Para peserta CPBSA Batch II mengabadikan momen bersama saat mengunjungi Beijing CP Egg Industry (BCE) di distrik Pinggu.
Dengan kurang lebih 60 mahasiswa yang telah mendaftar, program CPBSA Batch II pada tahun ini mendapatkan antusiasme tinggi. Mereka berkompetisi dan menampilkan performa terbaik untuk menyandang predikat penerima CPBSA. Melalui proses dan tahapan yang telah ditentukan, terseleksilah 12 mahasiswa sebagai penerima beasiswa CPBSA Batch II per tahun 2018 dari berbagai universitas tanah air antara lain; Universitas Andalas, Institut Pertanian Bogor, Universitas Padjadjaran, Universitas Diponegoro, Universitas Gadjah Mada, Universitas Jenderal Soedirman, Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, dan Universitas Hasanuddin. Berbeda dengan angkatan sebelumnya yang hanya diikuti oleh mahasiswa dari jurusan peternakan, untuk program CPBSA Batch II, mahasiswa tingkat akhir jurusan kedokteran hewan dan jurusan umum lainnya juga diberikan kesempatan untuk mengikuti seleksi program ini.
Jemmy Wijaya, Direktur PT Charoen Pokphand Indonesia dan juga selaku penggagas program CPBSA dalam satu kesempatan mengemukakan jika program CPBSA bukan wujud pemberian apresiasi semata untuk mahasiswa berprestasi. Namun, ia berharap melalui program CPBSA ini dapat menghantarkan para mahasiswa melihat gambaran industri peternakan yang akan mereka geluti di masa depan dan juga sebagai persiapan mental serta melatih skill mereka untuk kebutuhan industri dalam dunia kerja kelak. Untuk itu berbeda dengan angkatan ke-1, penerima CPBSA Batch II diharuskan mengikuti praktik kerja lapangan selama kurang lebih dua bulan di unit-unit bisnis CPI yang berada di wilayah area Sumatra, Jawa, dan Sulawesi.
Penyeleksian lebih kompetitif
Penyeleksian kandidat penerima CPBSA Batch II dimulai pada bulan Mei 2018, dengan seleksi awal para kandidat harus mengirimkan Curriculum Vitae (CV), Surat Rekomendasi Fakultas, dan juga Video “Why Me”, sebuah video yang harus dibuat oleh para kandidat dengan konten yang menggambarkan mengapa mereka berhak untuk dipilih sebagai penerima CPBSA, dan sampai sejauh mana para kandidat menampilkan kreativitasnya dalam melakukan ‘branding image’ dirinya sendiri. Hal tersebut dikarenakan dalam menghadapi era industri 4.0, kita sebagai SDM dituntut untuk tidak hanya memiliki basic intellectual namun juga harus mampu membekali diri dengan kreativitas yang mampu bersaing dengan SDM lainnya di dunia kerja yang serba tergantung dengan kemampuan berkomunikasi dalam dunia digital nantinya.
Presiden Direktur PT CPI Thomas Effendy, pada acara ramah-tamah dalam rangka menyambut kedatangan peserta CPBSA 2018 di Jakarta (12/9), mengungkapkan bahwa tujuan program CPBSA ini, PT CPI ingin memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk membuka wawasan dan pengetahuan dengan harapan nantinya mereka dapat memunculkan inovasi-inovasi baru di industri peternakan, khususnya perunggasan.
“Kami ingin agar anak-anak kita ini belajar dengan mengajak mereka untuk melihat kemajuan di negara lain. Dari sana, kami mengharapkan bisa membuka pikiran mereka, memperluas cara pandang mereka, sehingga menjadi pemicu bagi mereka untuk bekerja keras dan menjadi pribadi yang lebih mencintai Indonesia serta berkeinginan membangun Indonesia khususnya di industri peternakan. Supaya kita bersama-sama membuat Indonesia ini maju,” harap Thomas.
Sharing session peserta CPBSA Batch II bersama CPI.
Dalam kesempatan yang sama juga diadakan agenda sharing session bersama dengan Direktur Human Capital PT CPI Sudirto Lim yang sekaligus memberikan pembekalan kepada para penerima CPBSA sebelum keberangkatan ke China. Setiap peserta pun berbagi pengalaman mereka selama magang di unit usaha CPI yang berada di sejumlah wilayah. Diskusi tersebut berjalan interaktif sehingga banyak bermunculan gagasan baru dari para peserta khususnya untuk kemajuan industri perunggasan.
Studi banding industri perunggasan
Tak hanya merasakan pengalaman praktik kerja lapangan di unit-unit bisnis PT CPI, penerima CPBSA Batch II diberikan kesempatan yang mungkin tidak datang kepada semua orang. Kesempatan itu berupa perjalanan ke China, tepatnya ke kota Beijing, Nanjing, dan Shanghai pada 13-20 September 2018. Namun bukan hanya kunjungan wisata saja yang menjadi tujuan utama berada di China tapi terdapat agenda yang diharapkan dapat memperkaya keilmuan para mahasiswa dengan studi banding ke Beijing CP Egg Industry, unit bisnis Charoen Pokphand Group China dan juga melihat pameran peternakan terbesar negeri Tiongkok, VIV China 2018.
Ali Imron, Assistant Vice President – Human Capital PT CPI dan juga ketua panitia CPBSA Batch II berujar bahwa, “berwisata ke China memang menjadi semacam reward bagi para penerima CPBSA Batch II, namun terdapat goal pentingnya selama di China, kami ingin para mahasiswa belajar dan melihat perbandingan industri peternakan China dan Indonesia melalui serangkaian agenda studi banding ke unit perusahaan CP China dan juga kunjungan ke pameran VIV China,” jelas Ali Imron.
Beijing menjadi kota persinggahan pertama saat tiba di China. Pagi pertama di Beijing (14/9), rombongan CPBSA diajak untuk mengunjungi Beijing CP Egg Industry (BCE) di distrik Pinggu. BCE merupakan perusahaan layer terbesar di benua Asia yang berdiri di area hijau seluas 779 hektar. BCE menjadi mega proyek layer Charoen Pokphand Group yang pertama kali beroperasi pada tahun 2012. Selama touring di area BCE, rombongan dipandu oleh Mr. Yang Guanjun, selaku President Assistant Beijing CP Egg Industry, dan juga Direktur Human Capital PT CPI Sudirto Lim yang secara khusus datang dari Jakarta.
Mr. Yang Guanjun, President Assistant Beijing CP Egg Industry, memandu peserta melihat lebih dekat plant CP yang berada di distrik Pinggu.
BCE menjadi salah satu gambaran perusahaan di industri perunggasan yang telah menerapkan teknologi mutakhir dalam setiap aktivitasnya. Para peserta diajak untuk melihat fasilitas pemrosesan telur mulai dari collecting egg hingga proses pengemasan. Tidak hanya itu, pada satu sesi khusus, para peserta CPBSA juga diajak untuk menyaksikan video mengenai perjalanan CP Group di China dan kegiatan apa saja yang dijalankan. Kesempatan tersebut pun dimanfaatkan oleh seluruh peserta untuk mengajukan berbagai pertanyaan, menggali informasi mengenai teknologi yang diterapkan disana, dan berbagai hal lainnya seputar dunia perunggasan, sehingga ilmu yang didapat selama berkunjung ke unit CP di China tersebut bisa bermanfaat bagi industri perunggasan di Indonesia yang lebih maju.
Dari Beijing perjalanan tour diteruskan ke kota Nanjing, tempat berlangsungnya pameran VIV China 2018 dengan menggunakan bullet train, yang dikenal sebagai salah satu kereta tercepat di dunia. Nanjing merupakan kota industri bagian dari provinsi Jiangsu yang kini menjadi pusat industri agrikultur negara China.
VIV China menempati 3 hall besar di Nanjing International Expo Centre (NIEC) dan 1 hall terpisah yang digunakan untuk berbagai acara konferensi, dan seminar. Terlihat rombongan CPBSA dibuat kagum ketika memasuki hall pameran, apalagi saat tiba di hall 4 yang banyak menampilkan peralatan-peralatan peternakan dalam ukuran besar. Tidak hanya berbagai mesin dan alat peternakan yang ditampilkan, namun juga inovasi di bidang feed additive yang tidak kalah berkembang pesat. Selain itu, peserta menghadiri konferensi yang membahas mengenai perkembangan industri peternakan.
Melihat sekaligus menggali ilmu mengenai perkembangan industri peternakan di VIV China 2018.
“Saya jadi lebih tahu bagaimana arah perkembangan industri peternakan global melalui kunjungan ke VIV China, dimana Indonesia juga diakui sebagai salah satu negara yang berpotensi menjadi market leader industri peternakan,” ungkap Syaiful Haq Baderuddin, salah satu penerima CPBSA Batch II yang berasal dari Universitas Brawijaya. Syaiful juga mengatakan, selama melakukan perjalanan di China, ia mendapat banyak pengalaman baru, diantaranya mengenai sistem peternakan yang diterapkan di China sehingga dapat memajukan peternak disana dan bukan hanya segelintir orang saja. Menurutnya, inilah yang seharusnya bisa diadaptasi oleh Indonesia.
Para peserta yang lain pun aktif mengunjungi berbagai stand perusahaan dan berdialog langsung dengan para pelaku usaha di industri peternakan yang hadir dalam pameran peternakan internasional terbesar di China tersebut.
Wisata sejarah di negeri tirai bambu
Selama berada di China, rombongan CPBSA diajak untuk mendatangi tempat-tempat yang lekat dengan sejarah peradaban bangsa Tiongkok, seperti Great Wall of China, Summer Palace, Temple of Heaven, Forbidden City, dan juga alun-alun yang mahsyur dekat dengan gedung parlemen pemerintah, Tian An Men Square.
Mengunjungi Great Wall of China yang merupakan salah satu keajaiban dunia.
Perjalanan juga termasuk berkunjung ke sejumlah tempat, antara lain ke Masjid tertua di Nanjing, Jingjue Mosque, kemudian ke Nanjing Massacre Museum, yang didalamnya memamerkan berbagai ribuan dokumen dan artefak sejarah terkait pembantaian warga Nanjing saat pendudukan tentara Jepang tahun 1937.
Kota Shanghai menjadi persinggahan terakhir. Saat di Shanghai peserta mengunjungi landmark Kota Shanghai, yaitu Oriental Pearl Radio & TV Tower yang pernah menjadi menara tertinggi di China. Malam terakhir di Shanghai dihabiskan dengan menaiki Huangpu River Cruise, kapal wisata yang mengajak rombongan untuk mengitari Sungai Huangpu sambil menyaksikan pemandangan city light yang mengesankan dari gedung-gedung pencakar langit sepanjang tepian Sungai Huangpu.
Diakui oleh para peserta, berkunjung ke Negeri Tirai Bambu dan melihat langsung berbagai tempat yang memiliki sejarah penting bagi China ini dapat membuka cakrawala berpikir semakin luas. Bagaimana China membangun negaranya dengan kerja keras ditambah penguasaan teknologi yang menjadikannya sebagai salah satu negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Melalui kegiatan CPBSA yang kali ini memasuki tahun kedua dalam pelaksanaannya, mahasiswa juga diperlihatkan pada kemajuan negara China di sektor peternakan.
Diharapkan, ilmu dan pengalaman yang didapatkan selama mengikuti program CPBSA sejak magang hingga studi banding ke China, para generasi muda ini dapat membawa industri perunggasan Indonesia kedepan menjadi lebih baik dengan kreativitas, inovasi, dan karya nyata mereka. Sehingga bukan tidak mungkin, Indonesia menjadi tempat belajar bagi negara lain sama seperti yang dilakukan saat ini oleh para penerima CPBSA.
Melalui berbagai cara, para penerima CPBSA membagikan pengalamannya dan menularkan semangat mereka untuk membangun industri peternakan yang lebih berdaya saing, salah satunya melalui situs pribadi, talkshow, hingga sosial media. Pengalaman para peserta CPBSA tersebut dapat dilihat melalui Youtube channel “CHAROEN POKPHAND BEST STUDENT APPRECIATION” dan Instagram @cpbsa.cpi.