Permasalahan sebagian besar sarjana maupun insinyur di Indonesia tidak memiliki keterkaitan (Link and match) dengan dunia kerja. (Sumber Foto : Flickr.com)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Memasuki revolusi industri yang ke-4, sebelum mempersiapkan infrastruktur teknologi yang dibutuhkan SDM yang tangguh harus dipersiapkan terlebih dahulu. Menurut Bambang Brodjonegoro selaku Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengutarakan bahwa sebagian besar sarjana maupun insinyur di Indonesia tidak memiliki keterkaitan (Link and match) dengan dunia kerja. Pernyataan tersebut ia sampaikan saat menjadi pembicara di Seminar Himpuni (14/1). Menurutnya sebagian besar dari sarjana maupun insinyur tersebut bekerja diluar bidang yang ditempuh semasa perkuliahan. “Dari data sekitar 600.000 atau 700.000 insinyur aktif yang dari Indonesia ternyata hanya 9.000 yang bekerja sesuai profesinya,” kata Bambang.
Baca Juga : Model Industri Perunggasan 4.0 dan Dampaknya Bagi Rantai Distribusi
Bambang juga menyoroti tentang akar permasalahan dari rendahnya produktivitas di sektor pertanian. Ia menambahkan, walaupun saat ini tingkat pengangguran di Indonesia berada pada angka 5,3%, yang setara dengan angka sekitar 7 juta orang, sebesar 60% dari para pekerja tersebut berada pada sektor informal, sedangkan yang bekerja di sektor formal di angka 40%. “Sekarang boleh dikatakan yang bekerja itu sebagian besar ada di sektor yang produktivitasnya relatif rendah. Apakah itu di pertanian, perdagangan tradisional, maupun di sektor jasa yang tidak membutuhkan keahlian yang tinggi,” jelas Bambang.
Tabel 1. Presentase keahlian pekerja dari total jumlah pekerja di Indonesia
Total Pekerja 121,02 Juta
Skilled (%)
Semi Skilled (%)
Low Skilled (%)
Pertanian
0,13 %
0,47 %
99,41 %
Manufaktur
3,03 %
6,52 %
90.45 %
Jasa & lainnya
14,36
52,74 %
32,90 %
Sumber : Materi Presentasi Bappenas dalam acara Seminar dan Dialog Nasional SDM Industri 4.0
                Maka dari itu, Kementerian PPN merumuskan beberapa solusi atas permasalahan produktivitas SDM yang ada saat ini. Beberapa strategi yang dapat dilakukan dalam peningkatan produktivitas, antara lain penerapan sistem ganda (TVET Dual System), yaitu melalui pemagangan di industri selama 6 bulan hingga 1 tahun, serta penyelarasan kurikulum (link-match). Selanjutnya yaitu program penyediaaan guru dan infrastruktur vokasi yang kompeten melalui pelatihan guru mapupun infrastruktur sesuai bidang keahlian, lalu mengikutsertakan tenaga pengajar, guru, instruktur untuk melakukan magang di industri; Lalu menciptakan lulusan vokasi yang kompeten dan tersertifikasi, melalui standar kompetensi berdasarkan okupasi. Kompeternsi tersebut juga harus mengacu pada standar internasional, dan penguatan lembaga sertifikasi profesi yang sudah ada saat ini. Serta penguatan pendidikan kewirausahaan maupun teaching industry.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2019 dengan judul “Merangkai Strategi Menuju Industri Perunggasan 4.0 ”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153