Foto bersama dengan seluruh peserta acara seminar Asohi
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Revolusi Industri 4.0 menjadi isu yang ramai diperbincangan di banyak negara akhir-akhir ini. Menurut Bayu Krisnamurthi, akademisi Institut Pertanian Bogor yang juga wakil menteri perdagangan pada era Presiden SBY, mengungkapkan bahwa Revolusi Industri 4.0 memiliki 4 pilar utama yaitu internet of everythings and network (IoE+N), Big Data (BD), Robotic (R) dan Artificial Intelligence (AI).
“Berbicara Big Data, data itu banyak sekali jumlahnya. Misal data yang diambil dari facebook, kita ambil contoh foto yang berkaitan dengan kuliner, itu kita bisa tarik dan dibuat statistik. Kita bisa hitung, berapa banyak orang yang membuat foto yang berkaitan dengan ayam goreng misalnya, maka kita bisa dapatkan info mengenai hal yang berkaitan dengan ayam goreng. Kita sebenarnya bisa memanfaatkan kecanggihan Big Data itu,” terangnya saat menjadi pembicara pada Seminar Nasional Bisnis Peternakan di Jakarta, Kamis (22/11).
Dalam seminar yang mengusung tema “Meningkatkan Konsumsi Protein Hewani Menuju Generasi Industri 4.0” itu, Bayu menilai bahwa dalam kondisi seperti sekarang, mayoritas industri yang ada di Indonesia masih berada pada posisi Revolusi Industri 2.0 dan 3.0, di mana ciri tersebut didominasi oleh penggunaan tenaga elektrik dan komputer. “Kita boleh saja mengikuti perkembangan Revolusi Industri 4.0, tapi tidak perlu terlalu risau, tapi juga jangan berdiam diri karena gelombang perubahan ini sangatlah cepat,” kata Bayu.
Wakil menteri perdagangan pada era Presiden SBY ini juga mengungkapkan, perkembangan Revolusi Industri 4.0 di Indonesia masih belum begitu menonjol, hal itu berdasarkan data yang dipaparkan bahwa penerapan Revolusi Industri 4.0 baru sekitar 5 persen. “Kalau yang berhubungan dengan peternakan, maka sektor unggas yang sudah mulai menuju ke sana. Contoh yang bisa terlihat adalah tata kelola kandang modern yang sudah berbasis internet. Tapi kalau dihitungpun sebenarnya belum begitu banyak kandang yang menerapkan sistem seperti itu,” paparnya.
Narasumber lain, Irawati Fari, yang merupakan Ketua Umum Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) sekaligus penyelenggara seminar, mengatakan bahwa hadirnya Revolusi Industri 4.0 menjadi titik di mana semua stakeholder peternakan harus bisa bersinergi dan bergandeng tangan sehingga industri peternakan di Indonesia bisa semakin maju dan berjalan dengan baik.
“Tahun depan akan kita lihat sama-sama, apakah industri peternakan Indonesia akan tumbuh atau hanya jalan di tempat. Oleh karena itu, dalam seminar ini semua pihak akan berbicara termasuk pemerintah. Revolusi Industri 4.0 harus kita lihat sebagai tantangan baru pada industri peternakan,” ujarnya.
Seminar yang diselenggarakan sejak pagi hingga sore hari itu juga turut menghadirkan pembicara lain seperti Direktur Pakan, Sri Widayati, Kasubdit Standarisasi dan Mutu Ternak, Muhammad Imran, dan Direktur Kesehatan Hewan, Fadjar Sumping Tjatur Rasa, yang ketiganya merupakan pejabat dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan.