Masih perlunya edukasi tentang strain petelur yang sesuai dengan kebutuhan peternak di lapangan
Oleh : Prof. Dr. Ir. Budi Tangendjaja, M.Sc., M.Appl.
Langkah RST perlu dilakukan oleh pemerintah melalui lembaga independen sehingga menghasilkan informasi yang objektif untuk dapat disebarluaskan ke pengguna, dalam hal ini peternak. Banyak peternak mengalami kebingungan untuk memilih strain ayam dari berbagai strain yang ada di pasaran. Padahal penentuan strain akan berpengaruh terhadap penampilan produksi dan juga keuntungan akhir dari suatu peternakan. Oleh karena itu diperlukan suatu penelitian yang dapat menunjukkan perbandingan berbagai strain ayam dan ini harus dilakukan setiap tahun karena genetika ayam setiap tahun dapat berubah sesuai dengan perkembangan industri.

Random Sample Test (RST) merupakan suatu penelitian untuk menguji atau membandingkan berbagai jenis ternak (strain) dalam kapasitasnya untuk menghasilkan produk ternak dan menghasilkan pendapatan.  

RST dapat dilakukan pada ayam petelur maupun broiler, tetapi institusi yang secara konsisten melakukan pengujian ayam petelur adalah North Carolina State University (NCSU), Amerika Serikat. Universitas ini secara konsisten melakukan RST setiap tahun dan laporan terakhir adalah untuk pengujian ke-40 yang baru saja selesai dan dilaporkan hasilnya. Dalam laporan tersebut, dilakukan uji coba khusus untuk ayam petelur baik yang cokelat maupun putih. Pengujian ayam petelur juga dibagi berdasarkan sistem pemeliharaan baik di sangkar (cage), diumbar (free range), sistem koloni yang enrich maupun yang tidak. Dalam tulisan ini, hanya dilaporkan hasil RST untuk petelur cokelat yang dipelihara dalam sangkar (conventional cage) yang umum dilakukan di Indonesia.
Bagaimana RST dikerjakan
Penelitian RST yang dilakukan oleh NCSU untuk menguji ayam petelur mengikuti suatu prosedur yang baku untuk mencegah terjadinya bias. Untuk menguji ayam periode bertelur, ayam pullet dipersiapkan sendiri dengan sistem pemeliharaan baku. Bahkan untuk mempersiapkan pullet, mereka tidak menerima day old chick (DOC) dari perusahaan pembibitan melainkan menerima telur tetas dari ayam induk dan menetaskan telur sendiri sehingga dihasilkan DOC dengan kualitas standar.
Pembesaran ayam dilakukan dalam sangkar dengan pemberian pakan yang standar. Pullet yang sudah dipersiapkan dipindahkan pada umur 16 minggu ke dalam sangkar baterai untuk pemeliharaan konvensional yang menggunakan sangkar (cage). Pengujian strain ayam petelur cokelat dilakukan terhadap strain yang ada di pasaran yaitu Bovans, ISA, Hy-Line, Hy-Line silver, Lohmann, Novogen dan TETRA.
Baca Juga : Layer day 2019, Pullet Quality for Best Layer Performance
Ada satu strain Hisex brown yang tidak termasuk dalam pengujian tersebut padahal tahun-tahun sebelumnya dilakukan. Setiap strain petelur menggunakan 96 ekor ayam yang dibagi ke dalam 4 ulangan dengan masing-masing ulangan sebanyak 24 ekor. Ayam petelur dipelihara dalam sangkar berisi 12 ekor dengan alokasi area kepadatan adalah 516 cm2 per ekor ayam. Ayam dipelihara dalam kandang tertutup (closed house) dengan 3 susun (tiers).
Pemeliharaan ayam dilakukan dalam 1 siklus produksi dari 17 sampai 89 minggu. Pakan diberikan 4 jenis dengan komposisi gizi berbeda disesuaikan dengan produksinya. Perbedaan gizi tidak hanya protein tetapi juga kandungan asam amino (lisin sebagai patokan), energi metabolis, kalsium, fosfor dan ransumnya diproduksi oleh pabrik pakan.
Baca Juga : Strategi Budi Daya Ayam Petelur
Pengamatan terhadap penampilan produksi dilakukan untuk konsumsi pakan rataan per hari, efisiensi penggunaan pakan (kebalikan dari FCR), jumlah telur yang dihasilkan per ekor yang dipelihara awal (hen house), produksi telur hen day (% jumlah telur per total ayam), kematian, massa telur (berat telur/ butir x jumlah telur yang dihasilkan sehari) dan umur saat ayam mencapai 50% produksi.
Kualitas telur juga diukur baik grade telur dan telur retak serta loss menurut petunjuk baku dari Departemen Pertanian AS (USDA). Untuk perhitungan ekonomi, pendapatan telur dihitung dari harga telur berdasarkan kualitas dan dikalikan dengan jumlah telur yang dihasilkan, sedangkan biaya pakan dihitung dari konsumsi pakan untuk setiap jenis dikalikan dengan harga pakan yang berlaku di Amerika saat itu berdasarkan formulasi yang dipakai. Saya menambahkan perhitungan lain yaitu pendapatan dikurangi biaya pakan atau income over feed cost (IOFC) yang dapat menunjukkan keuntungan bagi produksi telur dan dikonversikan ke rupiah (harga kurs US$=Rp14.200).
Hasil RST ke-40 tahun 2018 yang dilakukan di NCSU
Penampilan produksi berbagai strain ayam petelur cokelat selama produksi 72 minggu dikemukakan pada Tabel 1. Secara keseluruhan hasilnya menunjukkan ada perbedaan nyata antara strain ayam petelur terhadap konsumsi pakan, massa telur yang dihasilkan dan efisiensi penggunaan pakan. Massa telur yang paling tinggi diperoleh dari strain ISA yaitu sebesar 53.64 gram dan berikutnya adalah Novogen sebesar 52.04 gram meskipun secara statistik tidak berbeda nyata.
Kalau diperhatikan lebih lanjut tingginya masa telur berkaitan dengan tingginya produksi hen day yang juga dibarengi dengan tingginya jumlah telur yang dihasilkan per hen house. Umur ayam untuk mencapai produksi 50% tidak banyak berbeda diantara strain ayam yaitu antara 137-140 hari, meskipun secara statistik berbeda nyata antara ayam Lohmann yang mempunyai umur 137 hari dibanding ayam ISA yang 140 hari.

(Berikut Tabel Penampilan produksi Ayam Petelur (17–89 mg) dalam sangkar (Conventional Cages), Hasil Random Sample Test ke40 NCLP&MT)

Breeder   Konsumsi Pakan Efisiensi produksi Jumlah telur/ekor Hen Day Massa Telur Kematian Umur mencapai 50%HD
(Strain)   (g/ekor/h) (kg telur/kg pakan) (butir) (%) (g/HD) (%) (hari)
Bovans   107.1ab 0.48ab 416.12 84.07 52.29ab 12.5 140a
ISA   105.7ab 0.50a 421.36 86.09 53.64a 6.25 140a
Hy-Line   103.4b 0.46ab 389.82 79.76 48.14b 7.29 139ab
Hy-Line Silver   107.7a 0.44b 399.32 80.61 47.33b 7.29 138ab
Lohmann   103.6b 0.49ab 357.2 82.1 50.71ab 40.62 137b
Novogen   105.3ab 0.49ab 401.06 83.47 52.04ab 19.79 140ab
TETRA   106.4ab 0.46ab 397.86 81.28 49.72ab 11.46 138ab
Rataan Strain   10.56 0.48 397.88 82.88 50.71 15.03 139
Keterangan:
Kepadatan Sangkar: 516 cm2/ekor
Sumber Tabel: Single Cycle Report Of The Fortieth North Carolina Layer Performance And Management Test (2018)

Artikel ini adalah ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Mei 2019 dengan judul Perbandingan Berbagai Jenis Ayam Petelur Cokelat Hasil RST Terkini. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153