POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pertumbuhan perunggasan yang masif juga memberi dampak positif bagi industri obat hewan. Perusahaan lokal dan mancanegara pun bersaing seiring pasar Indonesia yang semakin potensial. Ketua Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) drh. Irawati Fari mengatakan, bisnis perunggasan kian menarik minat perusahaan obat hewan untuk ikut serta di dalamnya. Hal itu terbukti dari banyaknya perusahaan obat hewan yang meminta rekomendasi kepada ASOHI. “Setiap bulan ada 2-3 permintaan rekomendasi baru,” ujar Irawati pada acara ASOHI CEO Forum, Kamis (25/10/18). Hal itu tak lepas dari peran ASOHI sebagai mitra pemerintah untuk mengawasi peredaran obat hewan di Indonesia.
Direktur Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal PKH, drh. Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Ph.D., merilis data perkembangan industri obat hewan di Indonesia. Selama 2018, terdapat penambahan 7 produsen obat hewan, 16 importir obat hewan serta 4 eksportir obat hewan. Seluruhnya telah mendapat legalitas berdasarkan aturan yang ditentukan pemerintah. Tak hanya itu, jumlah produk registrasi obat hewan pada 2018 pun meningkat menjadi sebanyak 6.987.
Baca Juga : Membaca Sederet Peluang Bisnis Perunggasan
Menurut Fadjar, peluang pertumbuhan obat hewan juga muncul atas respons dari pelarangan penggunaan AGP pada pakan sesuai dengan Permentan No. 14 Tahun 2017. Ia memprediksi akan semakin banyak produk alternatif AGP yang muncul pada tahun 2019. Produk tersebut bisa berupa probiotik, prebiotik, bahan herbal, jamu, ataupun enzim. “Sebelum 2017 saja sudah terdaftar 294 produk,” ujarnya pada Seminar Bisnis Peternakan yang diselenggarakan oleh ASOHI, Kamis (22/11/18).
Sulitnya mendapat bahan pakan dengan secara stabil—baik dari segi ketersediaan maupun harga—diakui Desianto Budi Utomo menjadi tantangan tersendiri bagi industri pakan tahun 2018. Ketua GPMT itu bahkan mengungkapkan perusahaan pakan tak bisa menggunakan jagung kering berkadar air 15% sebagaimana biasanya. Hal tersebut ditempuh sebab harga jagung sering kali tinggi bahkan menyentuh Rp 6.000 per kilogram. Selain itu, perusahaan pakan juga membatasi penggunaan jagung sebagai bahan pakan hanya pada kisaran 35-40% saja. Kekurangan dari kandungan jagung itu pun dipenuhi dari sumber karbohidrat lain seperti sorgum, singkong, gandum, bungkil sawit dan juga bekatul.
Baca Juga : Beranjak dari Terjalnya Bisnis Perunggasan 2018
Industri pakan juga mendapat tantangan dari meningkatnya harga bahan pakan pada tahun 2019. Meski demikian Desianto optimis bahwa industri pakan pada tahun 2019 akan mengalami peningkatan produksi, setidaknya 6-8%. Mengingat, saat ini Indonesia terus berupaya meningkatkan jumlah produksi dan konsumsi produk unggas. Masyarakat Indonesia masih tertinggal dalam hal konsumsi daging ayam dan telur dibandingkan negara tetangga. Malaysia misalnya, telah mencapai jumlah konsumsi daging ayam sebesar 52 kilogram per kapita per tahun. Sementara Indonesia masih berkutat di angka 12,5 kilogram per kapita per tahun. Untuk melakukan peningkatan konsumsi tersebut tentu dibutuhkan jumlah pakan unggas yang sesuai.
Direktur Pakan Direktorat Jenderal PKH Kementerian Pertanian, Ir. Sri Widayati, MM., percaya bahwa industri pakan bisa meningkatkan produksinya pada tahun 2019. Target produksi 19,4 juta ton yang tak terpenuhi pada tahun 2018 diharapkan mampu diperbaiki pada tahun 2019 dengan target 20,7 juta ton. “Pemerintah saat ini sedang menyusun regulasi terkait pakan, baik revisi regulasi maupun penyusunan regulasi baru. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing industri pakan, menciptakan kompetisi yang sehat, serta meningkatkan kepercayaan konsumen,” ujarnya, Kamis (22/11/18).
Artikel ini merupakan ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2019 dengan judul “Membaca Sederet Peluang Bisnis Perunggasan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153