Penyakit IBD merupakan penyakit dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Kejadian penyakit bersifat endemik. Ayam yang terinfeksi virus IBD mempunyai tingkat morbiditas 40-60% dan mortalitas bisa mencapai 2.0-31.8%, akan tetapi rata-rata 7.78% (ayam pedaging) dan 7.34% (ayam petelur). Tingkat mortalitas paling tinggi biasanya terjadi pada hari ke-3 pascainfeksi yang kemudian menurun pada hari berikutnya, kesembuhan akan terjadi setelah hari ke-5 sampai ke-12. Ayam yang sembuh akan memiliki antibodi yang tinggi dan bertahan lebih dari 1 tahun.
Akibat imunosupresif ini ayam akan menjadi peka terhadap berbagai pathogen seperti penyakit-penyakit yang disebabkan oleh virus seperti Newcastle Disease (ND), Infectious Bronchitis (IB), Infectious Body Hepatitis (IBH), Marek’s, Infectious Laryngotracheitis (ILT), Chicken Anemia Agent (CAA) dan Reo virus; bakteri seperti infeksi Escherichia coli (kolibacilosis) yang sebabkan deplesi limfositik hebat pada bursa Fabricius, Salmonellosis (Salmonella typhimurium), Stafilokokosis (Staphylococcus aureus) dan gangrenous dermatitis; jamur seperti Aspergillosis (Aspergillus flavus); dan parasit seperti infeksi parasiter koksidiosis.
Baca Juga : IBD, Pembuka Pintu Penyakit Unggas
Masa inkubasi penyakit ini berlangsung antara 2-3 hari. Ayam yang terserang ditandai dengan gejala depresi, nafsu makan menurun, lemah, gemetar, sesak napas, bulu berdiri dan kotor terutama di daerah perut dan dubur, selanjutnya diikuti dengan diare, feses berwarna putih kapur dan kematian yang terjadi akibat dehidrasi. Untuk gambaran patologi anatomi diantaranya karkas terlihat dehidrasi, warnanya merah kegelapan dan kering disertai perdarahan titik atau ekimose terutama pada otot dada, paha dan tungkai, kadang-kadang otot punggung dan sayap bagian dalam.
Bursa Fabricius pada awal infeksi, bursa tampak membesar ukurannya sampai 3 kali lipat dari ukuran normal. Pada hari ke-3, ukuran dan berat bursa bertambah, mengalami oedema dan kongesti bahkan sampai perdarahan. Pada hari ke-4 beratnya bertambah dua kali lipat. Permukaan luar dari bursa dilapisi oleh lendir berwarna kuning kecokelatan. Lekukan atau serat longitudinal pada permukaannya lebih menonjol, warna yang tadinya putih berubah menjadi agak kemerahan atau krem, di dalam lumen terdapat lendir atau massa perkejuan dan perdarahan nekrosa. Setelah hari ke-5 ukurannya kembali normal selanjutnya cenderung atrofi, pada hari ke-8 ukurannya tinggal sepertiga dari ukuran normal dan di dalam lumennya terdapat perdarahan nekrosa atau massa perkejuan.
Baca Juga : Pengujian Bahan Aktif Tanaman Pengganti AGP
Limpa terlihat sedikit membesar dan kongesti, sering ditemukan bercak putih keabuan pada permukaannya. Ginjal mengalami pembengkakan yang konsisten terutama lobus anterior, disamping terlihat kongesti ada juga bagian yang terlihat pucat disertai dengan endapan asam urat. Timus terjadi perubahan yang konsisten seperti pada bursa yaitu pada kasus awal umumnya membengkak dan sangat kongesti atau seperti daging rebus, menebal serta terdapat jaringan ikat gelatinous yang menutup permukaan, selanjutnya mengalami atropi. Hati warnanya agak merah gelap kadang-kadang membengkak. Sumsum tulang femur terlihat kuning atau merah muda. Proventrikulus pada kasus yang hebat kadang-kadang ditemukan perdarahan pada mukosa dekat pertautan antara proventrikulus dengan ventrikulus.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Oktober 2018 di halaman 78 dengan judul “IBD, Pembuka Pintu Penyakit Unggas”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153