Huang Tanto Sugito menjelaskan produk Adam Poultry kepada Dirjen PKH, I Ketut Diarmita
Dalam gelaran Indo Livestock 2019 yang terselenggara 3-5 Juli 2019 silam, Huang Tanto Sugito tak henti-hentinya kedatangan pengunjung. Bagaimana tidak, terletak di posisi yang paling strategis yaitu di pintu masuk Hall pameran Grand City Convex. Begitu pengunjung memasuki area pameran, maka sulit untuk tidak tertarik dan mampir ke stand peralatan ayam ini. Adam Poultry Equipment berhasil mengundang rasa penasaran pengunjung pameran, banyak dari pengunjung pameran mampir dan sekedar bertanya-tanya dan menggali informasi yang lebih jauh terkait dengan peralatan budi daya yang terkesan futuristik.
Bermodalkan pengalaman selama dua puluh lima tahun melayani sektor penyedia peralatan budi daya, membuat nama Adam Poultry selalu diperhitungkan dalam persaingan bisnis poultry equipment. Menurut Huang, saat ini Adam Poultry masih tetap fokus di lini produk peralatan untuk budi daya ayam ras pedaging dan petelur. Namun kali ini, Adam Poultry memiliki sebuah inovasi baru bagi para peternak yang memiliki keterbatasan lahan namun ingin tetap melanjutkan usaha budi daya.
Berat kerja keras seluruh tim Adam Poultry Equipment, memenangkan 2nd Best Stand Performance
Faktor lahan yang semakin terbatas di beberapa wilayah Indonesia, membuat peternak harus memutar otak untuk melakukan usaha budi daya. Memang lahan untuk budi daya semakin mengecil sehingga perlu solusi untuk mengatasi masalah ini. “Kalau untuk kandang yang efisien itu memang harus panjang. Tapi kan kadang terbentur dengan lahan tersedia, maka dari itu kami tetap memiliki berbagai solusi untuk mereka yang memiliki keterbatasan lahan,” jelas Huang.
Seiring dengan berjalannya waktu, edukasi masyarakat perunggasan tentang modernisasi perkandangan juga terjadi dimana mana. Kesadaran masyarakat akan efisiensi dan biosekuriti membuat banyak peternak yang tertarik dengan modernisasi kandangnya. Dari peternak yang awalnya konvensional menjadi semi modern, maupun fully automated system.
Dalam memberikan servis kepada pelanggannya, tim dari Adam Poultry selalu mempertimbangkan kelebihan khusus dari pelanggannya dalam pelaksanaan proyek. Misalnya mereka punya tukang kayu atau besi, silahkan dipakai. “Prinsipnya kita mempersilahkan kepada konsumen kami untuk menggunakan resources lokal yang ada agar investasi bisa lebih ringan. Nanti kami berikan cara dan pendampingan agar bangunan kandang tersebut sesuai dengan spek alat yang sudah dipesan,” papar Huang.
Selain itu servis yang diberikan oleh tim Adam Poultry, tidak hanya kepada peternak yang ingin kandang baru, namun juga kepada peternak yang ingin melakukan modifikasi dari kandang konvensional menjadi kandang modern. “Pelanggan kami itu juga banyak yang dari peternakan konvesional. Kami berikan servis agar bagaimana kandang peternak tersebut bisa menjadi kandang closed house modern. Biasanya mereka (peternak) yang merenovasi, kami dari segi pendampingan teknis sampai alat terpasang,” jelas Huang.
Stan Adam Poultry Equipment selalu ramai oleh pengunjung Indo Livestock 2019
Peralatan yang dipamerkan oleh Adam Poultry tak sebatas kandang baterai saja. Terdapat produk lainnya yang menjadi daya tarik, seperti cage Day Old Chick (DOC), cage broiler, nipple drinker, sprayer embun Mist-er untuk mendinginkan kandang terbuka, alat pendingin untuk closed house, dll menjadi sederet peralatan modern yang ditawarkan. Hal itu tentu menegaskan bahwa Adam Poultry ingin adanya akselerasi teknologi di perunggasan nasional.
Menurut Huang Tanto, kini, sudah saatnya peternak Indonesia mulai memanfaatkan teknologi untuk terciptanya efisiensi. “Saat ini masih banyak yang memegang teguh metode tradisional. Jika melihat perkembangan perunggasan saat ini, tentunya akan kalah saing,” ujar dia. Huang Tanto juga mengingatkan, bahwa pesatnya perkembangan teknologi bukan untuk dihindari, namun diadaptasi dan dimanfaatkan untuk kemajuan produksi.

Baca Juga : Daya Tarik Sektor Perunggasan

Ada yang berbeda dari tren budi daya saat ini. berawal dari pemikiran keterbatasan lahan yang harus memaksa peternak untuk membangun kandang secara bertingkat, ada ruang yang terbuang dari kandang dengan atap yang tinggi. “Sekarang itu ada tren yang berbeda. Kita memelihara ayam yang tingginya cuma 35 cm tapi kita tidak bisa membuat bangunan dengan tinggi tiang untuk 1 lantai cuma 50 cm. Minimal tinggi bangunan 1 lantai itu sekitar 200 cm karena kita harus memperhitungkan tinggi orang yang akan memberi pakan, minum ayam, dan lainnya,” jelas Huang.
Oleh karena itu, menurut Huang, ruang kosong yang tersedia dalam kandang tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan untuk menambah populasi dengan bentuk vertikal. Dengan menggunakan rak untuk memelihara ayam, seharusnya ruang kosong tersebut dapat diisi oleh ayam sehingga otomatis meningkatkan efisiensi. “Jadi dengan tinggi yang sama yaitu sekitar 2 meter, bisa diisi dengan rak 3 tingkat. Secara ekonomis ini lebih murah daripada membangun bangunan 3 lantai @ 2m dengan tinggi total 6 meter. Ini bisa jadi solusi kedepannya agar budi daya bisa efektif dan efisien,” papar Huang.
Dengan partisipasi aktif Adam Poultry dalam konsistensi menarik perhatian pengunjung selama 3 hari penyelenggaraan pameran, Panitia penyelenggara pameran Indo Livestock 2019 memberikan penghargaan berupa 2nd Best Performance stand. Menurut Huang penghargaan ini tentunya didapat atas kerja keras timnya selama 3 hari penyelenggaraan. “Dengan disain stand menarik dan ditampilkannya peralatan peternakan yang up to date yang sedang diperlukan, tentunya pengunjung akan mampir ke stand kami. Dibarengi dengan pelayanan yang baik dari tim kami, para pengunjung setelah berkeliling ke stand-stand yang lain pasti akan kembali ke stand Adam Poultry,” tandas Huang Tanto, sesaat setelah mendapatkan penghargaan. Adv