Slamet Widodo, Praktisi Perunggasan
Oleh : Slamet Widodo, Praktisi Perunggasan
Sebenarnya ada banyak sekali inovasi pengolahan ayam dan mereka terus berusaha menemukan resep makanan berbahan daging ayam dengan ragam kreatifitasnya. Dalam istilah bisnis dinamakan branding. Melakukan branding dapat diartikan sebagai upaya untuk memberikan embel-embel pembeda yang sifatnya unik sehingga memiliki nilai jual yang berbeda pula. Semakin banyak ragam olahannya maka akan semakin baik untuk perkembangan bisnis ini. 

Sudah saatnya kita berterima kasih kepada para penjual makanan yang menggunakan bahan dasarnya dari ayam, baik itu jajanan semacam lemper ayam, nasi ayam hingga restoran cepat saji seperti fried chicken.  Berkat kiprah mereka dalam menyajikan berbagai menu makanan, ayam menjadi populer dan sangat digemari konsumen.

Disadari atau tidak, para pengolah kuliner ayam ini secara tidak langsung membantu meningkatkan konsumsi ayam di negara kita. Banyaknya ragam olahan ayam menjadi pemicu masyarakat kita untuk mencoba menikmatinya baik sendiri atau bersama dengan keluarga.  Setelah mencoba dan merasa cocok, biasanya mereka akan menikmatinya kembali dan jika perlu mengajak teman-temannya.
Masakan ayam bukan lagi termasuk makanan yang istimewa, lain kondisinya jika dibandingkan tahun 1980-an.  Saat itu, makan ayam betul-betul merupakan barang mewah, karena pada umumnya hanya bisa dinikmati ketika lebaran atau acara-acara ritual kampung seperti acara bersih desa, ruwahan (syukuran menyambut bulan puasa) atau acara pernikahan dan khitanan saja. 
Situasi tersebut sungguh berbeda dengan mereka yang menjadi generasi millennial yang menu makanan yang tersaji seperti ayam mudah dijumpai di meja makan setiap harinya. Oleh karenanya, makan ayam merupakan hal yang biasa buat generasi ini. Hal itulah yang kemudian membuat generasi ini membutuhkan sajian menu ayam yang beragam supaya tidak menyebabkan kejenuhan.
Variasi olahan ayam seperti yang telah dijelaskan tadi tentu sangat dibutuhkan. Terlebih lagi pada masyarakat perkotaan yang seringkali lebih menyukai hal-hal yang serba instan, menjadikan bisnis kuliner ayam semakin berkembang pesat. Generasi milenial membutuhkan sesuatu yang simpel, baik secara kemasan maupun cara memakannya.
Beberapa pelaku usaha juga menangkap peluang bisnis ini. Konsumen yang menjadi target pasar adalah para ibu rumah tangga dan wanita karir yang seharian sibuk bekerja di perkantoran. Bisnis olahan ayam peluangnya memang besar, namun faktanya, usaha yang sifatnya ritel dan berhadapan langsung dengan konsumen seperti ini tidaklah mudah. Mereka harus mahir menjadi seorang pemasar sejati. Sering penulis jumpai, banyak di antara mereka menggunakan strategi tertentu seperti diskon (potongan harga) supaya menarik. 
Membangun bisnis semacam ini juga tidak semudah yang dibayangkan. Jika tidak menemukan tempat yang strategis, maka usahanya pun terancam gulung tikar. Oleh karenanya, banyak pemain lebih suka ikut waralaba (franchise) dengan pertimbangan tidak perlu bersusah payah membangun pasar sendiri. Konsumen dianggap sudah mengetahui merek yang akan dipilih dan rasanya pun sudah standar.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juni 2019 dengan judul “Memasarkan Ayam Melalui Strategi Branding”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153