Metode analisis isotop stabil dapar menjadi salah satu metode alternatif yang cukup potensial dalam rangka mengetahui pola migrasi unggas liar
Oleh drh. Ahmad Kurniawan
Kasus High Pathogenic Avian Influenza (HPAI) H5N1 pertama kali diisolasi dan dikaraterisasi dari angsa di provinsi Guangdong, Cina, pada tahun 1996. Dalam kasus-kasus tertentu, manusia juga dapat terkena penyakit ini umumnya karena mengalami kontak dengan unggas-unggas yang sakit (UNICEF, 2018). Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada tahun 2017 melaporkan, kerugian yang disebabkan oleh kasus flu burung pada unggas sangat signifikan dengan kerugian finansial mencapai triliunan rupiah. Sedangkan kasus flu burung (H5N1) pada manusia di Indonesia seperti dilansir Kemenkes, mulai menyebar sejak Juni 2005 sampai Desember 2016 sebanyak 199 kasus. Kasus tersebar di 15 provinsi dan 58 kabupaten dan kota diseluruh Indonesia.
Penentuan pola sirkulasi virus saat ini sudah dilakukan dengan metode Polymerized Chain Reaction (PCR). Selain pola sirkulasi, data pola migrasi unggas liar juga dibutuhkan untuk pemetaan penyakit.
Gambar 1.
  Berbagai metode sudah diterapkan antara lain metode banding, radiotransmitter, satellite tags, passive radars maupun transponders. Salah satu metode yang dilakukan dalam penentuan pola migrasi unggas liar yang potensial adalah dengan menggunakan analisis isotop stabil. Analisis isotop stabil dilakukan pada sampel burung yang melakukan migrasi. Metode ini digunakan sebagai proses screening untuk menyelidiki area tertentu apakah pernah dilalui dalam proses migrasi unggas liar (Bridge et al, 2014).
Gambar 2.
Baca Juga : Pengujian Bahan Aktif Tanaman Pengganti AGP
Sampel yang biasa diambil adalah bulu dari burung migrasi. Hal ini dikarenakan pada bulu burung informasi isotop akan “terkunci” di dalamnya. Informasi isotop tersebut yang dianalisis dengan metode analisis isotop stabil, peralatan yang digunakan dapat memakai elemental analyzer yang dianalisis dengan Continous Flow Isotope Ratio Mass Spectrometry (CF-IRMS) seperti pada gambar 1, 2, dan 3 (Hobson, 2005).
Penggunaan IRMS terutama digunakan untuk mengukur light isotope memiliki  implikasi penting. Semua sampel (bulu, otot, darah, cakar, dan lain-lain) tidak dapat dilakukan pengukuran rasio isotopnya secara langsung pada bahan organik mentah, tetapi sampel pertama-tama harus dipreparasi atau dengan cara tertentu secara kuantitatif dikonversi menjadi ultrapure dan analit gas yang sesuai untuk mengukur rasio isotopnya. Metode analisis isotop stabil memiliki kelebihan karena harganya yang relatif lebih murah, bisa diterapkan pada spesies burung apa pun, serta dapat dilakukan kombinasi berbagai isotop untuk meningkatkan resolusi spasial. Metode analisis isotop stabil ini juga memiliki kelemahan yakni memiliki resolusi yang relatif rendah.
Gamber 3
Baca Juga : Probiotik Alami Solusi Pengganti AGP
Sebuah penelitian dilakukan dilakukan oleh J.H.Verhagen et al 2014, dengan memantau pola migrasi Mallard (Anas platyrhyncos), sejenis itik yang banyak dijumpai di Eropa dan Amerika Utara. Hasilnya, menunjukkan kombinasi metode virologis, serologis dan analisis isotop stabil dapat memberikan data dan gambaran pola sirkulasi virus dan pola migrasi dari unggas pada wilayah yang diamati.
Posisi Indonesia yang terletak di khatulistiwa membuat wilayah ini menjadi tujuan burung migrasi, terutama saat memasuki musim dingin di belahan bumi bagian utara. Hal tersebut menyebabkan potensi penyebaran penyakit yang disebabkan oleh unggas liar seperti flu burung juga cukup tinggi. 
Penulis merupakan Peneliti Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN)