Penelitian tentang kebutuhan ternak unggas terhadap mineral selenium perlu diperbarui
Oleh Prof. Burhanudin Sundu
Tanaman dalam proses pertumbuhan dapat terus berkembang hanya dengan mengandalkan mineral atau bahan anorganik. Ketika sebuah tanaman diberi pupuk urea (nonprotein nitrogen), tanaman tersebut akan mampu mengubah nitrogen yang terdapat pada urea menjadi protein tanaman. Perubahan ini kemudian memungkinkan manusia memanfaatkan protein tanaman itu yang berasal dari urea. Tanpa perubahan itu, manusia tidak mungkin dapat mengonsumsi urea tersebut secara langsung. Inilah salah satu utang besar umat manusia terhadap tanaman.

Penelitian tentang kebutuhan ternak unggas terhadap mineral selenium perlu diperbarui. Hal ini penting guna mewujudkan ternak yang sehat, memiliki performa bagus dan menghasilkan produk berkualitas.

Contoh yang sama dipertontonkan oleh mikroba. Makhluk kecil ini mampu mengubah mineral atau bahan anorganik menjadi organik. Pemberian urea pada ternak ruminansia, khususnya ternak sapi, akan dikonversi menjadi protein mikroba. Proses konversi inilah yang kemudian memungkinkan ternak ruminansia memanfaatkan nonprotein nitrogen sebagai sumber protein untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan ternak sapi. Kali ini, ternak ruminansia yang berutang terhadap mikroba untuk membantu proses pencernaan yang berdampak pada perkembangan dan pertumbuhan ternak. Proses yang terjadi dengan memanfaatkan mikroba ini disebut proses biokonversi.
Baca Juga : Mengolah Kedelai Utuh Sebagai Sumber Energi Pakan
Tanaman dan mikroba adalah dua mahluk hidup yang memiliki kapasitas untuk mengonversi mineral dan bahan anorganik menjadi organik. Oleh karena itu, kehidupan manusia dan kehidupan ternak atau hewan banyak bergantung dari keberadaan tanaman dan mikroba. Seluruh makanan yang kita dan ternak konsumsi sejatinya berasal dari kedua makhluk tersebut. Hal yang membedakan dari dua makhluk ini dalam mengonversi bahan anorganik menjadi organik adalah kecepatan dan areal lahan yang dibutuhkan. Mikroba tampak lebih superior dalam proses konversi ini karena lebih cepat dan membutuhkan areal yang lebih kecil.
Mineral selenium
Selenium adalah zat kimia yang ditemukan oleh ahli kimia Swedia yang bernama Berzelius pada tahun 1818. Awalnya, mineral ini dikaitkan dengan kasus penyakit keracunan. Karena itu selenium di masa sebelum tahun 1950-an selalu diasosiasikan sebagai zat kimia yang bersifat racun dan karsinogenik. Pada tahun 1950, para ahli mengamati adanya beberapa penyakit yang berhubungan dengan kekurangan selenium. Pada tahun 1973, Rotruck dan timnya menemukan bahwa selenium adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan enzim antioksidan (glutathione peroxidase; GSH-Px). Di alam, selenium hadir dalam dua bentuk yakni anorganik selenate dan selenide, dan organik yang terdapat pada tanaman dalam bentuk asam amino, yakni Seleno-methionine dan Seleno cysteine.
Baca Juga : Sinergi Lintas Sektor dalam Menghadapi Era non AGP
Pentingnya mineral selenium bagi kehidupan manusia telah dilaporkan oleh Surai (2006). Manusia yang kekurangan selenium akan cenderung mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh, serta memunculkan kerentanan terhadap beragam penyakit seperti kanker, stroke, penyakit jantung, penuaan dini, katarak, influenza dan diabetes. Pada ternak unggas, kekurangan selenium akan menyebabkan ternak mengalami beberapa gangguan penyakit seperti pertumbuhan yang buruk, distrofi otot dan miopati pada gizzard dan jantung, bahkan menyebabkan kematian.
Kebutuhan terhadap mineral selenium untuk ternak unggas lebih banyak didasarkan pada rekomendasi National Research Council (NRC) 1994. Padahal, rekomendasi NRC tersebut dibangun dari hasil penelitian yang dilakukan di tahun 1930-an dan 1980-an. Hasil penelitian ini tentu hanya cocok diperuntukkan bagi ayam dengan potensi genetik di tahun-tahun tersebut. Penggunaan rekomendasi NRC tersebut untuk ayam komersial sekarang ini sudah kehilangan realitas dan justifikasinya. Penulis adalah Guru Besar Program Studi Peternakan ; Dekan Fapet dam Perikanan Universitas Tadulako, Palu, Sulawesi Tengah.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2019 dengan judul “Konversi Mineral Anorganik Menjadi Organik: Studi Kasus pada Mineral Selenium”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153