POULTRY INDONESIA – Prestasi yang gemilang tidak datang dengan sendirinya. Butuh kerja keras dan pemikiran yang tidak biasa untuk menghasilkan suatu karya yang luar biasa. Konsistensi dan ketekunan pun menjadi kunci utama.
Setiap orang mungkin pernah mendengar nama Albert Einstein, ilmuwan fisika paling terkenal sepanjang sejarah peradaban manusia. Ia dikenal pula sebagai sosok pembangkang karena suka melawan sistem pengajaran di sekolahnya. Einstein kecil mempunyai rasa ingin tahu yang besar terhadap sesuatu, sehingga tergolong siswa yang kritis. Einstein pernah dikeluarkan dari sekolah karena tak patuh terhadap aturan-aturan. Jika Einstein sampai dikeluarkan dari sekolah, sosok Kamaluddin Zarkasie hanya dikeluarkan dari ruang kelas.
Terlahir dari kalangan ulama kharismatik membuatnya menjadi peneliti yang cerdas cendekia. Kamaluddin Zarkasie yang merupakan keluarga dekat dari Pejuang Nasional K.H. Ahmad Sanusi merupakan salah satu ahli virus yang dimiliki Indonesia saat ini. Seperti pepatah mengatakan “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” hal tersebut layak disematkan kepada Kamaluddin mengingat tetuanya juga merupakan kalangan intelektual yang cukup tersohor.
Kamaluddin Zarkasie lahir di Kabupaten Sukabumi Jawa Barat pada 27 Desember 1958. Ia menamatkan sekolah dari SD hingga SMA di kabupaten yang sama. Selepas SMA, ia meneruskan pendidikan tingginya di Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor. Semasa kuliah, ia mengaku menjadi mahasiswa yang biasa-biasa saja dan tidak memiliki prestasi yang gemilang. “Nilai kuliah saya pas-pasan, malah tergolong mahasiswa bandel,” ujarnya kepada wartawan Poultry Indonesia.
Kamal bercerita, pernah suatu ketika saat perkuliahan berlangsung, ia dan temannya diusir dari kelas karena membuat kegaduhan. “Saya waktu mahasiswa pernah diusir bareng tuh sama yang namanya Chairul Anwar Nidom,” kenang Kamal sambil tertawa. Sebagai informasi, Nidom yang ia sebutkan adalah Prof. C.A. Nidom, rekan sekelas yang saat ini menjadi pakar virus Afian Influenza (AI) di Indonesia dan Guru Besar Universitas Airlangga.
Serius dalam belajar
Kamaluddin Zarkasie mengaku serius belajar setelah lulus dari kuliah kedokteran hewan, tepatnya saat bekerja di Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BPMSOH). Saat itu rasa ingin tahu terhadap bidang yang ia geluti sangat tinggi. “Saya serius belajar saat kerja di BPMSOH. Saya pergi ke gedung LIPI di Jakarta untuk fotokopi jurnal ilmiah setiap hari sabtu, kebetulan hari sabtu jadwal kerja libur,” kenangnya.
Keseriusan bekerja di BPMSOH membuatnya cukup disegani di kalangan para peneliti berkat kemampuan mengisolasi virus. Kamal bercerita, pernah suatu waktu ada dosen IPB yang datang ke balai untuk belajar cara mengisolasi virus. “Dosen tersebut datang didampingi kepala balai ke ruang kerja saya. Saat dosen tersebut melihat saya, ia langsung kaget. Kata dosen itu, ‘ini benar harus belajar dengan Kamal?’ Dosen itu keheranan,” kisah Ketua Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI) ini.
Menurutnya, rasa kaget tersebut cukup wajar. Dosen yang datang ke ruang kerjanya adalah dosen yang pernah mengusir Kamaluddin saat ia masih menjadi mahasiswa. “Wajarlah beliau kaget. Karena memang saya bukan mahasiswa yang rajin saat itu,” imbuhnya. Baginya kenangan tersebut merupakan kenangan yang tidak bisa dilupakan. Sampai sekarang, Kamal mengaku beberapa kali ketemu dengan dosen tersebut jika sedang sama-sama menguji mahasiswa untuk sidang kelulusan di IPB. “Kamu itu dulu bandel, kok sekarang bisa jadi pintar begini,” tuturnya menirukan candaan sang dosen.
Semangat untuk melanjutkan kuliah pun semakin memuncak dalam benak Kamal. Apalagi, berdasarkan penuturannya, ia mengaku termotivasi saat teman-temannya sering mengirim kartu pos dari negara tempat mereka menimba ilmu seperti Jerman, Amerika Serikat dan Australia. “Lama-lama saya juga ingin kuliah di luar negeri. Teman saya saja bisa kuliah di sana, masa saya tidak bisa,” tutur Kamal.
Keinginan tersebut mendorongnya untuk memperdalam kemampuan bahasa Inggris. Kamal mengaku pada saat itu tidak mudah untuk belajar bahasa inggris. Belum menjamurnya tempat les bahasa menjadi salah satu kendala. Bila pun ada, biayanya cukup mahal. Oleh karena itu, Kamal berpikir bahwa tidak ada jalan lain kecuali dengan belajar secara mandiri. “Saya menonton film kartun berbahasa Inggris setiap hari. Saya dengarkan baik-baik sambil menutup teks percakapan menggunakan kertas,” tuturnya.
Menurutnya, cara tersebut sangat efektif dan berhasil. Namun harus dilakukan secara rutin dan konsisten setiap hari. “Saya lakukan setiap hari minimal satu jam, lama-lama bisa memahami percakapan dalam bahasa inggris,” kenang pria bersuku Sunda ini. Setelah merasa kemampuan berbahasa Inggrisnya sudah cukup baik, Kamal lantas mendaftarkan diri di Kedutaan Besar Jepang untuk mengikuti seleksi beasiswa pendidikan di Negeri Sakura tersebut.
Seperti gayung bersambut, ia akhirnya diterima di Department of Microbiology and Immunology Faculty of Veterinary Medicine, Nippon Veterinary and Animal Science University, Tokyo, Jepang. Selama tinggal di Jepang, Kamal berpendapat bahwa sistem pendidikan yang ada di sana menuntut mahasiswa untuk bisa mandiri dalam menjalani masa studi. “Berbeda dengan penelitian di Amerika yang bisa dikerjakan bersama-sama, penelitian di Jepang itu benar-benar dilakukan sendiri. Pengalaman berharga itulah yang membuat saya terbiasa untuk bisa benar-benar paham apa yang saya teliti,” tambahnya. Kamaluddin Zarkasie menghabiskan waktunya selama 7 tahun di Jepang hingga mendapatkan gelar untuk master dan doktoralnya.
Banyak amanah
Darah cendekiawan dan organisatoris mengalir deras pada tubuhnya. Mengikuti jejak sang pendahulu yang banyak mengemban amanah pada bidangnya, Kamaluddin Zarkasie pun tidak jauh berbeda. Beberapa jabatan yang saat ini diemban antara lain sebagai Presiden Direktur IPB Shigeta Animal Pharmaceuticals, Direktur Centre for Human Resources Development and Applied Technology (CREATE), dan Ketua Umum Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI) Periode 2016-2021.
Selama di IPB Shigeta Animal Pharmaceuticals, Kamal bersama rekan-rekannya membuat vaksin reverse genetic. Sebuah teknologi yang mampu mengubah bagian patogen dari virus H5N1 sehingga virus yang dihasilkan menjadi nonpatogenik. Menurutnya hal tersebut sangat efektif untuk mengatasi masalah yang ada di peternakan unggas. Pengalamannya selama puluhan tahun dalam meneliti virus membuatnya menjadi salah satu ahli virus yang namanya familiar bagi para peneliti bidang kesehatan hewan di Tanah Air.
Kesibukannya dalam mengemban berbagai jabatan tak membuatnya lupa waktu untuk keluarga. Hal tersebut karena sistem yang ia buat sudah dapat berjalan dengan semestinya, sehingga masih ada cukup waktu untuk keluarga. Kamal berujar, pada dasarnya manusia diciptakan sebagai mahluk yang multitasking. Dalam satu waktu manusia dapat bekerja untuk berbagai hal, tentunya didukung dengan sistem yang sudah terbangun. “Komunikasi, kompetensi, dan networking adalah kunci semuanya. Jika ketiga hal tersebut dapat berjalan dengan baik maka semuanya akan mudah,” paparnya.
Menurut Kamaluddin, seorang pemimpin adalah sosok yang bisa menciptakan kader-kader yang mampu mengerjakan sesuatu dengan baik tanpa harus sang pemimpin selalu hadir dalam pekerjaan tersebut. “Kita cetak orang untuk bisa mengerjakan dengan baik. Kita buat sistemnya sehingga semua bisa jalan,” ujarnya saat menutup wawancara dengan Poultry Indonesia. Farid, Adam.