia Business Links (IBL) sebagai mitra penjaringan kaum muda yang akan mendapatkan bantuan program. Untuk masing-masing program nilainya berkisar Rp. 500 juta hingga Rp. 1 milyar.
            “Kaum muda tidak bisa bekerja sendiri untuk mendapatkan kesempatan kerja. Indonesia membutuhkan 2,5-3 juta lapangan kerja baru tiap tahun. Walaupun secara teknis perkembangan ekonomi memuaskan, tetapi untuk penciptaan lapangan kerja masih kurang,” ungkap Walter North,USAID Mission Director untuk Indonesia pada Global Summit EEA di Yogyakarta, 13-15 Mei lalu. “Dari 43 program itu di Indonesia ada 11 program,” terang William Reese, Presiden dan CEO IYF.
            Salah satu program unggulan di Indonesia adalah pelatihan operator peternakan ayam broiler yang diselenggarakan oleh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Farming Pati, Jawa Tengah dan Center for Human Resource Development and Applied Technology (CREATE) Bogor, Jawa Barat. Menurut drh SS Ngestiningsih, wakil kepala sekolah SMK Farming, program ini dianggap berhasil karena alumnus yang dihasilkan sampai pelatihan periode ketiga sudah lebih dari 80% yang langsung mendapatkan pekerjaan. Sayangnya, dana program ini terbatas hanya sampai pada pelatihan periode kelima atau sekitar September 2008. Sedangkan permintaan operator kandang hasil pelatihan di SMK Farming justru semakin meningkat. “Sekarang kita sedang melakukan lobi dengan mereka untuk memperpanjang program. Tetapi, kalau belum bisa, kita berharap kepada perusahaan-perusahaan peternakan untuk bisa bekerjasama,” terang Dr drh Widiyanto D Surya, Direktur Eksekutif CREATE yang juga staf pengajar FKH IPB Bogor ini.. Selama ini pihak yang telah membantu pelatihan adalah Perdana Putra Chicken milik Tri Hadiyanto (Ketua Umum GOPAN), Kurnia Poultry Farm milik drh Hartono (Ketua Umum Pinsar Nasional), PT Medion, PT Vaksindo, dan PT Charoen Pokphand Indonesia. Bentuk kerjasama bisa berupa rekruitmen lulusan, kemitraan budidaya, sumbangan pemikiran kurikulum dan sebagainya.
            Hingga pelatihan periode kelima SMK Farming dan CREATE akan membina 150 orang calon operator kandang secara gratis dengan menggunakan teaching farm berkapasitas 15 ribu ekor ayam. “Ke depannya targetnya memang gratis karena diperuntukkan bagi dhuafa,” ungkap Ngestiningsih. Saat ini alumnus SMK Farming telah bekerja di berbagai farm di Sumbar, Jambi, Bangka-Belitung, Jabar, Jateng dan Sumut.
            Direktur Eksekutif IBL, Yanti Koestoer menjelaskan bahwa keberadaan pelatihan operator kandang ini sangat membantu kaum muda di sekitar Pati dan Rembang. “Pemberian trainning bagi anak kandang agar profesional ini sangat baik. Karena banyak anak yang drop out di sekitar Pati dan Rembang,” tegasnya. Selanjutnya, bagi kaum muda yang tertarik untuk mengakses program ini maka hendaknya membentuk semacam lembaga swadaya masyarakat atau koperasi. Selanjutnya IBL akan melakukan verifikasi untuk kelayakan lembaga tersebut untuk menerima bantuan program. Ism

TELUR SUMBER NUTRISI PENTING

13 May, 2008 Uncategorized No comments

Saat ini, telur ayam yang mengandung asam lemak Omega-3 sudah dipasarkan. Namun kandungan nutrisinya berbeda-beda untuk setiap merek telur. Telur hasil rekayasa ini dihasilkan dengan cara memberi makan ayam betina dengan makanan mengandung lemak tak jenuh banyak. Telur-telur hasil rekayasa seperti telur bebas kolesterol dan telur yang mengandung Omega-3 diharapkan bisa mengurangi beban organ tubuh manusia akibat kelebihan gizi.

Semarak Kiprah Poultry Promo

12 May, 2008 Uncategorized No comments

www.poultryindonesia.com. Ada dua seminar agribisnis perunggasan yang digelar oleh Majalah Poultry Indonesia (PI) dalam sebulan lalu. Pertama pada 9 April 2008 di Surabaya yang merupakan kerjasama  PI dengan Masyarakat Peduli Gizi (MPG) Jawa Timur. Yang kedua, seminar dalam rangkaian kegiatan Musyawarah Nasional (Munas) III Pinsar Unggas Nasional di Solo. Munasnya sendiri berlangsung pada 22 April, sedangkan seminarnya pada  23 April yang dihadiri Menteri Pertanian Dr. Ir. Anton Apriyantono, MS sebagai keynote speaker. Kedua event besar dalam sebulan itu berlangsung sukses dan lancar, dihadiri seluruh komponen agribisnis perunggasan skala nasional. Dan bagi Tim PI sendiri hal ini memberi rasa syukur tak terperi karena sekaligus menandai  peluncuran divisi baru kami, yakni Divisi Event Organizer dan Promosi yang kami beri nama POULTRY PROMO.
KETIKA KELIT MEMBUAHKAN PENCERAHAN

Bertempat di Hotel Somerset-Surabaya, 9 April lalu digelar seminar bertema “Kelit di Saat Sulit – Menatap Masa Depan Perunggasan Lebih Baik.” Seminar ini adalah hasil kerjasama antara Majalah Poultry Indonesia dengan Masyarakar Peduli Gizi (MPG) Jawa Timur. Dalam seminar ini dibahas berbagai macam persoalan perunggasan yang terjadi akhir-akhir ini dan bagaimana solusinya. Seminar ini dihadiri oleh praktisi perunggasan seperti peternak dan pabrikan, akademisi serta pejabat pemerintahan Jawa Timur.
Menurut Ir.Muhadi – Ketua MPG Jatim yang mewakili panitia penyelenggara mengatakan, pemilihan tema seminar berdasarkan dua sisi obyektif yang dihadapi pelaku agribisnis perunggasan saat ini, yakni tingginya biaya produksi hasil perunggasan, dan di sisi lain melemahnya konsumsi masyarakat akibat buruknya kondisi ekonomi secara nasional.
“Kata kelit di saat sulit mengandung makna ikhtiar, siasat ataupun taktik yang tepat,  sehingga kondisi sulit yang dihadapi dapat dilewati dengan baik dan tatanan perunggasan yang lebih baik akan mudah diwujudkan,” terang Muhadi
Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur yang diwakili oleh Ir.Suhaji, dalam sambutannya mengatakan bahwa populasi ayam petelur di Jatim adalah sebesar 34.926.134 ekor, dengan angka produksi telur sebesar 324.917.825 kg. Sedangkan populasi ayam broiler sekitar 22 juta ekor dengan produksi ayam pedaging sebesar 148 juta ekor pertahun. ”Produksi yang terserap untuk Jatim sendiri sebesar 60 persen sedang 40 persen dipasarkan ke luar Jatim.” terang Suhaji
Untuk meningkatkan produksi jagung lokal, pemerintah Jatim mengajak para petani di Jatim untuk menanam jagung pada musim kemarau. “Kegiatan ini dilakukan dengan bekerjasama dengan Bisi-2 dan akan di mulai pada Juli 2008 dimulai dari kabupaten terbarat dari Jatim.” tutur Suhaji.
Daya Saing Perunggasan
Acara seminar ini dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama menghadirkan pemateri Drh. Paulus Setiabudi – Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas(GPPU) dan Fenni Firman Gunadi,SE – Sekjen Gabungan Perusahaan Makanan Ternak(GPMT) dan dimoderatori oleh Drh. Heri Setiawan dari Wonokoyo Jaya Corporindo, Surabaya.
Menurut Paulus, perunggasan di Indonesia mempunyai daya saing yang sangat lemah, hal ini disebabkan ketergantungan terhadap impor bahan baku, khususnya bahan baku pakan ternak. “Komponen lain yang diimpor adalah bibit ayam GPS dan PS, bahan obat-obatan, poultry equipment. Jadi produk perunggasan seperti daging maupun telur sebagian besar komponen produksinya adalah dari impor,” tutur Paulus.
Penyebab lain lemahnya daya saing perunggasan adalah struktur industri perunggasan yang masih tersegmentasi –  belum terintegrasi. Yang dimaksud integrasi, lanjut Paulus, adalah adanya hubungan yang erat dan utuh dari hulu sampai hilir dengan prinsip kesetaraan, keseimbangan serta saling menguntungkan. Dan tidak kalah pentingnya penyebab lemahnya daya saing adalah adanya marketing system yang masih konvensional. ”Output dari peternakan masih berupa komoditi dan belum mempunyai nilai lebih,” tukas Paulus.
Pasokan Bibit
Menurut Paulus, kenaikan harga ayam hidup akan selalu diikuti oleh kenaikan harga bibit. Sedang kenaikan  harga pakan mestinya diikuti oleh kenaikan harga ayam hidup, tapi pada kenyataannya tidak demikian. Kenaikan harga pakan tidak diikuti oleh kenaikan harga ayam hidup dan akibatnya harga bibit ayam malah turun.
Lanjut Paulus, di lapangan sering terjadi komplain dari masyarakat bahwa menjelang Hari Raya bibit ayam susah dicari dan masyarakat peternak beranggapan bibit itu justru dimasukkan ke dalam kandang-kandang milik perusahaan. ”Menurut survey yang dilakukan ternyata hal itu tidak benar, pola distribusi bibit broiler adalah sebagai berikut :  5-6 persen untuk peternak mandiri, 10 persen untuk peternakan internal perusahaan, 25 persen untuk kelompok ternak, 30 persen untuk poultry shop, 30 persen untuk perusahaan trintegrasi,” sangkal Paulus.
Masih menurut Paulus, strategi pengendalian supply bibit pada saat under demand adalah dengan mengikuti secara cermat permintaan dari para pelanggan, mengalokasikan supply bibit ke daerah yang lebih membutuhkan dan mengurangi supply pada daerah yang sudah jenuh. ”Ini adalah hasil konsensus dengan para breeder di Jakarta beberapa waktu lalu.” terangnya
Selain itu pengendalian supply bibit dilakukan dengan mengafkir induk (parent stock) lebih dini sekitar 45 sampai 50 minggu, padahal pengafkiran standar umur 65 minggu. Serta melakukan seleksi yang lebih ketat terhadap kualitas telur tetas (HE) dan bibit (final stock),untuk meningkatkan kualitas bibit.
Dalam kesempatan ini Paulus menyarankan hendaknya seluruh komponen agribisnis perunggasan melakukan poultry promotion dan publik campign untuk produk unggas yang ASUH (aman,sehat,utuh,halal) serta memberi pemahaman pada masyarakat tentang perbaikan gizi dan kesehatan.
Selain itu pembibit diharapkan melakukan good breeding practice(GBP) dan good hatchery practice (GHP) agar dapat menjaga kualitas DOC yang baik. ”Jangan sampai peternak terhimpit oleh bibit dengan kualis jelek,” terang Paulus. Tapi di lain pihak peternak juga diharapkan menerapkan good farming practice, melakukan biosekuriti secara ketat, meningkatkan efisiensi serta produktifitas dan perbaikan pemasaran dan distribusi.
Kenaikan Bahan Baku
Sementara itu Fenni Firman Gunadi mengatakan bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak dunia berimbas pada kenaikan harga bahan baku pakan ternak. Hampir semua bahan baku ternak mengalami kenaikan, dan kenaikan tertinggi adalah pada bahan baku corn glutein meal (CGM) yang naik sekitar 90 persen. ”Kenaikan harga CGM yang merupakan limbah dari industri pengolahan jagung menjadi minyak ini merupakan bukti dari direbutnya sumber feed oleh fuel,” tutur Fenni.
Menurut Fenni kenaikan harga bahan baku pakan ternak di Jatim belum seberapa bila dibandingkan dengan kenaikan harga bahan baku di daerahnya, Sumatera Utara (Medan). Sebagai contoh adalah saat harga jagung di Jatim sekitar Rp 2.200/kg, di Medan harga jagung mencapai Rp 2.650/kg. Selain itu harga dedak di Jatim sekitar Rp.1.500 sedang di Medan sudah Rp.2.100/kg. “Hal ini cermin kondisi keragaman regional yang harus disikapi secara lebih arif,” tutur Fenni
Kemudian, tarif bea masuk untuk jagung sebesar 5 persen, bagi industri pakan ternak tidak efektif melindungi produksi jagung dalam negeri, karena harga jagung dalam negeri sekarang ini cenderung mengikuti harga jagung internasional bahkan sering sama. Dengan adanya tarif bea masuk maka harga jagung impor jauh lebih mahal. Fenni mengusulkan jika terdapat kekurangan ketersediaan jagung misalnya, alangkah lebih arif jika bea masuknya dicabut seperti yang telah dilakukan pada soybean meal. Fenni mengatakan kenaikan harga bahan baku pakan tidak secara langsung di transfer ke kenaikan harga pakan, karena kenaikan bahan baku telah dibamper oleh pabrik pakan.
Perubahan Perilaku
Pemateri pada sesi kedua adalah Drs. Kresnayana Yahya, MSc. ahli statistik dari ITS – Surabaya dan Ir. Eko Putro Sandjojo, MM , Direktur Utama PT. Humpuss – Jakarta, dengan moderator masih Drh. Heri Setiawan.
Menurut Kresnayana yang membawakan makalah berjudul ‘Status Kecukupan Gizi Masyarakat’, rata–rata konsumsi telur masyarakat kita kurang dari 70 butir per tahun, dan kenyataannya banyak yang lebih rendah dari 50 butir per tahun. Sedang konsumsi daging ayam kurang dari 5-7 kg per orang pertahun.
“Selama ini masayarakat lebih cenderung membeli rokok ataupun pulsa ketimbang sumber protein hewani. Sebagai contoh, pengeluaran untuk rokok sehari rata-rata Rp 17.000, sedang untuk pulsa sebesar Rp 8.000 – 10.000 sehari. Padahal harga telur ayam Rp 10.000 per kg, dan daging ayam dibawah Rp 15.000 per kg,” ungkap Kresnayana.
Menurut Kresnayana kampanye gizi daging ayam dan telur bukan hanya sebatas menawarkan produk tapi juga menyangkut kampanye perubahan perilaku. Karena banyak orang yang telah mampu untuk membeli bahan yang sumber gizi tapi hal itu tidak dilakukan karena perilakunya tidak berubah.
Masih menurut Kresnayana salah satu yang ditakuti masyarakat terhadap produk unggas adalah adanya isu tidak benar seperti kandungan kolesterol dan hormon pada unggas. Dan yang lebih parah lagi masih banyak dokter yang berbicara secara publik tentang kandungan kolesterol pada ayam dan bahaya hormon yang dikandung oleh ayam, bahkan ada dokter yang melarang pasien makan telur karena telur dianggap sumber alergen. ”Saya usulkan, kalau perlu membuat tim advokasi untuk memperingatkan dokter yang bicara ngawur seperti itu, atau bawa ke pengadilan serta dipenjarakan sekalian biar jera,” terang Kresnayana dengan nada keras.
Perluasan Pasar Unggas
Menurut Kresnayana potensi pasar untuk produk unggas masih besar. Hal ini dapat dilihat dari besarnya penduduk usia 15-35 tahun yaitu sekitar 35 persen dari total jumlah penduduk. Kelompok usia ini menjadi potensial sebagai pasar karena mereka mempunyai kebiasaan makan banyak, dengan beragam variasi serta mempunyai selera makan yang berubah-ubah. Tapi disisi lain konsumsi protein mereka masih rendah yaitu sekitar 4 persen. “Hal ini sangat berbeda dengan Eropa yang mencapai 22 persen, jadi kesempatannya masih lima kali lipat.” tutur Kresnayana
Potensi itu juga dapat dilihat dari adanya jumlah ibu hamil dan anak usia di bawah 5 tahun yang sangat besar dalam kurun waktu 10 tahun mendatang, jumlah usia kerja 35-55 dan lansia sangat besar. Bahkan menurut beberapa jurnal makanan yang paling sehat untuk lansia adalah makan telur,” tutur Kresnayana.
Untuk memperluas dan memperbesar konsumsi, lanjut Kresnayana, adalah dengan memberi kemudahan untuk menjadi retailer daging ayam dan telur. ”Kalau perlu membuat seperti multi level sehingga selain bisnis juga kampanye gizi,” terangnya.
 Selain itu adalah dengan menjamin kebersihan, menambah kesan bersih dan kualitas penyajian daging ayam yang makin praktis seperti refrigerated, boneless, ataupun nuget, membangun outlet bersih di setiap publik area seperti di pasar, supermarket dan mendorong retailer makanan berbasis daging ayam dan telur untuk membuat inovasi baru. ”Thailand saja snack-nya lebih banyak protein daging ayam daripada tepung-tepungan, seperti kripik ataupun abon dari ayam,”tutur Kresnayana
Untuk menghadapi mahalnya energi, Kresnayana memberi kiat agar menjual produk unggas dalam bentuk makanan jadi, karena hal ini akan membuat biaya untuk pengolahan menjadi turun dan masyarakat akan lebih mudah mengonsumsinya. “Matang atau tinggal dipanaskan saja.” tutur Kresnayana
Sementara itu Eko Putro Sandjojo dalam paparannya lebih mengarahkan pada masyarakat untuk melakukan konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar bio seperti bio-desel ataupun bio-etanol, penggantian ini karena bahan bakar bio lebih ramah lingkungan dan sumber bahan bakunya dapat diperbarui dalam waktu yang relatif singkat.
Saran Eko untuk pelaku agribisnis perunggasan, agar mengubah paradigma pemasaran produk unggas dari komoditas ke consumer good. Sebagai contoh yang telah terjadi pada susu, minyak goreng ataupun kacang tanah, yang semuanya sudah bermere. ”Kalau susu, minyak goreng, kacang tanah dapat dipasarkan dengan cara tersebut, untuk mendapatkan stabilitas harga dan margin yang lebih tinggi, mengapa produk unggas tidak bisa?” jelasnya. mhsl
Munas Pinsar Unggas Nasional III
MENUJU PERANAN YANG LEBIH BESAR
Bertempat di Hotel Lor In Solo, 22-23 April silam Musyawarah Nasional III Pusat Informasi Pemasaran Hasil Unggas (Pinsar Unggas) Nasional berlangsung semarak dalam suasana keakraban dan kekeluargaan. Pada kesempatan tersebut 14 delegasi pengurus Pinsar wilayah dan daerah secara aklamasi memilih Drh Hartono dari Hartono Farm, Jawa Barat untuk menjadi Ketua Umum Pinsar Unggas Nasional masa bakti 2008-2013.
Sebelumnya, delegasi dari Pinsar Lampung, Jabar, DKI Jakarta, Jateng, DIY, Jatim, Bali, Sulsel, Kaltim, Sumut, Sumbar dan Banten memang telah secara gamblang meminta kembali kesediaan Hartono guna memimpin organisasi ini saat acara pemandangan umum terhadap laporan pertanggungjawaban pengurus Pinsar Unggas Nasional periode 2002-2008. “Kami merasa bangga karena Pinsar tidak hanya memberikan informasi tetapi sudah melangkah lebih maju ke arah asosiasi peternak yang bidang garapannya mengembangkan pasar unggas,” ujar Robby Susanto, wakil delegasi Jawa Tengah.
Pada Munas III ini juga muncul permintaan dari berbagai wilayah agar Pinsar Unggas Nasional bisa lebih berperan di daerah-daerah. Peter Handoko, wakil dari delegasi Kalimantan Timur berharap agar Pinsar Unggas Nasional bisa membantu daerahnya mengontrol harga mengingat selama ini Kaltim menjadi pasar limpahan produk unggas dari Sulawesi Selatan dan Jawa Timur. “Sehingga (Kaltim) harus mengikuti harga telur Jatim,” terang pemilik Ayam Makmur Farm ini.
Hal senada juga disampaikan perwakilan Sumbar, Drh Dodi Mulyadi dari Faliq Farm. Pihaknya berharap supaya Pinsar Unggas Nasional bisa membangun komunikasi dengan organisasi sejenis di Malaysia agar produk unggas Negeri Jiran tersebut tidak menggelontor ke pasar Sumatera.
Peserta juga meminta adanya peningkatan kualitas kelancaran distribusi data dan informasi ke daerah. “Buletin dan website mohon untuk dihidupkan,” pinta Wahyu Suhaji dari Sulawesi Selatan. Sementara Joko Saryanto dari Reteefed Grup Yogyakarta menyarankan agar Pinsar Unggas Nasional dapat memberikan analisis data yang lebih akurat pada setiap informasi pasar yang disampaikan. “Perlu adanya analisis forecasting system atau semacam market intelegence,” ungkapnya. Pasalnya, selama ini persoalan data adalah merupakan permasalahan yang paling pelik untuk dipecahkan.
Tingkatkan Promosi
Hal yang cukup dominan dibahas pada kesempatan itu adalah peran Pinsar Unggas Nasional dalam hal promosi konsumsi produk unggas. Organisasi yang berdiri 23 Maret 1990 itu harus mulai mempererat kerjasama dengan asosiasi yang lain, seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) atau Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) guna menggiatkan kampanye gizi protein hewani. Delegasi Sumatera Barat menegaskan bahwa suara kampanye dari pihak lain, seperti IDI dan PGRI akan jauh lebih efektif ketimbang suara dari para peternak sendiri.
Ahli statistik perunggasan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Drs Kresnayana Yahya, MSc yang menjadi pembicara tunggal dalam rangkaian Munas III tersebut sangat menekankan pentingnya kerjasama dalam promosi ini. Misalnya, saat sekarang konsumsi protein hewani di Jawa Timur baru 4,48% dari total kebutuhan kalori per kapita per hari dari semestinya 12 persen. Rendahnya konsumsi ini tidak meluluh karena rendahnya daya beli. Dari pengamatannya, Yahya melihat adanya kesadaran untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga yang masih kurang. “Musuh kita itu rokok dan pulsa,” tegasnya. Master dari Universitas Wisconsin-Madison Amerika Serikat ini berhitung bahwa pertumbuhan perokok baru di Indonesia mencapai 17 juta orang per tahun. Oleh karenanya jika kampanye tersebut mampu menyadarkan masyarakat dan membuat mereka berusaha untuk memenuhi kebutuhan 12% pangannya dengan protein hewani maka kebutuhan produk unggas saat ini saja sudah harus meningkat 2,5-3 kali lebih banyak. Belum lagi jika masyarakat perunggasan dapat menyosialisasikan sadar protein hewani secara dini kepada 17 juta calon perokok yang baru.
Yahya merasa prihatin bahwa saat ini masyarakat belum mengetahui bahwa harga protein hewani dari telur dan daging ayam adalah yang termurah. Dengan harga telur Rp 11 ribu/kg maka konsumen mendapatkan protein senilai Rp 90/gram. Sementara dengan harga daging broiler Rp 18.500/kg maka harga proteinnya senilai Rp100/gram. Harga protein telur tersebut senilai dengan harga protein tempe karena harga tempe di pasaran mencapai Rp 10 ribu/kg. Demikian juga harga protein pada daging ayam sama murahnya dengan harga protein tahu karena dengan kandungan protein hanya 7,5% harga tahu sudah mencapai Rp 7.500/kg. Sementara itu harga protein hewani dari ikan, susu dan daging sapi sudah mencapai Rp 110 – Rp 275/gram.
Yahya lantas membeberkan beberapa prestasi Masyarakat Peduli Gizi (MPG) Jawa Timur dalam mengampanyekan pentingnya gizi kepada masyarakat. “Saat ini dalam APBD sudah ada dana khusus untuk gizi dan dalam laporan pertanggungjawawabannya, Gubernur harus menyampaikan naik-turunnya angka gizi. Kalau turun kita tanya kenapa,” tuturnya bangga. MPG juga mendapatkan data bahwa sekolah-sekolah yang dijadikan obyek kampanye gizi meningkat kualitas pendidikan siswa-siswanya. “Meski hanya tiga butir telur tetapi bermanfaat sampai tiga bulan. Sehingga mereka minta diadakan lagi,” paparnya. Yahya juga berkisah bahwa seorang dokter di Jatim dicabut ijin praktiknya karena menyatakan telur sebagai sumber kolesterol. “Dituntut di pengadilan dan dicabut ijinnya. Karena yang berkolesterol itu telur berbenih dan telur ayam layer itu tidak berbenih,” terang motivator MPG tersebut. Hal itu menandakan bahwa kampanye protein hewani adalah hal yang sudah sangat mendesak untuk dilakukan.
Optimis
Sementara itu Menteri Pertanian, Anton Apriyantono saat menghadiri pelantikan pengurus mengucapkan terimakasih kepada insan perunggasan yang telah mampu mewujudkan swasembada daging ayam dan telur di dalam negeri. “Tapi, jangan hanya bercita-cita untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Pola pikir kita harus berubah. Tetapkan tekad untuk menjadi pengekspor hasil unggas dan telur meski kita sedang berhadapan dengan banyak masalah, seperti flu burung. Kita harus optimis. Perkembangan ayam ras tahun 2002-2007 meskipun berhadapan dengan masalah flu burung masih tumbuh sampai 12 persen. Ini merupakan bukti. Kita bikin cita-cita yang tinggi, kita kejar dan masalahnya kita selesaikan. Food crisis adalah peluang karena harga pangan membaik. Kita punya sumber daya alam dan sumber daya manusia,” tandasnya bersemangat.
Menanggapi permintaan Pinsar agar pemerintah memfasilitasi pembukaan pintu ekspor maka Mentan berjanji akan membantu dengan model sertifikasi penjaminan yang berdasarkan zona. “Kalau menunggu bebas flu burung (maka) saya khawatir karena tidak mudah untuk menghilangkan virus atau bakteri. Kita masih bisa ekspor dengan zonasi atau kompartemen. Karena sapi  boleh, kenapa unggas tidak. Kita pilih satu pulau, kita pelihara dan kita ekspor. Kita harus berani. Jangan mau didikte. OIE (Organisasi Kesehatan Hewan Dunia) juga sudah menyadari mengelola negara besar seperti Indonesia, Amerika, Argentina dan Brazil itu tidak mudah,” jelasnya.
Mentan selanjutnya juga menyatakan bahwa semakin maju suatu negara maka jumlah petaninya semakin sedikit namun skala usahanya semakin besar. Hal itu merupakan suatu kewajaran guna mencapai titik efisiensi. Namun, karena sektor pertanian dan juga peternakan merupakan pembuka ruang kerja maka jalan satu-satunya adalah dengan mengembangkan peternakan dari hulu hingga hilir secara sempurna.
Sementara itu Hartono sebagai ketua umum yang baru mengajak kepada semua peternak untuk dapat bersatu dalam mengembangkan perunggasan nasional. “Kita juga minta doa dan dukungan pemerintah agar bisa kembali mengekspor produk unggas setelah flu burung,” tegasnya.
Penghargaan
Pada Munas III ini juga disampaikan penghargaan kepada dua tokoh perunggasan nasional, yaitu Karyoto dan Yoseph Setiabudi yang keduanya tinggal di Jakarta. Karyoto mendapatkan penghargaan dari Pinsar Unggas Nasional sebagai Peletak Dasar Pembangunan Industri Peternakan Nasional. Tokoh yang dua kali memimpin Pinsar ini sudah lama berjuang di bidang agribisnis perunggasan bahkan sebelum organisasi tersebut berdiri.
Sedangkan Yoseph Setiabudi mendapatkan penghargaan sebagai Pelopor Inovasi Industri Perunggasan Nasional. Setiabudi adalah peternak yang merintis pemasaran telur bermerek, seperti telur omega-3.
Selain pemberian penghargaan, pada Munas III ini juga dilakukan penyerahan santunan kepada anak yatim piatu di Panti Asuhan Pamardi Yoga Solo. Acara juga disisipi kampanye gizi yang dilakukan secara simbolis oleh Mentan Anton Apriyantono di Hotel Lor In Solo.  Ism