Identifikasi spesies penyebab koksidiosis dapat dilakukan dengan melihat keberadaan ookista dan morfologinya dalam feses maupun cairan pada saluran pencernaan (Foto : drh. Muhammad Abdillah)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Diagnosis koksidiosis dapat ditentukan dengan melihat gejala klinis dan lokasi lesinya. Identifikasi spesies penyebab koksidiosis dapat dilakukan dengan melihat keberadaan ookista dan morfologinya dalam feses maupun eksudat (cairan) pada saluran pencernaan. Untuk meneguhkan diagnosis dapat dilakukan pemeriksaan parasit dengan menggunakan metode natif, pemeriksaan histopatologi, serta polymerase chain reaction (PCR) dengan menggunakan sampel feses dan eksudat saluran pencernaan.
Pengobatan koksidiosis dapat dilakukan dengan memberi obat-obatan yang bersifat koksidiostat atau koksidiosidal. Obat-obatan dengan sifat seperti ini akan menekan jumlah parasit dalam tubuh sehingga tubuh mampu merespon dengan membentuk antibodi. Pemberian koksidiosidal jauh lebih ekonomis jika populasi yang terserang koksidiosis lebih banyak, sedangkan pemberian koksidiostat hanya dicampurkan ke dalam pakan dan air minum sebagai feed additive.
Baca Juga : Cara Pengendalian Penyakit Gumboro
Menurut Prof. Charles Rangga Tabbu pada buku Penyakit Ayam dan Penanggulangannya Vol. 2, pemberian koksidiostat harus diikuti cara dan dosis yang telah ditentukan agar tidak menimbulkan efek samping. Tabbu juga menjelaskan bahwa penggunaan koksidiostat secara terus menerus dalam pakan ayam dapat menimbulkan protozoa penyebab koksidiosis resiten terhadap kokidiostat tersebut.
El-Sadawy dan kawan-kawan dalam tulisannya berjudul “A Preliminary in Vitrotrial on The Efficacy of Products of Xenorhabdusand Photorhabdus spp. on Eimeriaoocyst” menjelaskan bahwa banyaknya kasus resistensi menyebabkan obat-obat antikoksidia yang tersedia menjadi kurang efektif. Hal ini tentu mengancam perekonomian industri perunggasan.
Baca Juga : Waspada Koksidiosis Pada Unggas
Sudah banyak inovasi produk pengganti anti koksidia yang digunakan. Michels dan rekan dalam tulisannya berjudul “Anticoccidial Effects of Coumestans from Eclipta albafor Sustainable Control of Eimeria tenella Parasitosis in Poultry Production” mengatakan bahwa produk tersebut dapat mengobati penyakit tanpa mempengaruhi efisiensi produksi ternak dan tidak membahayakan kesehatan manusia.
Produk feed additive yang dapat mengendalikan koksidiosis dan berasal dari bahan alami atau yang biasa disebut fitofarmaka juga sudah mulai banyak digunakan. Reda dan Daugschies dalam penelitiannya berjudul “In Vivoevaluation of Anticoccidial Effect of Antibody Fragments Expressed in Pea (Pasum sativum) on Eimeria tenellasporozoites” mejelaskan bahwa hal ini disebabkan karena beberapa jenis tanaman yang digunakan untuk pakan ternak dapat memberikan alternatif biofarmasi yang sederhana dan murah.
Molan dalam penelitiannya berjudul “Effect of Pine Bark (Pinus radiata) Extracts on Sporulation of Coccidian Oocyst” mengatakan ekstrak air kulit kayu pinus dengan kandungan tanin 35% diketahui dapat mengurangi sporulasi ookista E. tenella secara signifikan. Sementara Michels dan kawan-kawan juga menyebutkan ekstrak urang aring (Eclipta alba) yang mengandung kumarin pada konsentrasi 120 ppm efektif sebagai agen profilaksis koksidia. DRP
 Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2019 dengan judul “Mencegah Ancaman Koksidiosis Pada Unggas”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153