Peserta training of intestinal health merupakan customer IMA, termasuk CJ Feed Jombang, yang diselenggarakan pada 19 Oktober.
Dalam rangka meningkatkan pengetahuan mengenai koksidiosis, PT Indovetraco Makmur Abadi (IMA) dan PT Phibro Animal Health Indonesia (Phibro), beberapa waktu lalu menyelenggarakan training of intestinal health bertajuk “Maintaining Internal Integrity and Assuring Profitability in Broilers” berturut-turut pada 17, 18, dan 19 Oktober 2018 di lokasi yang berbeda-beda. Kegiatan yang untuk pertama kalinya diselenggarakan ini mendapatkan respons positif dari para peserta.
Menurut Agnes Utami mewakili PT IMA menuturkan bahwa kegiatan ini adalah bentuk pelayanan yang diberikan IMA serta Phibro kepada pelanggannya. Acara ini juga dapat terselenggara dengan dukungan dari Phibro. Kedepan, kegiatan ini rencananya akan menjadi agenda rutin IMA dan akan dilaksanakan kegiatan yang sama di kota-kota lainnya.
“Selain kunjungan rutin ke customer kita di lapangan, melalui program ini kita ingin memberikan support kepada teman-teman di lapangan untuk membantu mereka dalam mendeteksi koksi dengan lebih cepat dan menanganinya dengan tepat,” ungkap Utami.
Ketika awal regulasi non-AGP diterapkan, di lapangan banyak terjadi kasus penyakit pada ayam, salah satunya adalah koksidiosis. Menurutnya, saat ini penyakit tersebut perlahan-lahan mulai dapat dikendalikan karena dibantu oleh antikoksi dan antibiotik yang petunjuk penggunaan dan pelaksanaannya sudah jelas tercantum di dalam peraturan pemerintah.
Diagnosa dan praktik nekropsi
Pelatihan tersebut pertama kali diselenggarakan di Rumah Sakit Hewan Fakultas Kesehatan Hewan (FKH) Institut Pertanian Bogor (IPB) yang diikuti oleh peserta dari Malindo Group.
Peserta dari Malindo Group mengikuti training yang diselenggarakan oleh IMA dan Phibro.
Sebelum mulai melakukan praktik, para peserta diberikan pengetahuan secara umum mengenai perkembangan koksidiosis oleh para narasumber. Prof. Ekowati Handhayani dari Divisi Patologi FKH IPB memaparkan dalam presentasinya, pada 2007, kasus koksidiosis menempati posisi 10 teratas sebagai penyakit yang sering terjadi pada broiler dan layer di Indonesia. Penyakit ini menyerang ayam di berbagai tahap pertumbuhannya.
Dampak yang dihasilkan pun bukan hal yang sepele, karena koksidiosis dapat menimbulkan kerugian secara ekonomi akibat feed conversion ratio (FCR) yang tinggi dan bobot badan yang tidak sesuai standar karena penyerapan nutrisi pakan tidak maksimal akibat adanya koksi.
Narasumber lainnya, Dr. Cesar A. Lopes, DVM, MSc, MBA. selaku Director of Technology Development Phibro Animal Health Corporation membawakan dua tema presentasi, masing-masing bertajuk “Diagnosis of coccidiosis, control and proper use of anticoccidials” dan “Intestinal barrier and mucosal immunity, probiotic, and control of necrotic enteritis”. Dalam pemaparannya, ia menerangkan siklus hidup Eimeria yang merupakan penyebab koksidiosis. Selain itu, ia juga memberikan berbagai contoh perbedaan diagnosa melalui berbagai ilustrasi.
Beberapa poin lain yang dibahas adalah faktor yang berperan penting untuk mengontrol koksidiosis, antara lain pakan, lingkungan, peralatan, dan viral diseases. Kedua, antikoksi yang berbeda memberikan keampuhan yang berbeda pula terhadap masing-masing spesies Eimeria serta rotasi antikoksi harus mempertimbangkan seluruh aspek tersebut.
Praktik nekropsi didampingi oleh tim IMA dan Phibro.
Sementara itu, Prof. Ekowati Handharyani kembali memberikan presentasi mengenai teknik nekropsi yang dilanjutkan dengan sesi praktik nekropsi yang dipandu langsung oleh Dr. Cesar A. Lopes, DVM, MSc, MBA. – Director of Technology Development Phibro Animal Health Corporation dan Dr. Leandro Ferreira – Poultry Technical and Marketing Manager South East Asia and China Phibro Animal Health Corporation. Peserta mendapatkan gambaran jelas mengenai penyebab terjadinya koksidiosis dilihat dari berbagai jenis Eimeria yang ditemukan dalam praktik bedah bangkai kali ini. Dengan demikian, peserta dapat menerapkan teknik tersebut di lapangan.
Pelatihan juga dilanjutkan kepada para customer lainnya, termasuk CJ Feed Jombang (19 Oktober) yang mendapatkan pengetahuan mengenai koksidiosis dan cara mendiagnosanya.
Peran antikoksi
Dengan adanya aturan yang sudah jelas menerangkan penggunaan antikoksi, dengan demikian para pelaku usaha di industri peternakan kini dapat membuat keputusan untuk mengambil langkah selanjutnya. Hingga saat ini IMA sendiri terus berupaya melakukan registrasi ulang terhadap produk antikoksi sebagai treatment atau pengobatan, salah satunya produk antikoksi dari Phibro.
Phibro merupakan perusahaan kesehatan dan nutrisi hewan yang produknya telah digunakan secara global, seperti Amerika dan Brasil. Phibro saat ini telah memiliki representatif di Indonesia, sehingga diharapkan perusahaan ini mampu menjadi lebih solid dan memperluas bisnisnya untuk menyediakan kebutuhan kesehatan dan nutrisi hewan di berbagai negara.
Pada kesempatan tersebut, Phibro memperkenalkan sejumlah produk dan program yang menjadi unggulannya sejak lama. Tiga produk antikoksi yang dibawa oleh Phibro, antara lain Nicarmix 25% (chemical), Aviax 5% (ionofor), dan Coxistac 12% (ionofor). Range produk Phibro untuk antikoksi yang lengkap dengan tersedianya antikoksi baik chemical maupun ionofor dapat membantu peternak lebih siap melakukan rotasi penggunaan antikoksi.
Pada produk Nircamix, misalnya, bekerja dalam fase aseksual dalam siklus biologis Eimeria yang jika tidak ditangani dapat mengarah pada kerusakan mukosa usus. Nicarmix mampu bekerja lebih baik pada generasi kedua skizon yang pada tahap sebelumnya parasit memiliki kemungkinan besar membentuk kekebalan. Seperti diketahui, strain Eimeria spp. dianggap sensitif terhadap antikoksi tertentu ketika ada pengurangan 50% atau lebih dalam skor lesi koksidial dibandingkan dengan skor lesi kelompok yang terinfeksi dengan strain yang sama dan non-antibiotik.
Sedangkan produk Coxistac 12% yang merupakan antikoksi ionofor yaitu Salinomisin dengan ukuran partikel ideal untuk memberikan hasil yang sangat baik pada kesehatan dan performa broiler. Sementara itu, produk Aviax 5%, merupakan antikoksi ionofor yaitu Semduramisin, juga diformulasikan dengan ukuran partikel yang tepat untuk memungkinkan pencampuran yang sangat baik dalam pakan. Di samping produk yang lengkap dan teruji penggunaannya, IMA dan Phibro juga memberikan pelayanan salah satunya dengan berbagi pengetahuan melalui program pelatihan untuk kepuasan pelanggannya.