Hanya sebanyak 20 persen dari keseluruhan peternak di Indonesia yang menerapkan teknologi Closed House
POULTRY INDONESIA – Jakarta, Setitik proses perubahan tetaplah berarti. Meski lambat, perjalanan menuju bisnis perunggasan yang lebih baik perlu dilakukan. Melihat fakta di lapangan, mekanisasi budi daya unggas secara menyeluruh masih membutuhkan proses panjang yang tak mudah. Bahkan persentase penerapan teknologi canggih semacam closed house di Indonesia pun baru mencapai sekitar 20 persen. Angka tersebut tertinggal jauh bila dibandingkan negara Asia Tenggara lain seperti Malaysia dan Thailand. Namun, hal itu bukanlah sebuah alasan untuk menjadi pesimistis.

Transfer teknologi secara merata ke berbagai dearah di Indonesia masih menghadapi sekian hambatan. Permodalan, lahan representatif dan kecakapan pengetahuan adalah sederet hal yang harus diperhatikan.

Bukan hanya di Malaysia, Vietnam pun semakin berbenah diri dalam melakukan mekanisasi perunggasan. Negara yang beribu kota di Hanoi itu kian meningkatkan daya saing seiring terbukanya persaingan Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) dan Trans Pacific Partnerships (TPP).  Menurut Ekonom Perunggasan Arief Daryanto, Ph.D. dalam artikel berjudul Modernisasi Industri Perunggasan di Vietnam, yang diterbitkan oleh Poultry Indonesia pada November 2017, faktor utama yang memengaruhi perkembangan industri perunggasan Vietnam adalah dengan hadirnya perusahaan asing.
Menurut Arief—yang melakukan pengamatan langsung ke Vietnam — kehadiran perusahaan asing berperan penting dalam melakukan perkembangan perunggasan lewat mekanisasi budi daya, mengoptimalkan rantai nilai yang modern serta skala perusahaan yang besar dan terintegrasi. Pengembangan teknologi budi daya itu pun tetap memerhatikan unsur keamanan pangan dan prinsip berkelanjutan dalam produksi from farm to table.
Baca Juga : Cara Mewujudkan Mekanisasi Melalui Pendanaan Perbankan
Sejatinya, Indonesia pun terus berbenah mengikuti tren industri perunggasan global. Kandang konvensional secara perlahan mulai diubah menjadi kandang modern dalam wujud closed house. Namun, langkah tersebut tak selalu mudah. Saat ini, closed house bersama teknologi canggih di dalamnya masih dianggap aset mewah yang tak setiap orang mampu membangunnya. Kondisi ini sesuai dengan fakta di lapangan.
Menurut Presiden Direktur PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) Thomas Effendy, jumlah pembangunan closed house di Indonesia masih sangat terbatas. Ketika dijumpai pada pameran Indo Livestock 2018, Rabu (4/7), Thomas mengatakan bahwa pembangunan closed house baru mencapai sekitar jumlah 20 persen saja dari total kegiatan budi daya unggas nasional. Oleh karena itu, masih ada kesempatan 80 persen lagi bagi Indonesia untuk terus berkembang menuju mekanisasi budi daya unggas secara merata di berbagai daerah. Adam
Artikel ini adalah ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Agustus 2018 di halaman 26 dengan judul “Tantangan Mekanisasi Budi Daya Unggas Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153