Kegiatan panen merupakan ujung tombak dari keberhasilan peternak dalam melakukan kegiatan budi daya ayam
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Masa panen adalah masa di mana broiler sudah siap dipanen dan merupakan waktu yang ditunggu-tunggu oleh para peternak. Sejak pagi hari mereka mulai mempersiapkan panenan agar hasilnya maksimal. Berbagai alat yang dibutuhkan juga telah dipersiapkan. Aktivias lain seperti menarik tempat pakan broiler, membuat papan skat pemisah, memberikan campuran air gula merah pada air minum broiler, menyiapkan timbangan hingga mencuci bersih keranjang wadah ayam juga dilakukan. Hal tersebut wajib diperhatikan karena jangan sampai masa bahagia berubah menjadi masa duka karena susutnya bobot ternak saat panen tiba.

Masa panen merupakan masa yang paling ditunggu para peternak, selain mereka akan mendapatkan uang hasil usaha, masa panen adalah masa yang bisa menentukan nasib kandang mereka kedepannya.

Fenomena ini kerap terjadi pada para peternak pemula. Pekerjaan terakhir yakni panen yang dianggap sepele namun ternyata sangat fatal bagi para peternak ini, pada akhirnya mengurangi penghasilan peternak itu sendiri. Teknik penangkapan, penyortiran, hingga penimbangan pun harus serba hati-hati dan tidak asal main tangkap saja. Pasalnya faktor penyusutan saat panen tiba dapat disebabkan dari faktor kelalaian saat penangkapan ayam. Menangkap ayam yang tanpa kehati-hatian dan pengalaman dapat mengakibatkan ayam terluka dan stres. Kebiasaan ingin cepat selesai tanpa perhatian kepada kondisi ayam justru yang menyebabkan cacat fisik seperti kaki patah dan sebagainya justru dapat menyebabkan turunnya harga.
Selain faktor penyusutan di atas, proses penimbangan dan memasukan ayam ke dalam keranjang plastik (crates) pun harus hati-hati. Ayam jangan sesekali dilempar karena akan membuat ayam menjadi terluka. Idealnya, dalam satu keranjang/crates berisi 15-20 ekor ayam. Jika melebihi volume tersebut, maka dapat menyebabkan ayam menjadi sulit bernafas, kepanasan, hingga berujung pada kematian karena terlalu sesak.
Baca Juga : Gambaran Industri Pascapanen Perunggasan
Tingkat kematian dan susut dalam transportasi ini masih dianggap normal jika pada angka 2-3% dari total populasi. Jika ayam akan dibawa ke luar kota, biasanya peternak memberikan tambahan air gula merah pada air minum ayam sebagai tambahan nutrisi bagi ayam. Hal itu dilakukan agar ayam tidak mudah lemas dan dehidrasi.
Terjadinya angka kematian di atas angka normal (2-3%) biasanya akibat kualitas DOC buruk dan tidak seragam. Jika biasanya mendapatkan DOC grade 1, namun karena sulitnya mendapatkan DOC, peternak pada akhirnya mencampurnya dengan DOC bibit muda (BM) untuk memenuhi kandang yang pada akhirnya mengakibatkan tingkat kematian pada saat panen juga cukup tinggi. Selain itu, tingginya angka kematian juga bisa disebabkan karena ayam mengalami sakit atau tidak sehat namun tetap dipaksakan untuk dipanen, sehingga saat diperjalanan banyak yang mati.
Selain faktor-faktor yang telah dijelaskan tadi, ada hal lain seperti terjebak kemacetan panjang di jalan atau kesalahan dalam menentukan jam pengiriman ayam. Idealnya, panen ayam tersebut dilakukan pada saat sore hingga malam hari. selain ayam tidak mudah mengalami stres saat penangkapan atau proses panen, malam hari merupakan waktu yang ideal karena kondisi suhu udara cenderung dingin sehingga ayam mampu bertahan lama saat diperjalanan.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Juni 2019 dengan judul “Mengurangi Penyusutan Saat Panen Tiba”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153