POULTRYINDONESIA, Jakarta – Populasi dunia pada 2050 menurut proyeksi PBB akan mencapai 9,15 miliar pada 2050, dan hal itu menyebabkan peningkatan permintaan makanan hingga 60 persen. Peningkatan populasi tersebut akan menuntut akses yang berkelanjutan dan terjangkau atas produk makanan yang aman, segar, bergizi, dan lezat untuk menopang gaya hidup yang sehat dan aktif. Selama masa panen, produk pertanian tersedia dalam jumlah besar, namun harganya menjadi turun akibat kelebihan pasokan. Namun, di luar musim panen, pasokan produk pertanian tidak memadai, dan bahkan harga meningkat secara signifikan.
Melihat hal tersebut, tantangannya kini adalah bagaimana menghasilkan dan memberikan produk pertanian dan makanan berkualitas tinggi dengan cara yang berkelanjutan dan aman, dengan harga yang relatif stabil dan terjangkau,” kata Prof. Dr. Risfaheri MS, selaku Kapala Balai Besar Penelitian Pascapanen Pertanian dalam 2nd International Conference on Agricultural Postharvest Handling & Processing (ICAPHP) di Kuta, Bali (29/8). Konferensi internasional yang diselenggarakan untuk yang kedua kalinya dan melibatkan 10 pembicara undangan dan 95 peserta dari beberapa negara tersebut diselenggarakan oleh Balai Besar Penelitian Pascapanen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian RI.
Baca Juga : 
Tantangan lain, kata Risfaheri yakni banyaknya kerugian makanan dan limbah yang dihasilkan di sepanjang rantai pasokan makanan. Laporan FAO menyatakan bahwa sekitar 1,3 miliar ton per tahun produksi pangan hilang atau terbuang secara global. Kerugian dan limbah ini sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai sumber potensial untuk meningkatkan nilai tambah bahan-bahan limbah pertanian.
Selain mengurangi kerugian akibat penanganan pascapanen yang tidak benar, hal penting lain yang harus dilakukan adalah peningkatkan status gizi dan memperkuat keamanan pangan global. Faktor keamanan pangan juga perlu mendapat perhatian serius. Terlebih, produk hasil pertanian Indonesia yang diekspor seringkali ditolak oleh negara-negara pengimpor karena adanya kontaminan yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, pengembangan metode deteksi yang cepat, sederhana, dan relatif akurat untuk kontaminan serta pencegahan dan teknologi eliminasi mereka diperlukan.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2018 di halaman 36 dengan judul “Tantangan Pascapanen Produk Pertanian”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153