POULTRY INDONESIA, Pasuruan – Terik matahari tertahan di antara dedaunan pohon mangga yang rimbun. Siang itu, sebuah kebun yang terletak di Desa Banjarkejen, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, menjadi tempat yang nyaman untuk berlindung dari panasnya udara. Segala kerindangan tersebut juga menjadi salah satu alasan bagi Ma’shum Sholeh membuat kandang untuk enam ribu ayam miliknya. Sebuah kandang teduh dan tak terpaut jauh dari kediaman Ma’shum beserta keluarga.
Kesibukan tampak di rumah Ma’shum ketika Poultry Indonesia berkunjung. Hal itu disebabkan, selain berprofesi sebagai petenak, Ma’shum juga dipercaya sebagai Kepala Desa Banjarkejen. Ia sedang menandatangani berkas yang dibawa oleh sejumlah warga. Ma’shum mengaku tak pernah membayangkan jabatan Kepala Desa bisa diamanahkan kepadanya. Namun ia bertekad untuk melayani warga dengan sepenuh hati. Sering kali ia pun mengingat setiap nasihat yang diberikan oleh ayahnya, tentang semangat berkarya dan menjadi seseorang yang bermanfaat bagi sesama.
Didikan dari ayahnya itu tidak sekadar kata-kata saja. Ma’shum senantiasa menerapkan petuah yang diberikan padanya, termasuk pada masa SMA. Saat itu, Ma’shum diamanati oleh ayahnya untuk beternak broiler dengan dibekali sebuah kandang postal berkapasitas seribu ekor. “Saya mengawali beternak sekitar tahun 1996-an, yang pasti sebelum krisis moneter. Saya beternak secara mandiri, dan saat itu cukup mudah. Semua juga cenderung murah. Harga day old chick (DOC) saja cuma 75 rupiah per ekor,” kisah Ma’shum, Rabu (9/5).
Selama proses awal dalam beternak, ia mengaku lebih banyak belajar pada salah satu tetangga yang sudah terlebih dulu menjalankan bisnis ini. Hingga kemudian, ia semakin mahir dalam beternak dan meningkatkan populasi secara perlahan mencapai dua ribu ekor. Keuntungan yang didapat dari profesi ini pun cukup besar. Bahkan, dalam sekali panen, hasilnya bisa saja dipergunakan untuk membeli sepeda motor baru.
Setelah lulus sekolah, ternyata ia secara diam-diam melamar kerja dan diterima. Ia pun lantas pamit pada ayahnya untuk bekerja. Namun, alih-alih mengizinkan, sang ayah justru memberikan sebuah wejangan. “Ojok kerjo sing diperintah wong, kerjo dewe ae kapan pegel iso istirahat, kapan ngantuk iso turu (Jangan bekerja yang diperintah orang, kerja sendiri saja, kalau capek bisa istrirahat, kalau mengantuk bisa tidur),” terang Ma’shum menirukan nasihat ayahnya.
Pada akhirnya, wejangan itu ia patuhi. Ia memutuskan untuk melanjutkan beternak secara mandiri dan memulai pendidikannya di bangku kuliah. Namun, sangat disayangkan, krisis moneter tiba-tiba menghantam. Biaya produksi menjadi jauh lebih tinggi dan Ma’shum pun tak kuat menanggungnya. Kondisi ini membuat semangatnya ciut dan ragu untuk melanjutkan bisnis peternakan. Tapi di saat itu ada perusahaan perunggasan yang mengajaknya untuk menjadi peternak mitra, yaitu PT Charoen Pokphand Indonesia. “Untung saat itu ada kemitraan sehingga tidak perlu pusing tentang biaya produksi, karena semua sudah dipikirkan oleh perusahaan inti. Tugas saya hanya bagaimana memelihara ayam secara optimal. Itulah yang membuat saya bertahan dalam beternak broiler,” terangnya.
Menjadi peternak mitra ternyata mampu menambah pengalaman Ma’shum. Populasi ayamnya pun meningkat menjadi 6.000 ekor dengan kandang sistem panggung. Sebelumnya, ketika beternak mandiri, ia hanya menggunakan kandang postal yang cenderung lebih mudah basah sehingga serangan penyakit lebih mudah masuk. Namun berbeda saat ia menggunakan kandang panggung yang cenderung lebih kering dan meminimalkan potensi penyakit.
Keuntungan yang ia dapat selama beternak ternyata mampu untuk membuka jalan usaha yang lain. “Alhamdulillah hasil usaha beternak saya gunakan juga untuk membiayai kuliah. Saya juga mengembangkan usaha perkebunan mangga,” terangnya. Setelah lulus, ia kemudian mengabdikan diri menjadi pengajar di sekolah dasar yang ada di desanya, dengan tetap menjadi seorang peternak.
Membagi ilmu beternak ke tetangga
Kegiatan beternak yang dilakukan oleh Ma’shum ternyata menarik perhatian tetangga untuk melakukan hal serupa. Banyak yang ingin mencoba bisnis peternakan karena dinilai mampu menghadirkan keuntungan. Ia pun meyakinkan warga untuk bersama-sama mengembangkan bisnis peternakan. “Jangan bicara saja. Kalau mau, buatlah kandang terlebih dahulu, nanti saya ajari,” ungkap Ma’shum.
Sejak saat itu, selain menjadi seorang guru sekolah dasar, ia juga mengabdikan diri untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat yang ingin beternak. “Saat ini sudah ada puluhan peternak, bahkan di antara mereka yang dulu belajar ke saya sekarang sudah pakai kandang semi closed house, sedangkan saya malah masih pakai kandang terbuka,” terangnya.
Selama beternak, Ma’shum bercerita, dirinya mempunyai strategi khusus dalam penghematan pakan. Ia mengambil contoh periode persiapan pasar lebaran 2018. Populasi ayamnya kini sekitar 6.000 ekor, dan sudah dipersiapkan 400 sak pakan untuk panen umur 36 hari, dengan bobot diperkirakan mencapai 2,2 kilogram. Dalam praktiknya, ia tidak menggunakan seluruh pakan yang sudah disediakan agar mengurangi biaya pakan. Salah satu caranya adalah dengan mencampur pakan dengan jagung, saat usia ayam sudah mencapai 25 hari ke atas. ”Lumayanlah, jika sebelumnya 400 sak habis, tapi kalau dicampur dengan jagung, paling menghabiskan 360 sak saja,” imbuhnya.
Ma’shum menilai, setelah dirinya menjadi peternak mitra selama lebih dari dua dekade terdapat keuntungan signifikan yang bisa dirasakan, terutama ketika harga ayam sedang jatuh. Pola kemitraan yang menjamin keamanan harga bagi para peternak menjadi kelebihan tersendiri yang Ma’shum rasakan. Ia pun membandingkan dengan pengalamannya selama beternak mandiri. Menurutnya, sebagus apa pun ayam yang dihasilkan ketika harga turun, maka kerugian adalah hal yang pasti dialami. Ia pun mengatakan bahwa kerja sama dengan pihak inti tidak selalu beurusan dengan harga jual ayam. “Bahkan Akhir-akhir ini pihak inti meminta untuk menyediakan sertifikat sebidang tanah, yang nantinya akan dibuat kandang closed housed. Semoga saja bisa terwujud,” harapnya.
Ma’shum juga merasakan perkembangan ayam yang cukup pesat. Dulu, meski sudah berumur 40 hari, ayam belum bisa mencapai bobot dua kilogram. Sementara saat ini ketika ayam masih berumur 36 hari, sudah mampu mencapai bobot lebih dari dua kilogram. Meski begitu, ia pun kadang mengalami hambatan dalam berbudi daya. Saat ini misalnya, ayam yang dipelihara tidak menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan. Ia menilai bahwa ini pengaruh dari diberhentikannya antibiotic growth promoter (AGP) yang digunakan dalam pakan ayam. Namun, sekali lagi, ia meyakini bahwa pola kemitraan juga telah menyediakan solusi dari berbagai masalah yang dihadapi peternak.
Menurut Ma’shum, salah satu pendorong keberhasilannya sekarang ini adalah karena didikan orang tua. Dengan segala bekal yang sudah diberikan oleh orang tuanya, Ma’shum mampu bekerja dengan baik dan mampu menjadi seseorang yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Ia pun siap untuk meneruskan petuah dan segala didikan orang tuanya kepada generasi penerus di masa depan. Yafi