Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh ISPI mengangkat tema seputar pentingnya konsumsi protein hewani untuk menghadapi era revolusi industri (17/11).
POULTRY INDONESIA, Pontianak – Sumber daya peternakan merupakan salah satu sumber daya penting bagi hajat hidup masyarakat dan memiliki potensi sebagai penggerak utama perekonomian nasional yang berbasis sumber daya lokal. Produk peternakan merupakan komoditas yang bernilai tinggi (High Value Commodities). Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan pendapatan penduduk, permintaan terhadap komoditas yang bernilai tinggi ini semakin meningkat pula.
Hal itu disampaikan oleh Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji, M.Hum yang diwakili oleh Anna Veridiana Iman Kalis, MP, Staf Ahli Gubernur Kalbar Bidang Pembangunan dan ekonomi dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia Cabang Kalimantan Barat di Pontianak, Sabtu (17/11). Ia menjelaskan, data Organisasi Pangan dan Pertanian di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), atau yang dikenal Food and Agriculture Organization (FAO) mencatat bahwa konsumsi protein hewani masyarakat di negara-negara maju jauh diatas angka konsumsi protein masyarakat Indonesia. Data dari FAO menunjukan bahwa konsumsi hewani di Negara Amerika sebanyak 114g/orang/hari; Spanyol (108g/orang/hari); Inggris (104g/orang/hari); Malaysia (79g/orang/hari); Vietnam (72g/orang/hari); dan Laos (61g/orang/hari).
Baca juga : Berbagai Acara Menarik di HATN Jakarta
Sementara itu, sumber protein hewani yang dikonsumsi oleh masyarakat dari negara-negara maju dan berkembang di atas adalah Amerika 54%, Spanyol 48%, Inggris 48%, Malaysia 30%, Thailand 24%, dan Philipina 21%, Indonesia hanya sekitar 8%, atau tertinggal jauh dibanding beberapa negara ASEAN.
Rendahnya konsumsi produk asal ternak ini dapat selain disebabkan karena rendahnya daya beli masyarakat, juga disebabkan oleh rendahnya produksi daging, telur dan susu. Sebagai contoh produksi daging kerbau, sapi, domba dan kambing pada tahun 2017 sebesar 688.859 ton dan produksi susu tahun 2017 sebesar 920.100 liter. Bila diperhitungkan dengan jumlah penduduk Indonesia sebesar 262 juta orang, maka setiap orang di Indonesia hanya akan memperoleh daging sebesar 2.629g/tahun atau 7,20g/hari dan mendapat susu 3,512cc/tahun atau 0,00962cc/hari.
Untuk Kalimantan Barat dengan populasi penduduk di angka 5.365.256 jiwa, angka indeks pembangunan manusia (IPM) yang Cuma 66,26 % (BPS, 2017) maka dapat disimpulkan bahwa konsumsi perkapita daging Kalimantan Barat masih sangat minim sekali sehingga wajar masih banyak ditemukannya stunting, gizi buruk, kurang berprestasinya anak-anak Kalimantan Barat di berbagai sektor, dan masih banyak lagi hal-hal buruk yang disebabkan oleh kurangnya konsumsi protein hewani seperti daging, telur maupun susu.
Fakta tersebut menjadi peluang besar bagi Kalimantan Barat untuk terus meningkatkan produksi daging, susu dan telur untuk dapat memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat untuk dapat meningkatkan angka IPM sebagai salah satu indikator keberhasilan pembangunan daerah. PI