Ayam kampung memiliki resistensi yang tinggi terhadap serangan penyakit dibandingkan dengan ayam ras.
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Proses sinergi yang berjalan antarpihak bukanlah tanpa alasan. Potensi yang sudah menanti di sektor hilir tak bisa dipandang sebelah mata. Bila terus dilakukan pengembangan dalam berbagai rantai produksi, maka peluang pasar yang optimal akan mampu diraih. Peternak ayam lokal yang juga merupakan pemilik dari PT Jatinom Indah di Blitar, Hidayatur Rahman, ingin benar-benar melakukan proses budi daya sebaik mungkin demi terciptanya produk berkualitas. “Awalnya kami melihat ayam lokal itu tidak memiliki standar (kualitas, pemeliharaan) seperti ayam ras. Itu yang memunculkan niat kami mengembangkan ayam lokal dengan standar di Indonesia,” ungkapnya, Selasa (11/9).

Menurutnya, bisnis ayam lokal juga terus tumbuh. Hidayat melihat bahwa pasarnya sudah terbuka namun pemasok produknya belum banyak tersedia. Mengetahui potensi tersebut, Hidayat terus melakukan inovasi. Ia berkeliling Indonesia untuk mencari bibit terbaik.

Untuk urusan pakan, ia lebih memilih melakukan self mixing meski biaya yang dikeluarkan lebih mahal daripada pakan pabrikan. “Tapi efek ke produktivitas ayam saya menjadi lebih bagus,” ujarnya. Berjarak lima tahun sejak ia pertama kali mencari bibit ayam lokal, kini produksi per minggunya telah mencapai 35.000 ekor. Hal yang membuatnya yakin untuk terus berproduksi adalah ayam – ayam miliknya sudah siap terserap secara luas setelah mereka keluar dari kandang.
Baca Juga : Membentuk Galur Murni Ayam Lokal Indonesia
Sementara itu, sebuah restoran di Purwokerto, Jawa Tengah, tak kehabisan pengunjung yang datang silih berganti untuk menikmati sajian khas ayam kampung jantan. Restoran bernama Djago Jowo yang terletak di Jalan Gelora Indah 1, Mangunjaya, memiliki banyak pelanggan tetap yang gemar menyantap menu ayam kampung, mulai dari kalangan menengah hingga atas. Supervisor restoran Nurul Fajriah mengatakan, menu yang banyak digemari adalah potongan ayam jago goreng yang disajikan dengan sambal dan bermacam lalap segar.
Harga per potongnya pun bervariasi. Ada ukuran satu per empat dengan harga Rp 33.000, ada pula ukuran 1 ekor dengan harga Rp 130.000. “Sampai saat ini menu ayam kampung selalu dicari masyarakat, sehingga kami tak kehilangan pelanggan,” ucap Nurul, Jumat (21/9). Nurul menyampaikan bahwa ayam yang diolah di sana berasal dari penyuplai ayam kampung dan yang diambil adalah ayam jago. Ia juga mengaku tidak ada hambatan berarti yang dialami selama Djago Jowo berdiri, hingga usia restoran ini menginjak empat tahun. Masalah pasokan ayam sebagai bahan utama masakan pun cenderung bisa teratasi.
Baca Juga : Kabar Bisnis Ayam Lokal
Menurut Nurul, prospek ayam kampung ke depannya akan lebih menjanjikan, karena masih banyak yang menyukai ayam kampung dijadikan sebagai kuliner spesial. “Customer lebih mantap untuk makan ayam kampung”, tandasnya. Prospek ayam lokal masih terbuka dengan munculnya ragam restoran yang menyajikan menu khas, salah satunya berbahan ayam kampung. Para peminat ayam lokal tetap ada dan berlipat ganda seiring munculnya kuliner modern yang juga berbahan ayam lokal. Meski harganya lebih mahal ketimbang daging ayam ras, namun produk ayam lokal tak pernah sepi pelanggan.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Oktober 2018 di halaman 52 dengan judul “Gopan Ajak Peternak Modernisasi Kandang”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153