Oleh : Satria Budi Kusuma, S.Pt., M.Sc.
Era revolusi industri keempat atau yang masyhur disebut Revolusi Industri 4.0 kini sudah mulai merambah ke dunia peternakan dengan segala peluang dan tantangannya. Revolusi Industri 4.0 dapat diartikan sebagai masa ketika manusia mulai menemukan pola baru dalam perkembangan teknologi yang begitu cepat. Hal ini terlihat dengan maraknya teknologi artificial intelligence (AI), kendaraan otonom dan internet yang bergabung memengaruhi kehidupan fisik manusia.

Sektor peternakan harus mengikuti perkembangan yang terjadi saat ini. Penyesuaian pun harus dilakukan dalam berbagai sektor, termasuk sistem kendali mutu dan kesejahteraan ternak.

Industri perunggasan dari sektor hulu sampai ke hilir juga mulai mengadaptasi perkembangan teknologi ini. Hal ini bertujuan agar produksi ternak modern, terutama unggas, dapat berlangsung masif, efektif dan efisien. Hal ini mengingat produk pangan asal unggas dan segala turunannya sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia. Hal itu tak lepas dari produk unggas sebagai sumber protein hewani yang dapat diperoleh dengan harga terjangkau.
Baca Juga : Memantapkan Langkah Industri Perunggasan 4.0
Produk perunggasan akan tetap menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia, meski secara statistik konsumsi masyarakat terhadap daging dan telur ayam belum sebanyak negara lain. Menurut Badan Pusat Statistik, pada 2018, konsumsi daging ayam di Indonesia sebesar 11,5 kilogram dan telur 6,63 kilogram per kapita per tahun. Sementara itu, konsumsi daging ayam Malaysia sudah mencapai 40 kilogram dan telur 17 kilogram per kapita per tahun. Selain peningkatan konsumsi, tantangan lain yang perlu dihadapi pada era Revolusi Indsutri 4.0 ini adalah sistem kendali mutu dan kesejahteraan ternak.
Sistem kendali mutu
Meningkatkan kesadaran tanggung jawab insan peternakan untuk memahami dan menerapkan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dalam skala industri menjadi tantangan tersendiri. Selain diperlukan landasan pengetahuan penerapan HACCP yang ideal, dalam dunia industri nantinya juga akan dibenturkan dengan pertimbangan efisiensi dan efektivitas. HACCP merupakan suatu sistem kontrol sebagai upaya pencegahan terjadinya masalah yang didasarkan analisis bahaya dan identifikasi titik-titik kritis dalam tahap penanganan dan proses produksi, terutama produk pangan. HACCP bersifat sebagai sistem pengendalian mutu mulai dari persiapan bahan baku sampai produk akhir diproduksi massal dan didistribusikan. HACCP juga dapat berfungsi sebagai value added produk agar lebih kompetitif di pasar global.
Baca Juga : Evolusi Industri Perunggasan 4.0
Kesuksesan penerapan HACCP juga perlu memenuhi prasyarat fundamental industri pangan, yaitu telah diterapkannya Good Manufacturing Practices (GMP) dan Standard Sanitation Operational Procedure (SSOP). Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh suatu industri pangan dengan penerapan sistem HACCP antara lain mengubah pendekatan pengujian akhir yang bersifat retrospektif kepada pendekatan jaminan mutu yang bersifat preventif, meningkatkan keamanan pangan, meningkatkan kepuasan konsumen, dan mengurangi limbah serta kerusakan produk. Ikut andil dalam memastikan agar seluruh proses produksi pangan hasil ternak berjalan sesuai standar HACCP merupakan salah satu tanggung jawab yang perlu disadari para insan peternakan khususnya yang bergerak pada sektor industri.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2019 dengan judul “Urgensi Sistem Kendali Mutu dan Kesejahteraan Ternak”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153