POULTRYINDONESIA, Jakarta – Jakarta tahun 1960-an sangat jauh berbeda dengan yang terlihat sekarang. Hamparan hijau pesawahan belum digantikan oleh pemandangan gedung tinggi yang menjulang. Kerbau masih berlalu lalang menemani para petani saat membajak sawah. Wajah-wajah anak sedang bermain lumpur, mencari jangkrik, atau naik ke atas punggung kerbau, masih menjadi pemandangan khas perdesaan yang kini mustahil terlihat jika berkunjung ke kota Jakarta.
Sugiono, bocah yang setiap hari bergumul dengan kerbau, kambing, dan sawah, tak ada yang menyangka jika kini namanya turut bertengger sebagai pejabat tinggi di Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian. Sebagai orang nomor satu di Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak, Sugiono memang akrab dengan dunia peternakan sejak masa kecilnya.

Keputusan untuk berpindah dari lingkungan yang buruk ke lingkungan yang lebih baik membawanya menjadi pribadi yang disiplin dan berdedikasi tinggi.

“Masa kecil saya tinggal di kawasan Pulomas, Jakarta Timur. Saat itu, masih banyak sekali sawah di sana, sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan suasana sekarang. Hampir setiap hari saya bermain di sawah untuk angon (gembala) kerbau dan kambing atau sekadar mencari jangkrik,” kenangnya.
 Sugiono kecil yang saat itu banyak menghabiskan waktu bermain di sawah sering membuat orangtuanya marah. Sugiono bercerita, pernah suatu ketika saat orangtuanya marah, mereka sampai mengeluarkan kata-kata yang kini menjadi kenyataan. “Kamu jadi anak main terus ke sawah, nanti kamu lama-lama jadi tukang angon kebo (menggembala kerbau),” ujar Sugiono menirukan ucapan orangtuanya saat itu. Ucapan itu kini terbukti. Tentu angon yang dimaksud sekarang adalah memimpin sebuah instansi pemerintah yang mengurusi bidang peternakan yaitu Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak.
Hijrah dari Jakarta
Wajah Jakarta tahun 1970-an sudah mulai berubah. Derasnya arus pembangunan di ibukota turut serta membawa dampak yang kurang baik terhadap kehidupan para remaja. Narkoba mulai dikenal dan pergi ke tempat hiburan malam mulai menjadi kegemaran. Teman-teman sebayanya banyak yang terjerumus ke lembah hitam tersebut. Namun berbeda dengan Sugiono, ia merasa tak nyaman dengan lingkungan sekitarnya yang berperilaku demikian. “Zaman itu sangat mengerikan, narkoba dan disko menjadi semacam tren bagi anak muda. Teman-teman saya banyak yang terjerumus. Saya lama-lama merasa tidak nyaman lingkungan, hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk hijrah ke Bogor melanjutkan pendidikan SMA yang lokasinya di sebuah desa yang sepi,” kenang pria kelahiran Jakarta 13 Oktober 1961 ini.
Keputusan untuk berpindah dari lingkungan yang buruk ke lingkungan yang lebih baik membawanya menjadi pribadi yang disiplin dan berdedikasi tinggi. Sekolah Peternakan Menengah Atas (SNAKMA) di Cinagara Bogor menjadi kawah candradimuka pertama bagi dirinya untuk lebih mendalami ilmu peternakan. “Sekolah saya itu di gunung dan sepi sekali. Namun di tempat itulah saya diajarkan tentang kedisiplinan dan dedikasi. Setiap hari dari subuh hingga malam hari nyaris hidupnya hanya untuk sekolah dan bergumul dengan hewan ternak,” tutur Sugiono.
Sugiono mengaku dunia remajanya memang hilang, namun ia bersyukur bahwa hijrah dari kota Jakarta membawa keberkahan tersendiri. Teman-teman sebayanya di Jakarta kini sudah tidak ada, lembah hitam narkoba telah banyak merenggut masa depan mereka. “Kalau sekarang saya berkunjung ke kampung kelahiran, saya sudah tidak melihat teman-teman, entah sudah meninggal atau bagaimana saya tidak tahu. Saya bersyukur, kalau saja masa muda saya tetap di situ, bisa jadi nasibnya seperti teman-teman,” jelasnya.
Artikel ini merupakan ringkasan dari artikel lengkap yang telah dimuat di majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2019 dengan judul “Hijrah Membawa Berkah”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153