Usus halus radang, berisi darah dan lendir kental akibat infeksi Koksidiosis.
Tanya:
Bagaimana untuk mengatasi ayam broiler dari serangan koksidiosis? Karena saat ini ayam broiler saya terserang koksidiosis. Apakah salah satu pemicunya karena musim hujan? Terima kasih.
Bapak Yanto
Palembang – Sumatera Selatan
Jawab:
Yth. Bapak Yanto, terima kasih untuk pertanyaannya. Di saat musim hujan memang biasanya terjadi peningkatan agen bibit penyakit termasuk koksidia. Ketika kondisi kandang dengan litter yang lembap, maka ookista di lingkungan bisa bertahan hidup dan akhirnya menyebar serta mampu menginfeksi banyak ayam lain dengan sangat cepat. Inilah alasan yang juga menjadi penyebab mengapa kasus infeksi koksidiosis sering terjadi.
Sebelumnya kami akan mengulas sedikit mengenai koksidiosis. Koksidia (penyebab koksidiosis) merupakan protozoa genus Eimeria sp. yang memperbanyak diri di dalam saluran pencernaan dan mengakibatkan gangguan pada proses pencernaan dan penyerapan nutrisi, dehidrasi, kehilangan darah dan meningkatkan kepekaan terhadap penyakit lain. Infestasi Eimeria sp. dapat menyebabkan ayam imunosupresif. Koksidiosis mudah diikuti oleh infeksi lain seperti CRD, Necrotic Enteritis (NE), korisa, dan penyakit lainnya.
Saat ini diketahui ada 9 spesies Eimeria sp. yang menyerang ayam, dengan 7 spesies di antaranya bersifat patogenik (menimbulkan sakit). Ketujuh spesies itu adalah E. tenella, E. necratix, E. maxima, E. acervulina, E. brunetti, E. Praecox, dan E. Mitis.
Gejala klinis koksidiosis berupa diare berdarah disebabkan oleh spesies Eimeria yang memiliki patogenesitas (keganasan) sedang hingga tinggi. Dengan tingkat keganasan yang tinggi tersebut Eimeria akan masuk lebih dalam pada dinding usus kemudian menimbulkan kerusakan yang lebih parah hingga timbul perdarahan mukosa.
Ayam yang terserang koksidiosis awalnya akan menampakkan gejala klinis seperti mengantuk, sayap terkulai ke bawah, bulu kasar (tidak mengkilat) dan nafsu makan rendah (anorexia). Saat bentuk infektif Eimeria sp. termakan ayam, dimulailah siklus hidup parasit bersel satu ini. Di gizzard (tembolok) dinding kista ookista terkikis sehingga keluarlah sporozoit yang langsung menuju ke usus untuk melangsungkan siklus hidupnya. Akibatnya terjadi luka, perdarahan dan kerusakan jaringan usus. Untuk infeksi E. tenella biasanya terjadi secara akut, terjadi berak darah hingga dapat menimbulkan kematian. Infeksi E. maxima menyebabkan feses mengandung eksudat kental berwarna kemerahan dan bercampur bintik-bintik darah.
Faktor Predisposisi
Koksidiosis memang merupakan penyakit ayam yang cukup kompleks karena koksidia penyebabnya memiliki siklus hidup yang singkat sehingga cepat berkembang biak. Lamanya satu siklus hidup Eimeria sp. yang berlangsung di dalam tubuh ayam umumnya berlangsung selama 7 hari, terdiri dari tahapan hidup seksual dan aseksual. Penanganan yang tidak tepat dapat menyebabkan Eimeria sp. tidak terbasmi dengan tuntas dan suatu saat ayam dapat terserang koksidiosis kembali.
Faktor lain yang harus diperhatikan dalam menangani koksidiosis adalah faktor manajemen pemeliharaan yang buruk seperti kepadatan populasi terlalu tinggi serta kondisi litter basah dan lembap. Kondisi litter lembap karena tumpukan litter yang terlalu banyak ditambah dengan tumpahan ransum, air minum maupun air hujan akan sangat mendukung perkembangbiakan Eimeria sp. Manajemen yang buruk ini dapat menyebabkan ookista bertahan lama di lingkungan luar sehingga berpeluang besar menginfeksi ayam. Ookista ini dapat ditularkan secara mekanik melalui operator kandang, peralatan kandang, ransum, air minum, atau litter yang tercemar.
Pengobatan Koksidiosis
Menyadari tingginya risiko infeksi koksidiosis yang berpengaruh terhadap performa ternak maka sebaiknya dalam menghadapi kasus koksidiosis bukan hanya sekedar mengobati namun dapat mengendalikan faktor predisposisi yang menjadi pemicu berkembangnya kasus. Tindakan penanganan yang dilakukan antara lain:
• Segera pisahkan ayam yang positif terkena koksidiosis. Cirinya, ayam mengalami berak darah atau ditemukan feses berdarah di daerah kloaka ayam.
• Obati ayam dengan pemberian antikoksidia seperti Toltradex. Pemberian antikoksidia dimaksudkan untuk mengontrol dan menekan perkembangan Eimeria sp. dalam tubuh ayam sehingga jumlahnya yang ada di tubuh ayam bisa ditekan dalam level rendah. Toltradex mengandung toltrazuril yang bekerja efektif menyebabkan kematian pada semua tahap perkembangan sel Eimeria sp. (reproduksi seksual maupun aseksual). Toltradex cukup diberikan selama 2 hari berturut-turut karena cepat membasmi sel Eimeria sp. Lakukan rolling menggunakan antikoksidia dari golongan yang berbeda setiap interval 3-4 kali pengobatan.
• Berikan vitamin A dan K seperti Fortevit atau Vita Stress untuk terapi supportif. Vitamin A berfungsi mempercepat kesembuhan epitel mukosa usus yang rusak. Sedangkan vitamin K akan mengurangi pendarahan yang terjadi.
• Jika memungkinkan, buang feses bercampur darah dari ayam yang sakit untuk menghindari ayam lain mematuknya. Hal ini karena warna merah pada feses akan menarik perhatian ayam lain untuk mematuk dan terjadilah proses penularan penyakit koksidiosis.
• Lakukan manajemen penanganan litter dengan baik agar litter kering.
• Hindari pemeliharaan ayam dengan kepadatan tinggi, maksimal 15 kg/m2 atau setara dengan 9-10 ekor ayam pedaging (Cobb Management Guide, 2015) dan 12 – 14 ekor ayam petelur grower (postal) (ISA Manual Guide, 2017) per m2-nya. Sedangkan untuk kandang closed house kepadatan ayam bisa lebih efisien dengan kapasitas 30 kg/m2.
• Lakukan desinfeksi kandang dengan baik dan benar mulai dari penurunan litter dan pengeluaran feses dari farm. Setelah itu, kandang dibersihkan dan didesinfeksi. Sanitasi dan desinfeksi kandang dan peralatan (disemprot dengan Antisep atau Medisep), membatasi tamu, serta mencegah hewan liar.
• Berikan kapur atau soda kaustik pada permukaan litter yang lembap dan basah. Kapur dan soda kaustik merupakan bahan aktif yang bersifat basa. Ketika kedua bahan tersebut larut dalam air atau media yang basah (litter basah, red), maka akan dihasilkan panas yang tinggi. Sementara, ookista tidak tahan terhadap suhu ekstrem panas > 55°C.
Solusi yang tepat untuk penanganan ialah dengan memberikan antikoksidia yang sesuai, menerapkan perbaikan manajemen, serta memperketat biosecurity di peternakan. Salam.