Nama Suaedi Sunanto tentu tidak asing lagi bagi para pelaku perunggasan di Tanah Air. Karir panjangnya yang malang melintang di berbagai perusahaan, menempatkan namanya pada tingkat yang paling tinggi dalam struktur organisasi sebuah perusahaan. Tak tanggung-tanggung, saat ini ia menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) di PT Nutricell Pasific, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang obat hewan dan nutrisi ternak.

Janganlah melihat orang hanya saat suksesnya, lihat juga perjuangan saat menuju sukses itu.

Suaedi Sunanto atau yang akrab disapa Edi adalah sarjana peternakan lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB). Masuk kuliah tahun 1991 dan lulus pada tahun 1995. Jauh sebelum memasuki dunia kerja, Edi hanyalah remaja daerah pada umumnya yang ingin kuliah dengan memilih jurusan favorit seperti teknik. “Kuliah jurusan peternakan sebenarnya tidak ada dalam cita-cita. Saya inginnya masuk jurusan teknik, tapi karena dapat jalur undangan dari IPB, akhirnya saya daftar saja,” kenangnya.
Menurutnya, keputusan untuk masuk kampus yang berlokasi di Bogor itu secara tidak sadar ada sumbangsih dari Prof. Andi Hakim Nasution. Perjumpaan pertama dengan pakar statistik itu saat Edi masih di bangku SMA. Saat itu Edi sedang mengikuti olimpiade matematika tingkat nasional di Yogyakarta yang salah satu jurinya adalah Prof. Andi. “Saat penjurian, beliau itu tanya ke saya begini, kalau kamu sudah lulus, kamu tertarik tidak masuk IPB? Kemudian beliau menjelaskan tentang pertanian dan sebagainya, mungkin karena itu saya akhirnya mau masuk ke IPB,” ujar Edi menirukan ucapannya.
Teladan generasi muda
Sebagai orang nomor satu di PT Nutricell Pasific, perjalanan hidup dan manajemen diri Suaedi Sunanto bisa menjadi teladan bagi generasi muda. Salah satu sikapnya yang patut dicontoh adalah keberaniannya dalam mengambil keputusan. Menurutnya, ketika seseorang akan memberi sebuah keputusan, minimal dari diri sendiri dulu sudah yakin bahwa keputusan tersebut adalah benar.
“Saya harus yakin dulu bahwa keputusan yang akan diambil tersebut benar. Keputusan tidak boleh atas dasar ragu karena itu akan menjadi masalah. Logikanya begini, jika keputusan itu benar, mau ditanya oleh seribu orangpun pasti akan bisa menjawab dan tidak takut karena merasa bahwa itu benar,” pungkasnya.
Dalam menjalankan usahanya, Edi menganggap bahwa mengelola sebuah perusahaan mirip dengan mengelola sebuah keluarga maupun pertemanan. Ada dua asas yang harus dipegang yaitu asas kepercayaan (trust) dan kerja sama (team work) harus bisa berjalan. Edi meyakini, yang disebut percaya itu haruslah 100 persen dan tidak boleh ada keraguan, karena sekali level kepercayaan itu turun akibat sebuah kesalahan, maka akan menimbulkan asumsi untuk kurang atau bahkan tidak percaya lagi kepada orang tersebut.
Sebagai contoh, ketika orang berani memutuskan untuk bertemu dengan seseorang dengan waktu dan tempat yang sudah disepakati bersama. Namun, salah satu pihak tiba-tiba terlambat atau bahkan tidak hadir, maka akan muncul asumsi kepada orang tersebut bahwa ia tidak bisa dipercaya.
“Saya biasanya langsung klarifikasi pada saat itu juga jika ada sesuatu yang mengganjal baik dengan bos maupun staff kita, jangan sampai level kepercayaan itu turun yang berakibat pada orang bisa tidak percaya lagi sama kita atau kita yang tidak percaya lagi kepada orang tersebut. Asumsi-asumsi itu jangan sampai menumpuk sehingga harus segera diklarifikasi,” jelasnya.
Kemudian yang kedua, dasar utama perusahaan adalah kerja sama. Pilar utama dari kerja sama adalah tim ini lebih penting dari saya. Ketika merasa saya lebih penting dari sebuah kelompok maka kerja sama akan bubar. Semua anggota harus merasa tim ini lebih penting. Sebuah tim yang bagus diibaratkan dalam dunia sepakbola adalah tim dengan kekuatan menyerang bukan bertahan.
Edi mengibaratkan sebuah roda organisasi perusahan seperti pertandingan sepakbola. Tim yang menang dalam bertanding dipastikan adalah tim yang diisi oleh pemain yang mampu bekerja sama dengan baik. Tidak ada yang merasa paling bisa bermain sepakbola dan juga harus bisa saling percaya kepada pemain lain. “Kalau dalam keadaan menang, mau saling ejek antarpemain juga tidak ada yang sakit hati. Akan tetapi, kalau mainnya buruk dan tidak mau saling mengumpan yang berakibat pada kekalahan, kita dituduh bermain buruk pasti akan sakit hati dan tim justru bisa bubar karena tidak saling percaya,” imbuhnya. Farid.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2019 dengan judul “Suaedi Sunanto, Memuncaki Karir Berkat Kerja Keras”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153