Beberapa faktor yang dapat mendukung perkembangan dari penyakit ini yaitu keganasan dari virus, kerentanan berdasarkan gen keturunan, kebersihan lingkungan, stres, kondisi sistem imun, suhu lingkungan, interaksi dengan virus lain yang menyebabkan penurunan sistem imun, toksin, perubahan musim, dan lain-lain. (Sumber Foto : partnersah.vet.cornell.edu)
Oleh : drh. Esti Dhamayanti
Penyakit neoplastik merupakan kumpulan dari beberapa penyakit pada unggas dengan kondisi yang terkait maupun tidak terkait yang dikarakteristikan dengan suatu kondisi, yaitu neoplastik atau disebut juga dengan tumor. Grup ini dipisahkan menjadi dua kategori utama, tergantung oleh apakah agen penyebabnya diketahui atau tidak, tambahan lainnya yaitu dapat menyebabkan kerugian secara ekonomis dari kematian akibat tumor maupun penurunan produksi.

Marek’s Disease (MD) merupakan suatu penyakit neoplastik yang dapat mempengaruhi sistem imun pada ayam. Penyakit yang memiliki nama lain fowl paralysis ini sudah menyebar di seluruh dunia dan menyebabkan kerugian yang sangat signifikan bagi peternakan unggas.

Marek’s Disease merupakan salah satu penyakit yang termasuk dalam golongan penyakit neoplastik dan termasuk ke dalam tiga besar penyakit yang menyebabkan kerugian secara signifikan pada dunia perunggasan. Kerugian yang disebabkan oleh marek’s di Amerika mencapai 150 juta dolar per tahun, sedangakan di Inggris kerugian mencapai 7 juta poundsterling. Kerugian tersebut merupakan 2,5% pendapatan dari sektor peternakan. Payne dan Venugopal (2000) menyatakan bahwa pada tahun 1984 saja total kerugian akibat adanya Marek’s Disease sebesar 943 juta dolar di seluruh dunia.
Baca Juga : Pencegahan Terhadap Penyakit Avian Influenza
Marek’s atau yang disebut juga dengan fowl paralysis, neurolymphomatosis, acute leucosis, maupun range paralysis merupakan penyakit yang viral yang sangat menular. Virus yang menyebabkan marek’s berasal dari genus mardivirus dan subfamili alpaherpesvirinae. Virus yang memiliki struktur DNA dengan bentuk heksagonal dengan ukuruan 85-100 nm sampai dengan 150-170 nm ini umumnya menyebabkan angka kesakitan 10-50% dan kematian sekitar 40-80%, bahkan ada yang menyebutkan sampai 100%. Walaupun ayam merupakan inang alami dari virus ini, marek’s dapat menyerang unggas lainnya seperti puyuh dan kalkun karena virus marek’s ayam juga dapat bereaksi silang antara virus marek’s ayam dengan herpesvirus kalkun.
Beberapa faktor yang dapat mendukung perkembangan dari penyakit ini yaitu keganasan dari virus, kerentanan berdasarkan gen keturunan, kebersihan lingkungan, stres, kondisi sistem imun, suhu lingkungan, interaksi dengan virus lain yang menyebabkan penurunan sistem imun, toksin, perubahan musim, dan lain-lain. Gejala klinis pada ayam terlihat pada umur 10-15 minggu, laporan lain menyebutkan bahwa ayam lebih rentan terhadap marek’s pada umur 16-20 minggu, tetapi anak ayam yang berumur kurang dari 3 minggu juga rentan terhadap marek’s. Penyakit ini akan berlangsung sekitar 3-9 minggu pada anak ayam tersebut.
Baca Juga : Salmonelosis dan Ancaman yang Menyertainya
 Virus marek’s memiliki tingkat keganasan yang berbeda-beda tiap jenis atau strainnya. Gallid herpesvirus 2 (MDV-1) mewakili jenis virus marek’s yang bersifat virulen sedangkan Gallid herpesvirus 3 (MDV-2) dan Meleagrid herpesvirus 1 (turkey herpesvirus, MDV-3) mewakili virus marek’s yang avirulent (tidak ganas) dan biasanya dijadikan vaksin untuk proteksi terhadap serangan virus marek’s. Tipe serangan dari virus ini pun berbeda, ada yang bertipe klasik maupun tipe akut. Hal yang memberdakan dari kedua tipe ini yaitu pada tipe klasik, kematian dapat terjadi dalam hitungan hari maupun minggu setelah gejala terlihat.
Pada ayam yang sembuh dari penyakit ini biasanya ditemukan kerusakan pada susunan syaraf tepi (SST) yaitu syaraf ischiadicus di daerah kaki, syaraf brachialis di daerah sayap, dan syaraf vagus di daerah saluran pernafasan. Kelumpuhan pada syaraf-syaraf tersebut tentunya akan menimbulkan gangguan pada daerah syaraf yang diserangnya. Kelumpuhan biasanya terjadi pada satu sisi saja (unilateral), namun tidak menutup kemungkinan terjadinya kelumpuhan pada kedua sisi (bilateral). Jika kelumpuhan terjadi pada syaraf ischiadicus dan brachialis tentunya akan menimbulkan kelumpuhan pada kaki dan sayap. Gangguan pernapasan maupun kelumpuhan pada leher dapat terlihat pada kelumpuhan pada syaraf vagus akibat virus ini.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2019 dengan judul “Waspada Serangan Penyakit Marek”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153