Proses pendinginan dapat membantu menurunkan proses pembusukan jika dilakukan secara tepat (Sumber Foto : Marco Verch Flickr  Link Foto)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Dalam skala rumah tangga, ketika berbelanja daging ayam di pasar tradisional atau di pasar swalayan, harus mengetahui prinsip-prinsip penanganannya, termasuk prinsip penyimpanannya secara benar. Penyimpanan produk daging ayam dapat dilakukan melalui penyimpanan dingin atau beku. Masalahnya adalah, seberapa aman menyimpan daging baik penyimpanan dingin ataupun penyimpanan beku? Hal itu adalah pertanyaan yang wajar, terlebih bakteri berbahaya penyebab penyakit memang paling sering terjadi pada produk daging segar.
Sebagai sumber protein hewani yang sangat terjangkau masyarakat luas, konsumsi daging ayam baik yang segar, dingin atau beku tak bisa dihentikan hanya karena kekhawatiran seperti itu. Membeli daging ayam segar di pasar setiap hari ke pasar memang bisa dilakukan, dengan syarat kita mempunyai cukup waktu untuk pergi ke pasar, memilih daging ayam yang diinginkan, dan membawa pulang untuk kemudian mengolahnya. Lain halnya jika waktu untuk berbelanja sangat terbatas karena kegiatan sehari-hari, maka peyimpanan daging di kulkas dapat menjadi solusi yang paling bayak dilakukan. Cukup beberapa kali saja berbelanja ke pasar tradisional atau pasar modern untuk membeli daging dalam jumlah cukup banyak, sebagai bahan persediaan selama beberapa minggu ke depan.
Baca Juga : Produksi dan Perdagangan Daging Dunia
Bagaimana cara yang benar menyimpan daging ayam agar umur simpannya lebih lama, namun tetap terjaga kualitasnya? Cara terbaik adalah dengan disimpan di tempat yang selalu terjaga suhunya tetap rendah. Suhu rendah bisa membuat daging lebih awet, karena pada suhu rendah tersebut, bakteri berbahaya menjadi dorman atau tidak aktif. Bakteri-bakteri berbahaya dalam daging tidak mati, sehingga ketika suhu lingkungan kondusif, bakteri menjadi bangun, dan kembali beraktifitas dan berkembang biak, sehingga merusak daging ayam, Jika daging ayam disimpan dalam suhu beku, maka daging dapat disimpan dalam suhu yang relatif panjang, bisa mencapai satu tahun.
Yang patut diingat, suhu pembekuan daging bukan pada suhu 0 °C seperti misalnya es batu yang sudah bisa beku pada suhu tersebut. daging beku baru bisa memenuhi syarat yang benar kalau suhu pembekuannya setidaknya berada pada minimal suhu – 18 °C. Pada posisi suhu itu, harus terus dipertahankan konsistensinya untuk menghindari ancaman dari bakteri berbahaya yang bisa ‘bangun’ yang bisa merusak daging. Kondisi ini merupakan titik rentan penyimpanan beku. Oleh karenanya, pintu freezer pada lemari pendingin sebaiknya jangan terlalu sering dibuka tutup, atau bahkan terlalu sering mengeluarkan dan memasukkan daging ayam ke dalamnya. Jika terlalu sering melakukan buka tutup pintu freezer, maka dapat menaikkan suhu freezer -yang berarti membuka peluang bangun dan berkembangbiaknya bakteri berbahaya dalam daging.
 Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2019 dengan judul “Teknologi Pengawetan Daging Ayam”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153