Kementerian Pertanian, PT CPI, dan KTNA menandatangani nota kesepahaman terkait inovasi Mobile Corn Dryer, Jumat (3/8) di Komplek Kementan, Ragunan, Jakarta Selatan.
POULTRY INDONESIA, Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) menandatangani nota kesepahaman bersama PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI), dan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Indonesia dalam pengadaan Mobile Corn Dryer, Jumat (3/8). Acara yang berlangsung di selasar gedung Pusat Informasi Agribisnis (PIA) itu juga menandai pelepasan perdana Mobile Corn Dryer untuk segera digunakan oleh petani. 
Mobile Corn Dryer merupakan program yang dikembangkan oleh Kementan dan PT CPI untuk mendukung produksi para petani jagung. Alat ini berupa truk pengering yang mampu beroperasi dengan kapasitas pengeringan satu ton per jam, dengan penurunan kadar air sebesar 15 persen. Alat ini juga memiliki mobilitas tinggi sehingga mampu digunakan oleh para petani jagung di berbagai daerah. 
Inovasi Mobile Corn Dryer muncul sebagai respons kebutuhan jagung di Indonesia. Sistem ‘jemput bola’ yang diusung alat ini diharapkan mampu mempermudah para petani jagung dalam mengolah hasil panen. Sebagaimana diketahui, selama ini pengolahan pascapanen jagung sering kali terkendala oleh minimnya fasilitas dan tantangan iklim yang tak menentu. 
Presiden Komisaris PT CPI T. Hadi Gunawan mengatakan, alat ini diharapkan dapat memberi manfaat besar bagi para petani jagung. “Juga demi mempertahankan swasembada nasional yang berkelanjutan,” ujarnya. Hadi Gunawan juga menambahkan bahwa alat ini mampu mengurangi biaya handling komoditas jagung, biaya transportasi, serta meminimalkan potensi penurunan jagung yang sering dialami oleh para petani. 
Baca juga : Pelepasan Ekspor Produk CPI Menembus Pasar Global
Inovasi ini disambut baik oleh Ketua KTNA Winarno Tohir. Ia memberi apresiasi sebesar-besarnya kepada PT CPI dan Kementan atas sumbangsihnya terhadap para petani jagung. “Ini adalah harapan para petani untuk dapat mengeringkan jagungnya, terutama pada musim hujan,” jelasnya. 
Terkait pengoperasian alat, Winarno mengatakan bahwa pihaknya akan mengatur sedemikian rupa agar teknologi ini bisa terpakai untuk jangka panjang. “Kami akan mengatur sistem pemakaiannya nanti agar bisa dipakai jangka panjang. Termasuk perencanaan pembiayaan operasional, seperti bahan bakar dan perawatan,” katanya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Dr. drh. I Ketut Diarmita merasa bangga atas inovasi anak bangsa ini. Menurutnya, alat Mobile Corn Dryer merupakan langkah nyata dalam mewujudkan kesejahteraan petani. 
“Ini adalah sejarah. Sebelumnya jagung, yang menghampiri pabrik pengering. Sekarang pengeringlah yang mendatangi jagung. Saya berharap ini bisa menyelesaikan permasalahan pascapanen,” ungkap Ketut.
Selanjutnya, PT CPI menyerahkan hak kepada Kementan untuk memodifikasi dan memperbanyak Mobile Corn Dryer. Alat ini juga diharapkan mampu mendongkrak hasil panen demi terciptanya swasembada dalam negeri dan mulai bersaing di kancah Internasional. 
Target ekspor jagung menjadi fokus Kementan hingga kini. Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengungkapkan, bahwa pihaknya bersungguh-sungguh untuk meramaikan pasar jagung mancanegara. “Kami telah merevisi anggaran, menyediakan Rp 1 triliun untuk penyediaan dryer bagi para petani Indonesia. Dryer itu kami targetkan seribu unit,” ujarnya.
Menurut Amran, pemerintah terus meyakinkan petani bahwa menanam jagung pasti menguntungkan. Beberapa upaya lain peningkatan produksi jagung adalah dengan menyediakan alsintan (alat mesin pertanian) berkualitas, bibit unggul, dan harga produk yang kompetitif.