Vaksin IBD immune complex.
Virus penyebab penyakit gumboro merupakan virus endemis di farm sehingga kemunculan penyakit ini sangat bisa berulang dari satu periode ke periode selanjutnya. Kemunculan penyakit gumboro berulang di farm yang sama kita kenal sebagai SIKLUS GUMBORO. Program kontrol penyakit gumboro akan tercapai jika PROGRAM PENCEGAHAN dan PROGRAM PERLINDUNGAN berjalan dengan baik dan beriringan.
Tujuan program pencegahan yaitu menurunkan tantangan virus gumboro lapangan dari segi jumlah dan variasi virusnya di farm. Pondasi utama kesuksesan program pencegahan ini tentu saja datang dari proses sanitasi dan biosekuriti yang baik terutama proses pembersihan pada saat kosong kandang. Mengingat virus gumboro ini sangat tahan, maka untuk menghilangkan 100% virusnya melalui proses desinfeksi semata sangatlah sulit. Dengan demikian, mencegah ayam untuk berperan sebagai shedder atau menjadi sumber penyebar virus juga amatlah penting. Oleh karena itu, kita harus melindungi ayam dari adanya replikasi virus gumboro lapangan di bursa fabricius. Perlindungan ini akan berdampak pada perlindungan klinis sekaligus mencegah penyebaran virus gumboro lapangan akibat adanya infeksi di bursa fabricius. Dari sinilah, kita juga melihat bahwa PROGRAM PERLINDUNGAN dari vaksin yang bertujuan mencegah penyebaran virus gumboro atau disebut perlindungan shedding sangat diperlukan. Hal ini untuk memudahkan program pencegahan ke periode selanjutnya.
Vaksin vektor rekombinan rHVT-VP2.
Teknologi vaksin gumboro
Vaksinasi gumboro di broiler sudah didominasi vaksinasi di hatchery baik secara global maupun di Indonesia. Melalui vaksinasi di hatchery, kesulitan-kesulitan yang kita dapatkan selama aplikasi di farm sangat bisa diminimalkan. Misalnya, sulitnya menentukan jadwal vaksinasi akibat adanya gangguan kekebalan asal induk, kesulitan mendapatkan keseragaman aplikasi di atas 95%, kesulitan penanganan transportasi ke setiap farm, dan sebagainya.
Sejauh ini ada 2 teknologi vaksin gumboro yang bisa diaplikasikan di hatchery yaitu teknologi immune complex dan teknologi vaksin rekombinan rHVT-VP2. Teknologi vaksin IBD immune complex diperkenalkan dan digunakan lebih dulu secara komersil dibandingkan vaksin rekombinan rHVT-VP2. Kedua teknologi ini sangatlah berbeda baik dari desain pembuatan vaksin dan cara kerjanya.
Vaksin IBD immune complex merupakan virus vaksin IBD live utuh strain Intermediate Plus yang berikatan dengan antibodi spesifiknya dan ikatan ini kita sebut dengan immune complex. Sedangkan vaksin rekombinan rHVT-VP2 merupakan virus vaksin mareks HVT (Herpes Virus Turkey) yang disisipi dengan sebagian gen donor VP2 (viral protein 2) dari virus IBD.
Walaupun keduanya bisa diaplikasikan di hatchery, kedua vaksin tersebut mempunyai desain yang berbeda sehingga secara otomatis ada perbedaan cara kerjanya, berikut ini.
• Organ target. IBD immune complex (TRANSMUNE®) akan bereplikasi di bursa fabricius setelah tingkat kekebalan asal induk masing-masing ayam mulai rendah. Sedangkan rHVT-VP2 akan bereplikasi di limpa dan folikel bulu selanjutnya akan menggertak kekebalan sesuai kecepatan replikasi virus vektornya (HVT).
• Jenis kekebalan. IBD immune complex (TRANSMUNE®) membentuk kekebalan seluler di organ target yang selanjutnya diikuti kekebalan humoral. Sedangkan HVT-VP2 hanya kekebalan humoral.
• Perlindungan shedding. IBD immune complex (TRANSMUNE®) dapat memberikan perlindungan ini. Setelah bereplikasi di bursa fabricius secara penuh akan memblok infeksi virus gumboro lapangan jenis apapun. Sedangkan HVT-VP2 tidak dapat memberikan perlindungan shedding karena tidak bereplikasi di bursa fabricius sehingga organ ini akan rentan oleh infeksi virus gumboro.
Dari penelitian SSIU Ceva Biomune pada broiler komersil yang divaksin dengan TRANSMUNE® (IBD immune complex) atau vaksin rHVT-VP2 di day old chick (DOC) kemudian ditantang di umur 28 hari dengan berbagai strain virus gumboro, antara lain strain vvIBDV dari Turki (TR), strain IBD subklinis yang berbeda-beda dari USA (DelE, AVS-EL), Brasil (BR), Meksiko (MX), dan Afrika Selatan (ZA) menunjukkan hasil perlindungan sebagai berikut.
• Pada semua grup yang divaksin dengan vaksin IBD immune complex (TRANSMUNE®) memberikan perlindungan yang sama yaitu 100%. Hal ini disebabkan virus vaksin (strain W2512) setelah bereplikasi penuh di bursa fabricius akan mencegah infeksi dan replikasi virus tantang IBD jenis apapun. Perlindungan di organ bursa fabricius ini akan secara otomatis memberikan perlindungan klinis dan perlindungan shedding secara penuh.
• Pada grup yang divaksin dengan vaksin rHVT-VP2, perlindungannya bervariasi. Perlindungan penuh di bursa fabricius hanya didapatkan pada virus IBD dari Turki sedangkan virus IBD lainnya tidak maksimal. Hal ini disebabkan karena kekebalan humoral oleh gen donor VP2 memiliki perlindungan humoral spesifik, yang tergantung VP2 dari gen donornya. Selain itu, vaksin ini tidak bereplikasi di bursa fabricius maka virus IBD tantangnya dengan mudah menginfeksi organ tersebut.
Secara pengamatan di laboratorium, terlihat jelas bahwa vaksin IBD immune complex (TRANSMUNE®) lebih superior untuk kontrol penyakit gumboro karena memberikan perlindungan klinis dan perlindungan shedding dibandingkan teknologi vaksin rHVT-VP2. Pengamatan di lapangan juga dilakukan melalui PROGRAM GPS IBD MONITORING pada farm-farm yang menggunakan vaksin IBD immune complex (TRANSMUNE®) dengan cara pengambilan sampel darah untuk uji ELISA IBD dan organ bursa fabricius untuk uji molekuler yang bertujuan mengidentifikasi jenis virus gumboro yang terdapat organ tersebut. Monitoring ini salah satunya dilakukan oleh tim Ceva Spain dari tahun 2012-2015 dengan data sebagai berikut.
Hasil uji ELISA BioChek dari sampel darah yang diambil saat panen (grafik 2), terlihat pada periode menggunakan vaksin IBD immune complex (TRANSMUNE®) hasil uji titer IBD-nya lebih seragam dibandingkan pada periode menggunakan vaksin rHVT-VP2 di perusahaan yang sama.
Perlindungan bursa fabricius setelah divaksin dengan vaksin IBD immune complex (TRANSMUNE®) atau rHVT-VP2 berdasarkan lesi histopathology di 14 hari pasca tantang dengan berbagai strain virus IBD.
Data titer IBD pada sampel yang diambil saat panen (presented Ramon Sales in 5th Biology Symposium 2015).
Pada grafik 3, sangat jelas terlihat pada farm yang menggunakan vaksin IBD immune complex (TRANSMUNE®) hampir 90% di bursa fabricius ditemukan virus vaksin dan ini sangat normal karena vaksin ini bereplikasi di bursa fabricius untuk memblok infeksi virus gumboro lapangan. Gambaran berbeda pada flok yang divaksin dengan vaksin rHVT-VP2, ditemukan hampir 38% terjadi infeksi virus vaksin di bursa fabricius (yang seharusnya negatif, karena vaksin HVT-VP2 tidak bereplikasi di organ ini). Artinya, vaksin tersebut tidak mampu memblok infeksi virus gumboro, walaupun hanya virus vaksin sekalipun. Pada pengamatan ini ditemukan tidak ada perbedaan virus vvIBD di kedua kelompok ayam tersebut, dan diduga tantangan gumboro di farm yang diamati sangat rendah. Hal ini berbeda dengan kondisi di Indonesia yang memiliki tantangan vvIBD sangat tinggi.
Hasil PCR dan sequencing pada sampel bursa fabricius yang diambil saat panen.
Kesimpulan
Perkembangan dan pertumbuhan industri peternakan di Indonesia sangat pesat. Salah satu kesuksesannya tentu saja didukung oleh adanya teknologi vaksin untuk kontrol berbagai penyakit strategis, hal ini dikarenakan tantangan penyakit di negara kita sangat tinggi. Untuk itu, monitoring di laboratorium dikombinasikan dengan monitoring di lapangan yang berkelanjutan menjadi 2 hal yang tidak bisa dipisahkan untuk mengontrol penyakit gumboro dalam jangka panjang di broiler komersial. Monitoring titer dan pengambilan sampel bursa fabricius saat panen menjadi dua hal yang sangat penting untuk mengetahui bagaimana vaksin ini bekerja di ayam kita dan mengetahui dinamika virusnya di farm dari waktu ke waktu. Dari pengamatan di atas terlihat jelas, karena kemampuan bereplikasi di bursa fabricius, maka teknologi vaksin IBD immune complex (TRANSMUNE®) mampu memberikan perlindungan shedding virus lapangan sehingga pada akhirnya akan mengontrol penyakit gumboro dalam jangka panjang karena kemampuannya MENGHENTIKAN SIKLUS GUMBORO dibandingkan teknologi vaksin rHVT-VP2.
Penulis merupakan Veterinary Services Manager Ceva Animal Health Indonesia.