Marek’s dapat bertahan hidup di lingkungan seperti litter kandang selama berbulan-bulan pada suhu 25 °C, bahkan sampai beberapa tahun pada suhu 4 °C (Sumber Foto : Poultryworld.net)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Perubahan patologi anatomi yang dapat terlihat pada penampakan luar jika terkena marek  yaitu tumor pada kantung folikel bulu maupun perubahan pada iris mata menjadi berwarna kelabu. Perubahan warna iris ini menjadi sebuah indikator terjadinya kebutaan pada ayam, atau disebut juga dengan ocular lymphomatosis. Tumor ini juga ditemukan pada beberapa organ saat bedah bangkai, yaitu pada hati, organ reproduksi, otot, kulit, paru-paru, jantung, bursa fabricius, dan ginjal. Kelainan lainnya yang ditemukan pada saat bedah bangkai yaitu perubahan syaraf perifer yang menjadi membesar, menebal, dan striata berkurang, syaraf berwarna kuning hingga keabu-abuan, dan odema.
Tingkat kematian yang tinggi terlihat pada ayam yang terserang marek’s dengan tipe akut. Pada tipe ini, ayam yang terserang marek biasanya ditemukan mati mendadak dengan minimnya gejala klinis yang terlihat yaitu ayam tampak lesu dan gangguan syaraf seperti yang ditampakan tipe klasik. Kejadian marek’s jenis akut dapat mencapai angka 10-30% dan dapat melonjak sampai ke angka 70% saat terjadinya wabah. Hal ini berbeda dengan marek’s tipe klasik yang angka kematiannya berkisar 10-15% (Payne dan Venugopal, 2000).
Masa inkubasi dari virus marek’s sangat bervariasi, dimulai antara 3-4 minggu pada virus yang sangat ganas, sedangkan untuk virus yang kurang ganas diperlukan waktu beberapa bulan untuk masa inkubasi dari virus tersebut. Penularan dapat terjadi ketika adanya kontak langsung maupun tidak langsung dengan sumber penularan utama yaitu epitel kulit kantung bulu yang mengandung virus. Penularan yang efektif untuk penyakit ini yaitu melalui debu atau lapisan kulit yang terbang bersama udara.
Marek’s dapat bertahan hidup di lingkungan seperti litter kandang selama berbulan-bulan pada suhu 25 °C, bahkan sampai beberapa tahun pada suhu 4 °C, akan tetapi virus yang terlepas dari sel akan kehilangan virulensi pada suhu -20 °C. Pada suhu yang lebih tinggi, virus akan kehilangan virulensinya pada suhu 37 °C selama 18 jam atau 56 °C selama 30 menit. Virulensi virus marek’s juga akan hilang pada pH 5,5 atau pada kondisi pH yang lebih asam maupun pada pH 8,4 atau pada kondisi lebih basa.
Pada penularan melalui kontak secara langsung epitel yang mengandung virus termakan maupun terhirup oleh ayam yang sehat, sedangkan penularan secara tidak langsung terjadi ketika epitel tersebut mencemari ransum atau air minum. Penularan juga dapat terjadi melalui feses, litter, maupun jenis kumbang (Alphitobius diaperinus) atau dikenal dengan sebutan frengky yang mengandung virus.
Marek’s memiliki persamaan dengan limfoid leukosis, namun terdapat perbedaan di antara kedua penyakit ini yaitu pada ayam yang terkena limfoid leukosis tidak menimbulkan gejala paralisis. Langkah lainnya yang dapat ditempuh untuk memastikan adanya penyakit marek dalam suatu populasi dapat dilakukan dengan melakukan diagnosa laboratorium maupun pemeriksaan jaringan secara mikrosopis atau disebut juga dengan histopatologi.
Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan yaitu virus neutralization test, Polymerase Chain Reaction (PCR), dan Agar Gel Precipitation Test (AGPT). Pada pemeriksaan histopatologi ditemukan adanya sel-sel limfoid seperti sel blast, limfoid besar, limfosit kecil, dan sel plasma yang bersifat basofilik. Penampakan sel akan memiliki gambaran inti yang tidak jelas, vakuola pada sitoplasma, dan ditemukan juga intranuclear inclusion body.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2019 dengan judul “Waspada Serangan Penyakit Marek”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153