Kejadian Heat Stress bisa diatasi dengan manajemen yang baik
Oleh : Tony Unandar
Ketika membahas persoalan ini, perlu lebih dulu diketahui tentang perbaikan genetik dan prevalensi HT. Dalam publikasi ilmiah Journal of Genetics edisi November 2010, para ahli genetika unggas mempunyai dua buah fokus utama dalam perbaikan genetik ayam modern. Pertama, perbaikan kemampuan metabolisme tubuh (metabolic competence) di tingkat sel jaringan tubuh. Perbaikan kemampuan fisiologis dari aspek ini tentu akan menyebabkan tingginya laju metabolisme yang terjadi dalam tubuh ayam modern pada fase pertumbuhan tertentu (atau bahkan sejak ditebar dalam brooder), yang tentu saja akan menghasilkan energi panas yang berlebihan dan harus dibuang. Sebab kalau tidak, ujung-ujungnya adalah suhu tubuh (body temperature) akan lebih tinggi, konsumsi air minum (water intake) akan juga meningkat dan akhirnya muncul manifestasi kotoran basah (wet dropping) pada fase pertumbuhan tertentu yang dapat dideteksi dengan mudah dilapangan.

Kejadian Heat Stress (HT) alias cekaman stres akibat suhu tubuh yang meningkat tampaknya karib dengan ayam modern. Apakah kasus ini dampak pemanasan global, atau semata-mata suhu dan kelembapan di kandang ayam saja?

Situasi seperti ini tampak jelas, baik pada broiler maupun layer pullet pada minggu pertama, yang mengonsumsi pakan pre-starter yang notabene mempunyai densitas nutrisi tinggi serta seimbang. Kondisi serupa juga tampak pada layer ataupun breeder pada fase menjelang puncak produksi telur. Keteledoran dalam mendeteksi serta mengantisipasi situasi ini dengan kondisi lingkungan ayam jelas akan mencetuskan kasus HT secara periodik pada ayam yang dipelihara (Lin dan Buyse, 2005) dan kerugian sudah pasti di depan mata.
Perbaikan genetik ayam modern selanjutnya adalah perbaikan matrik reproduksi (reproductive matrix). Ini merupakan kemampuan potensi genetik yang berfungsi untuk melipatgandakan jumlah sel-sel tubuh dalam waktu yang relatif singkat, dan atau kemampuan untuk mengonversi setiap gram pakan yang dikonsumsi menjadi karkas atau telur dalam jumlah yang lebih banyak. Realita lapangan dari fokus kedua ini adalah meningkatnya average daily gain (ADG) ataupun presentase hen day (HD) dengan feed conversion ratio (FCR) yang berbanding terbalik alias semakin kecil.
Baca juga : Apa Penyebab Ayam Sering Ngorok
Peningkatan kemampuan mengonversi pakan yang selanjutnya diikuti dengan peningkatan jumlah sel-sel tubuh dalam waktu yang relatif singkat jelas membutuhkan pertambahan luas ruangan (space) yang lebih dini dan ventilasi udara dalam kandang yang lebih baik. Keengganan alias antisipasi yang terlambat dalam mengubah tata laksana pemeliharaan untuk mempercepat peluasan ruangan dan atau meningkatkan ventilasi kandang tentu saja dapat menjadi faktor pencetus terjadinya HT pada fase pemeliharaan tertentu (Barnwell, 2010). Penulis Merupakan Private Poultry Farm Consultant, Berdomisili di Jakarta.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2018 di halaman 56 dengan judul “Menelisik Heat Stress pada Unggas”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153