Arief Daryanto
Oleh Arief Daryanto, Ph.D.
Dekan Sekolah Vokasi IPB, Adjunct Professor University of New England, Australia.
Pada tanggal 12 Maret 2019 lalu saya diundang sebagai pembicara kunci dalam Simposium WISE 2019 yang diselenggarakan di Wageningen University and Research (WUR), Belanda. WUR merupakan satu dari sekian universitas berkelas dunia yang kini menempati peringkat pertama dalam bidang pertanian dan kehutanan berdasarkan QS World University Rankings. Sebagai pembanding, dalam kategori bidang pertanian dan kehutanan, Institut Pertanian Bogor (IPB) berada pada peringkat ke-74 dunia.

Wageningen Indonesia Scientific Expose (WISE) 2019 menjadi kegiatan yang memadukan ilmu pengetahuan Wageningen dan Indonesia. Salah satu topik yang menjadi pembahasan kali ini adalah konsep “From Volumes to Values” pada produk pangan.

Simposium WISE 2019 merupakan simposium keempat yang diselenggarakan oleh WUR sejak tahun 2015. Simposium ini diprakarsai oleh Prof. Dr. Henk Hogeveen dan Dr. Lisa Becking bersama beberapa mahasiswa Ph.D. Indonesia dan kandidat postdoctoral sebagai panitia penyelenggara. Tahun ini, simposium tersebut mengangkat tema “Bersatu dalam Keanekaragaman Ilmu Pengetahuan: Menyatukan Indonesia dan Wageningen”. Simposium ini bertujuan untuk saling bertukar informasi tentang proyek penelitian terkini.
Baca Juga : Peluang Pelatihan Peternak Berbasis Daring di Indonesia
Saya diundang sebagai pembicara dalam acara WISE 2019 dengan memaparkan topik berjudul “Improving the competitiveness of the poultry sector in Indonesia: Needs for future research”. Dalam kesempatan ini, saya menjelaskan bahwa prospek industri perunggasan di Indonesia ke depan sangat cerah. Indonesia sangat menarik bagi investor yang ingin menanamkan modalnya di industri perunggasan.
Permintaan daging ayam di Indonesia ke depan akan terus meningkat karena beberapa faktor utama, antara lain adanya peningkatan jumlah penduduk, peningkatan pendapatan, peningkatan urbanisasi, perubahan gaya hidup, peningkatan harga substitusi daging ayam misalnya daging sapi, dan pergeseran selera dari pangan yang dianggap “inferior” ke pangan yang dianggap memiliki nilai yang “superior”. Di samping itu, tidak satu agama pun di dunia yang melarang pengikutnya mengonsumsi daging ayam.
Baca Juga : Pergelaran Peternakan Terbesar Bertema Rekayasa Pangan
Ketika pendapatan masyarakat yang siap dibelanjakan meningkat, konsumsi protein hewani termasuk daging ayam juga akan meningkat. Hal ini ditunjukkan dengan masih tingginya elastisitas pengeluaran terhadap daging ayam baik di negara maju maupun negara berkembang. Pada umumnya ada hubungan positif antara konsumsi produk daging ayam per kapita dan pendapatan per kapita. Hubungan positif ini mendukung teori ekonomi umum yang menyatakan bahwa dengan meningkatnya pendapatan atau daya beli masyarakat, konsumsi mereka akan beralih ke jenis pangan yang memiliki elastisitas pendapatan yang lebih tinggi (high income-elastic foods).
Artikel ini adalah ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2019 dengan judul Peningkatan Nilai Produk Pangan dalam Acara WISE 2019. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153