Terdapat beberapa aspek yang harus diperhatikan ketika memasuki masa produksi layer agar mencapai target yang diinginkan
Oleh : Ir. Sjamsirul Alam
Ada salah satu masa kritis yang perlu menjadi perhatian serius bagi pelaku peternakan ayam petelur, terutama bagai para pemilik dan Farm Manager/Supervisor yaitu hal-hal yang penting untuk dikerjakan menjelang ayam memasuki masa produksi. Jika hal ini terlalaikan, maka dipastikan akan terjadi kegagalan untuk mencapai puncak produksi hingga sampai memasuki masa afkir.

Sebuah peternakan ayam petelur yang dikelola dengan manajemen pemeliharaan yang baik dan benar akan menghasilkan pundi-pundi keuntungan bagi pemiliknya

Periode starter (umur 0-6 minggu) dan grower (6-16 minggu) atau nama lainnya ‘pullet’ bisa disebut berhasil jika keseragaman mencapai 85% dan bobot badan mencapai target 1.100-1.140 gram pada umur 13 minggu dan 1.270-1.320 gram pada umur 15 minggu, namun keberhasilan ini akan berlanjut apabila teknik pemeliharaan ayam petelur ini dikerjakan dengan baik.
Adapun enam hal yang perlu dikerjakan saat beternak layer pada masa persiapan produksi antara lain program pengendalian ektoparasit; program pengendalian endoparasit; transfer; seleksi; pergantian pakan bertahap; serta kandang baterai yang dipersiapkan. Pertama, program pengendalian ektoparasit. Dalam hal ini kutu ayam, caplak, tungau, dan pinjal yang hidupnya menumpang di bagian luar tubuh ayam. Walaupun tidak menimbulkan kematian secara nyata, tetapi secara ekonomi merugikan karena akan menghisap darah ayam dan menimbulkan kegatalan sehingga mengganggu pertumbuhan dan produksi telur.
Infestasi ektoparasit yang sangat parah dapat menurunkan produksi telur hingga 20%. Kasus serangan ektoparasit relatif mudah untuk diketahui dengan memperhatikan gejala yang muncul, antara lain nampak ayam tidak tenang, kurus, bulu kusam, nafsu makan menurun, dan seringkali mematuk bulu serta tubuhnya. Untuk pencegahan ektoparasit dapat dilakukan hal seperti pada Tabel 1.
Tabel 1 : Pencegahan dan Kontrol Ektoparasit pada Layer
No
Obat
Dosis
Aplikasi
1
Antipar 500 atau
Ciperkiller 25 W
atau Sevin – 85
1.000 gr
300 gr
           500-100 gr
Larutkan dalam 100 liter air
Semprot atau rendam ayam
Semprot minimal 100 cc/ekor
2
Bubuk belerang
1.000 gr
Semprot pertama  pada umur 19-22 minggu, setelah itu  diulang tiap 3 bulan sekali
3
Deterjen
200 gr
 
Sumber: Manual Manajemen Layer CP 909 (2010)
Kedua, program pengendalian endoparasit yaitu koksidiosis (berak darah), Leucocytozoonosis, malaria unggas, dan cacingan yang akan menggerogoti pertumbuhan dan kemampuan produksi telur dari dalam tubuh ayam sehingga mengalami kerugian ekonomi yang tidak sedikit. Penyakit Koksidiosis disebabkan parasit protozoa (parasit sel tunggal) yang berasal dari genus Emeria, yang menyerang mukosa usus ayam dalam bentuk ookista melalui beberapa proses pembelahan diri. Untuk pencegahan taburkan kapur sirih atau soda kaustik pada litter basah/lembap, sedang pengobatan berikan antibiotika dari golongan Sulfa atau Thiamine antagonist atau Toltrazuril secara bergantian setiap interval 3-4 kali pengobatan untuk menghindari resistensi obat.
Baca Juga : Perbandingan Berbagai Jenis Ayam Petelur Cokelat Hasil RST 2018
Penyakit Leucocytozoonosis disebabkan parasit protozoa Leucocytozoon sp. yang hidup di dalam sel darah merah ayam dengan gejala klinis kotoran berwarna hijau, depresi, hilang nafsu makan, muntah darah, kelumpuhan, dan berakhir dengan kematian. Pada ayam yang tidak menampakkan gejala klinis spesifik, hanya ditandai adanya penurunan produksi telur dan penurunan bobot badan secara drastis. Pencegahan terhadap Leucocytozoonosis antara lain dengan menekan dan mengeleminasi ‘vektor biologik’ seperti lalat (Simulium sp.) dan nyamuk (Culicoides) dengan cara membabat semak-semak dan menghindari adanya genangan air sekitar peternakan termasuk secara rutin mencuci tempat minum ayam, di samping melakukan pencucian dan desinfeksi kandang serta peralatan lainnya. Pengobatan dengan pemberian salah satu obat ini yaitu Atebrine (Quinacrine Hydrochloride) dengan dosis 0,5-1% dalam air minum atau Pyrimethamine (Daraprime) dengan dosis 1 mg/ekor.
Penyakit malaria unggas disebabkan oleh parasit protozoa Plasmodium sp, yang menginfeksi eritrosit (butir darah merah) unggas dimana gejala-gejala klinis yang tampak yaitu terjadi perubahan suhu tubuh turun-naik, penurunan nafsu makan, bulu kusut, depresi, kelemahan, keseimbangan tubuh terganggu, diare, kurang darah, gangguan pernapasan, kelumpuhan, penurunan bobot badan, dan produksi telur. Pencegahan dan pengobatan sama seperti pada penyakit Leucocytozoonosis. 
Penulis merupakan praktisi perunggasan dan alumni Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran.