Telur mengandung protein dan air yang cukup tinggi yang disenangi oleh mikroorganisme. (Foto : Andriano_CZ)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang mudah dicerna dan memiiki kandungan gizi lengkap. Menurut Syarif dan Halid pada bukunya yang berjudul Buku Monograf Teknologi Penyimpanan Pangan, kuning telur mengandung bahan padat yang terdiri dari protein, lipid (trigliserida; fosfolipid dan kolesterol), karbohidrat dan abu. Telur juga mengandung protein dan air yang cukup tinggi, yang menjadikan telur sebagai media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme. Telur dapat digunakan sebagai bahan biologi dan bahan pangan.
Santoso dan Wijanarko dalam penelitiannya yang berjudul “Mutu Telur Ayam Ras Segar pada Berbagai Tingkat Pemasaran di Daerah Bogor” menjelaskan, sebagai bahan biologi, telur merupakan sumber nutrisi yang lengkap, yang memang disiapkan untuk menunjang kehidupan serta perkembangan embrio dengan sempurna.
Baca Juga : Enzim Fitase, Solusi Tepat Atasi Penurunan Kualitas Telur
Sebagai bahan pangan asal hewan, telur merupakan salah satu sumber protein hewani yang memiliki cita rasa lezat dan bergizi tinggi. Selain itu, telur juga merupakan salah satu bahan makanan yang paling sering dikonsumsi oleh masyarakat karena harganya yang murah dan mudah diperoleh. Telur yang umum dikonsumsi oleh masyarakat adalah telur ayam, bebek, puyuh dan angsa. Ada banyak mitos yang beredar mengenai telur yang tersebar secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Salah satunya adalah kebiasaan mengonsumsi telur dapat menyebabkan bisulan. Lalu, apakah mitos ini benar?
Bisul atau yang biasa disebut furunkel merupakan radang atau infeksi yang disebabkan oleh bakteri, yaitu Staphylococcus aureus. Bisul biasanya merupakan tonjolan yang berisi nanah di bawah kulit dan merupakan penyakit kulit yang dapat terjadi pada siapa saja yang kurang memperhatikan kebersihan. Bakteri S. aureus biasanya masuk melalui luka pada kulit. Salah satu contoh hal yang sering kita lakukan yang dapat menyebabkan bisul adalah menggaruk kulit hingga timbul lecet atau luka. Luka pada kulit ini merupakan pintu masuk untuk segala macam bakteri, termasuk S. aureus.
Baca Juga : Benarkah Telur Mentah Lebih Berkhasiat
Respons pertama dari tubuh adalah melawan infeksi ini yang kemudian menyebabkan reaksi inflamasi. Reaksi inflamasi ini menyababkan pembentukan pus atau nanah yang merupakan gabungan dari sel darah putih, bakteri dan sel kulit mati. Banyak orang tua yang menakut-nakuti anaknya dengan mitos ini karena selalu makan dengan lauk telur. Namun, salah satu alasan logis mengapa bisul lebih sering terjadi pada anak-anak adalah karena mereka sering bermain di sembarang tempat dan menyentuh benda-benda kotor.
Bermain di lingkungan yang kotor sering kali menyebabkan rasa gatal. Terkadang secara tidak sengaja. mereka akan menggaruk bagian tubuh yang gatal dengan tangan yang kurang bersih. Di sinilah bakteri S. aureus masuk dan menyebabkan bisul. Setelah mengetahui penyebab pasti dari bisul, dapat disimpulkan bahwa anggapan yang mengatakan terlalu banyak mengonsumsi telur dapat menyebabkan bisulan adalah salah besar. Menjaga kebersihan diri dan sekitar merupakan hal yang harus diperhatikan agar tidak terjadi bisul. DRP