Perlunya sinergi antar kementerian, lembaga, dan akademisi untuk riset dan arah pengembangan ayam lokal (Foto : PI_Domi)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Foto Ayam Pelung dengan ragam warna dan ukuran terpampang di salah satu situs jual beli online. Harga yang dipatok pun bervariasi. Seekor Ayam Pelung berwarna putih dengan usia sembilan bulan mencuri perhatian dengan harganya yang mencapai Rp 5 juta. Di sampingnya, beberapa Ayam Pelung tampak gagah dengan tubuh tegap dan digadang-gadang memiliki suara nyaring nan melengking. Sebagian besar dari ayam tersebut bisa dibawa pulang dengan harga di atas Rp 1,5 juta. Bibit Ayam Pelung pun tersedia dengan harga mulai dari Rp 50.000.

Upaya pengembangan ayam lokal merupakan kerja kolektif yang perlu melibatkan banyak pihak. Para peternak tidak bisa berjalan sendiri tanpa disertai rangkulan pemerintah, dorongan perusahaan swasta, dedikasi akademisi dan kesadaran masyarakat umum untuk ikut serta mendukung perkembangan sumber daya genetik berharga ini.

Wakil Ketua Himpunan Peternak Penggemar Ayam Pelung Indonesia (HIPPAPI) Jawa Barat, Deden Jimat, mengatakan bahwa tumbuhnya bisnis ayam lokal, terutama Ayam Pelung secara online menandakan semakin banyaknya masyarakat yang menggemari ayam tersebut. Bahkan, menurutnya, animo itu kian terlihat dengan kemunculan berbagai grup di media sosial yang spesifik membahas segala kegiatan bisnis ayam lokal. “Sekarang banyak pemain baru berdatangan, namun pemain lama pun masih banyak yang bertahan,” ujarnya, Minggu (2/9).
Baca Juga : Gapali, Belum Saatnya Menuju Industrialisasi
Ia juga menambahkan bahwa kini peminat Ayam Pelung telah tersebar ke berbagai daerah, bukan hanya di daerah sentra seperti Cianjur, Sukabumi, Bandung, Garut dan Tasikmalaya. “Sudah ke luar Pulau Jawa. Ayam Pelung digemari juga di Kalimantan, Sulawesi, Sumatra dan Bali,” imbuhnya. Pertumbuhan minat terhadap Ayam Pelung tak lepas dari upaya HIPPAPI dalam melakukan sosialisasi yang berkesinambungan.
Menurut Deden, ia bekerja sama dengan Dinas Peternakan Jawa Barat untuk terus membuat masyarakat peduli terhadap kelestarian Ayam Pelung. “Kami menyelenggarakan kontes Ayam Pelung tiap minggunya. Dari dinas pun mendukung acara ini, seperti dengan menyediakan tempat kegiatan,” ungkapnya. Hal ini menurutnya penting dilakukan karena mampu menambah jumlah para penghobi Ayam Pelung.
Baca Juga : Membentuk Galur Murni Ayam Lokal Indonesia
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Pertanian juga terus menggalakkan upaya pelestarian ayam lokal. Program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (Bekerja) menjadi langkah pemerintah dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat, melalui pengoptimalan sektor pertanian dan peternakan. Salah satu jenis ternak yang dibagikan adalah ayam lokal sebanyak 10 juta ekor, yang dialokasikan bagi 200.000 rumah tangga miskin (RTM). Kelak setiap RTM akan memperoleh 50 ekor ayam lokal yang telah disertai pakan dan juga kandangnya. Program ini diharapkan mampu memperbanyak jumlah pembudi daya ayam lokal, sehingga populasi ayam lokal terus meningkat dan tersebar luas ke berbagai daerah.
Menteri Pertanian Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP. menegaskan bahwa program ini akan tuntas sebelum tahun 2018 berakhir. “Program berjalan lancar. Kami menargetkan tahun 2018 ini selesai,” ujarnya saat dijumpai di Bogor, (18/9). Ia memastikan bahwa penyaluran bantuan 10 juta ayam lokal kepada RTM akan terlaksana sesuai target yang telah dicanangkan sebelumnya, baik secara jumlah maupun cakupan daerah.
Artikel ini adalah artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Oktober 2018 di halaman 30 dengan judul “Bersinergi Mengembangkan Ayam Lokal”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153