Kualitas pakan turut memengaruhi kesehatan usus unggas.
Sistem pencernaan pada ayam memiliki 2 fungsi penting, yakni tempat pencernaan dan penyerapan serta kekebalan tubuh atau imunitas. Bakteri dalam usus berperan penting bagi kesehatan hewan melalui efeknya pada nutrisi. Flora mikroba juga diyakini memiliki peran untuk melindungi usus dari kolonisasi patogen dan untuk merangsang respons imun.
Mikroflora gastrointestinal yang terdapat di saluran pencernaan terdiri dari tiga kategori, yaitu bakteri asam laktat (55%), batang (44%) dan patogen (~ 1%).1 Namun, banyak faktor yang dapat memengaruhi komposisi komunitas bakteri pada unggas, seperti ransum, usia, pemberian antibiotik, dan infeksi organisme patogen. Perubahan komposisi mikroflora pada hewan bisa memberikan efek menguntungkan atau merugikan pada kesehatan, pertumbuhan, dan kematangan sel inang (host).
Masalah umum terkait kesehatan usus hewan
Infeksi yang terjadi pada usus hewan dapat mengakibatkan munculnya penyakit Coccidiosis. Infeksi bakteri yang disebabkan oleh E. coli, Salmonella, Clostridium (necrotic enteritis), Campylobacter jejuni, dan Spirochaetes juga dapat menyebabkan litter basah sehingga berpotensi membawa penyakit. Di samping itu, virus seperti REO, IB, IBD, virus Newcastle Disease, Adenovirus, virus Rota, dan virus Astro dapat menyebabkan diare. Parasit—cacing jenis round worm dan cacing pita—juga dapat menyebabkan diare.
Faktor non-infeksi berikut ini juga bisa menjadi masalah yang dapat memengaruhi kesehatan usus hewan, yakni pakan, seperti struktur dan kualitas pelet, palatabilitas, formulasi dan kandungan, mikotoksin serta manajemen, seperti ketersediaan ruang untuk pakan maupun air, distribusi pakan dan minum, kualitas udara, ventilasi, litter, suhu, dan kepadatan.
Dari beberapa hal tersebut, necrotic enteritis dan Coccidiosis cenderung paling merugikan dan dapat mengikis keuntungan bagi produsen broiler hingga $ 0,10 (USD) atau sekitar Rp 1.340,- per unggas2, 3 (jika 1 USD = Rp 13.400,-).
Solusi alternatif
Selama 60 tahun, Antibiotic Growth Promoter (AGP) telah digunakan secara global dalam pakan unggas. Namun, baru-baru ini muncul kekhawatiran tentang penggunaan jangka panjang AGP yakni dapat menyebabkan resistensi terhadap antibiotik yang diberikan secara rutin.4 Hasilnya, industri peternakan mempertimbangkan kembali penggunaan AGP dalam pakan ternak secara global, dengan Uni Eropa menjadi yang pertama melarang penggunaan AGP.
Pelaku usaha di industri peternakan telah mulai mengeksplorasi solusi alternatif untuk pengganti antibiotik (AGP). Hal ini mampu mengurangi masalah kesehatan enterik pada unggas.5 Kriteria alternatif antibiotik yang dicari, diantaranya harus mampu mengurangi patogen (Clostridium), memiliki efek anti-inflamasi, memiliki efek positif pada bakteri menguntungkan, seperti mikroflora. Selain itu, memiliki dampak pada vitalitas dinding usus, bekerja menghalau patogen lain seperti Salmonella dan E. coli, tidak memiliki masalah resistensi, dan dapat memperbaiki performa hewan. Saat ini, ada lebih banyak pelaku usaha di industri peternakan memiliki ketertarikan pada alternatif pengganti antibiotik alami. Berikut sejumlah alternatif pengganti antibiotik yang umum tersedia.
Probiotik
Probiotik meningkatkan populasi mikrobiota normal dan dengan selektif menyingkirkan mikroba patogen spesifik di usus. Mekanisme kerja probiotik yang disarankan dalam memperbaiki kesehatan dan produksi unggas meliputi kompetisi (competitive exclusion) terhadap bakteri patogen, menjaga integritas penghalang epitel, transfer nutrisi, dan meningkatkan kekebalan enterik. Probiotik yang umum digunakan pada unggas adalah Bacillus subtilis, Bifidobacterium spp. dan Lactobacillus spp. Probiotik yang ideal harus merupakan organisme inangnya, non-patogenik, tahan terhadap kondisi usus (kondisi pH asam), menghasilkan senyawa antimikroba, memperbaiki pertumbuhan bakteri komensal, memodulasi respons imun, memperbaiki performa hewan, dan mampu menahan kondisi pengolahan pakan. Penawaran yang diberikan Kemin di segmen ini adalah produk CLOSTAT™.
Asam organik
Asam organik, seperti asam laktat, asetat, tannic, fumaric, propionat, formic, sitrat, benzoat dan asam butirat, dan lain-lain, telah terbukti menunjukkan efek menguntungkan pada kesehatan usus dan performa unggas. Memberi makan unggas dengan asam organik dapat menghasilkan kenaikan berat badan dan feed conversion ratio (FCR). Suplementasi asam organik dapat memodifikasi populasi bakteri enterik, sehingga dianjurkan untuk menggunakannya bersamaan dengan probiotik. Penawaran yang diberikan Kemin di segmen ini adalah produk ButiPEARL™.
Enzim
Penggunaan enzim sangat penting bagi unggas karena pakan mengandung jagung dan kedelai yang memiliki beberapa faktor anti-nutrisi dan penghambat enzim. Untuk mengurangi biaya produksi, ada kecenderungan untuk menggunakan bahan baku pakan non-konvensional. Bahan baku ini juga diketahui memiliki faktor anti-nutrisi dan praktik ini juga menjamin penggunaan enzim. Suplementasi enzim mampu mengurangi potensi polutan dari ekskreta. Enzim juga memodulasi mikrobiota usus. Penawaran yang diberikan Kemin di segmen ini adalah produk KEMZYME®.
Essential oil
Berbagai herbs atau ramuan dari bahan-bahan alami dan produk yang terbuat dari bahan tersebut telah dibuktikan memberi efek menguntungkan pada integritas usus (intestinal integrity), lingkungan usus, dan mikroflora melalui komponen aktif biologisnya. Efek menguntungkan dari essential oil meliputi stimulasi asupan pakan (feed intake) dan sekresi pencernaan, imunostimulan, antibakteri, antiviral, coccidiostatic, anthelmintic atau efek anti-inflamasi, dan efek antioksidan.
Biosurfaktan
Studi telah menunjukkan bahwa pencernaan lemak sangat rendah di usia dini pada unggas karena emulsifikasi yang buruk akibat kekurangan lipase. Penggunaan biosurfaktan adalah cara efektif untuk meningkatkan penyerapan minyak dan lemak dari pakan. Hal ini meningkatkan penyerapan nutrisi lainnya seperti Vitamin A, D, E, dan K, dan carotenoids yang diserap ke dalam villi usus dan melalui membran pada sel usus. Biosurfaktan dapat digunakan bersamaan dengan probiotik untuk meningkatkan performa, hasil karkas, dan kualitas litter. Penawaran yang diberikan Kemin di segmen ini adalah produk LYSOFORTE™.
Mikotoksin binder
Mikotoksin di dalam pakan ternak dapat memiliki efek negatif yang cukup serius pada kesehatan hewan. Dalam kondisi praktis, tidak ada pakan unggas yang benar-benar bebas dari mikotoksin. Selain itu, tidak ada pakan yang hanya mengandung satu mikotoksin saja. Mikotoksin memberikan dampak patologis pada unggas dan dapat berlangsung dalam waktu lama. Beberapa mikotoksin binder telah dikembangkan untuk mencegah efek toksik mikotoksin pada hewan yang mengkonsumsi pakan yang terkontaminasi. Bahan ini mengikat mikotoksin dan mencegah efek negatif pada hewan yang memakannya. Penawaran yang diberikan Kemin di segmen ini adalah produk TOXFIN®.
Prebiotik
Prebiotik dapat digunakan dalam kombinasi dengan probiotik untuk mendapatkan keuntungan maksimal. Lactobacilli dan Bifidobacteria spp. memfermentasi prebiotik menjadi asam lemak rantai pendek, yang meningkatkan konsentrasi dan mengurangi pH enterik dan menghambat proliferasi bakteri patogen tertentu. Dalam suatu penelitian, semua suplementasi dalam pakan dari prebiotik, probiotik, atau asam organik saja maupun dalam kombinasi menyebabkan peningkatan pada bobot broiler yang signifikan dibandingkan dengan kontrol.6
Bakteriofag
Ini merupakan virus yang menginfeksi bakteri dan yang bereplikasi dengan memanfaatkan sistem metabolisme sel inang (host) dan kemudian menghancurkan sel bakteri untuk melepaskan fag progeni baru ke lingkungan. Mereka tidak dilaporkan menginfeksi sel hewan dan tumbuhan, karena itu berpotensi menjadi alternatif pengganti antibiotik yang lebih aman. Bakteriofag yang memiliki tindakan spesifik pada Clostridium perfringens dapat berguna untuk pengendalian necrotic enteritis pada ayam.
Referensi:
1. Lu, Jiangrang et al. Diversity and Succession of the Intestinal Bacterial Community of the Maturing Broiler Chicken. Applied and Environmental Microbiology, Nov. 2003, 69 (11) 6816–6824
2. Ben Wade et al. The true cost of Necrotic Enteritis.World Poultry Volume 31, No.7, 2015 page 5
3. M. De Guessem, Coccidiosis in poultry: review on diagnosis, control, prevention and interaction with overall gut health. 16th European Symposium on Poultry Nutrition
4. http://www.poultryworld.net/Home/General/2015/3/Progressive-ban-has-led-to-more-antibiotic-alternatives-1719102W/
5. Fabian, Assessing Global Trends in Bacterial Enteritis. World Poultry, Volume 31, No.10, 2015
6. M. Bozkurt et al. The effect of single or combined dietary supplementation of prebiotics, organic acid and probiotics on performance and slaughter characteristics of broilers. South African Journal of Animal Science 2009, 39 (3)
Adv