Foto bersama seluruh peserta FGD Evonik, Jakarta (18/9).
Peran AGP yang digunakan sebagai feed additive pada budi daya unggas dinilai memberi dampak peningkatan produksi yang signifikan. Namun, sejak awal tahun 2018, Pemerintah Indonesia resmi melarang penggunaan AGP pada pakan ternak karena dianggap dapat membahayakan manusia sebagai konsumen produk peternakan, dalam hal ini terkait resistensi antimikroba.
Pelarangan penggunaan AGP pada pakan ternak itu berlandaskan pada Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No. 14 Tahun 2017. Ketika awal mula regulasi ini diterapkan, tak sedikit pihak yang keberatan dan khawatir kegiatan produksi unggas mereka terganggu. Banyak pula yang menanyakan tentang bahan pengganti AGP yang tepat dan mampu menjaga performa unggas tetap stabil. Menanggapi hal tersebut, serta demi memberikan pemahaman yang lebih rinci terkait pelarangan AGP, PT Evonik Indonesia berinisiatif menyelenggarakan FGD dengan mengusung tema “Updates on Regulation for Antibiotic Growth Promoters Use in Poultry Feeds”. Diskusi yang diselenggarakan di Hotel Mercure Alam Sutera, Tangerang Selatan, Selasa (18/9), mampu menarik perhatian tak kurang dari seratus orang peserta. Mereka berasal dari latar belakang yang beragam, mulai dari praktisi kesehatan, akademisi, pemerintah, hingga perwakilan perusahaan yang bergerak di bidang perunggasan.
Menurut Regional Manager PT Evonik Indonesia, Mercyawati Subianto, diskusi ini merupakan bagian dari roadshow Ecobiol, yang sebelumnya didahului oleh technical seminar di Medan (27/8), Kediri (24/9), dan di Solo (25/9). Technical seminar tersebut menghadirkan narasumber Tony Unandar sebagai konsultan ahli di industri perunggasan yang mengusung topik “Dysbacteriosis impact on modern bird’s performance” dan Dr. Chavalit Piriyabenjawat selaku Technical Manager Gut Health Solution Evonik yang berbicara mengenai “Ecobiol as a gut transformer”. Mercyawati menegaskan, rangkaian kegiatan ini dimaksudkan untuk mendukung perunggasan Indonesia agar semakin baik dan berdaya saing. “Kami mencoba mengundang para pakar, berharap mendapat pengetahuan tentang pengalaman dalam menghadapi hal ini (era non-AGP) dan mengenai solusi yang dilakukan. Tentang bagaimana kita bersama-sama menghadapi situasi ini untuk peternakan yang sustainable dan kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.
Pemerintah Indonesia dan Thailand berbagi pengalaman dalam FGD Evonik.
Pada FGD kali ini, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. drh. I Wayan T. Wibawan, MS., berperan sebagai moderator yang memandu jalannya diskusi. Beberapa pembicara utama pada kegiatan ini antara lain Kasubdit Pengawasan Obat Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian Ni Made Ria Isriyanti, Ph.D., Technical Service Director Evonik SEA Dr. Girish Channarayapatna, Vice President Feed Technology PT Charoen Pokphand Indonesia Dr. Nasril Surbakti, serta Joko Susilo S.Pt. selaku peternak broiler yang ikut serta berbagi pengalaman. Selain itu, hadir pula Expert Veterinary Officer dari Division of Animal Feed and Veterinary Products Control (DFVP), Department of Livestock Development (DLD) Thailand, Sasi Jaroenpoj, DVM. Kehadirannya membuat diskusi semakin menarik karena peserta dapat mengetahui situasi budi daya unggas di negara Thailand.
Ni Made berkesempatan untuk memaparkan materinya terlebih dahulu. Menurutnya, terdapat obat hewan yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia. Oleh karenanya, obat tersebut dilarang digunakan pada ternak yang produknya untuk konsumsi manusia. Hal itu tercantum dengan jelas pada pasal 4 di Permentan No. 17 Tahun 2017. Adapun untuk keperluan terapi, antibiotik dapat dicampur dalam pakan dengan dosis terapi di bawah pengawasan dokter hewan. Kendati demikian, menurut Ni Made, para peternak tidak perlu berputus asa. Masih banyak solusi yang bisa ditempuh untuk menciptakan produksi unggas yang baik meski tanpa AGP. Semisal, dengan cara memanfaatkan feed additive lain seperti prebiotik, acidifier, enzim dan lain sebagainya.
Senada dengan Ni Made, Sasi Jaroenpoj pun menerangkan bahwa pelarangan AGP bukanlah akhir dari budi daya unggas. Ia menjelaskan bagaimana Thailand menghasilkan produk unggas yang sehat dengan cara-cara yang sehat pula. Menurutnya, salah satu langkah menghadapi perunggasan non-AGP adalah dengan terus mengoptimalkan langkah Good Agricultural Practice (GAP). Konsep tersebut mengandung beragam komponen yang sangat dijaga kualitasnya, semisal biosekuriti, manajemen kandang, manajemen lingkungan, serta pencatatan kegiatan produksi yang terperinci. Langkah ini, ujar Sasi, sesuai dengan salah satu misi DLD Thailand yakni “To enhance and increase animal products in terms of variety, quantity, and quality to meet the national and international standards”.
Beberapa pembicara lain juga aktif dalam memberi pengetahuan baru kepada para peserta diskusi. Vice President Feed Technology PT Charoen Pokphand Indonesia Dr. Nasril Surbakti misalnya, menyampaikan materi tentang “The Experience How Feed mills Using Alternatives Ingredients instead of AGP”. Menurutnya, peran feedmill sangat penting dalam menciptakan pakan berkualitas, sehingga terciptalah produk unggas berkualitas pada akhirnya. Kemudian, Technical Service Director Evonik Dr. Girish Channarayapatna juga hadir dan menerangkan secara rinci terkait pentingnya kualitas pakan dan kesehatan ternak, karena hal itu akan berpengaruh pada tubuh manusia sebagai pihak yang mengonsumsi produk peternakan. Ia juga menjelaskan kepada para peserta bahwa Evonik telah lama menaruh fokus dalam hal ini melalui bermacam program dan produk yang dimiliki.
Tim Evonik dalam FGD yang berlangsung di Jakarta.
Evonik telah siap mendampingi para peternak terhadap tantangan baru dalam industri perunggasan. Pada era pertunggasan non-AGP seperti saat ini, produk Evonik yang mengandung probiotik menjadi cara tepat yang bisa dipilih. Salah satu produk Evonik yaitu Ecobiol, mempunyai cara ampuh untuk membunuh bakteri patogen seperti Clostridium perfringens, Salmonella, dan E. coli yang masuk di dalam saluran pencernaan hewan ternak. Ecobiol juga sangat mudah diaplikasikan. Ia bisa dicampur dengan pakan, atau bisa pula dicampur bersama air minum. Penggunaan Ecobiol juga tidak bermasalah ketika digunakan bersamaan dengan organic acid maupun koksidiostat.
Pada diskusi ini, peserta seminar juga leluasa bertanya kepada para ahli. Oleh karenanya diskusi ini berjalan secara interaktif dan menarik dari awal hingga pengujung acara. Obrolan juga menjadi hangat ketika Direktur Kesehatan Hewan (Dirkeswan) Direktorat Jenderal PKH drh. Fadjar Sumping Tjatur Rasa Ph.D. hadir ke dalam diskusi pada sore hari dengan para peserta seminar, terutama dengan Sasi Jaroenpoj, yang memiliki fungsi serupa dengan Fadjar di negaranya, Thailand.