Seminar nasional yang diadakan di Polbangtan Malang
POULTRYINDONESIA, Malang – Tidak ada kesempurnaan dalam menjalankan ide, semua serba kekurangan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, maka kekurangan itu akan semakin terminimalisir. Menurut Ray Rezky Ananda, founder dan CEO dari Bantuternak, sebuah startup untuk memberikan solusi menyeluruh untuk peternakan rakyat, dirinya tidak bisa membuat aplikasi. Karena tidak mempunyai dasar keilmuannya, serta tidak punya modal, untuk membuat satu aplikasi butuh dana sekitar 50 jutaan rupiah. Yang ia punya hanyalah niat baik untuk membantu peternak.
Akhirnya, ia menceritakan kesulitan dalam pengembangan sapi potong sang teman yang pintar masalah teknologi, gayung pun bersambut, sang teman memberi solusi dengan aplikasi, dengan nama bantuternak. “Sekarang kita harus membuka diri, kalau tidak bisa dikerjakan sendiri, bisa bersinergi dengan yang lain, atau kolaborasi, seperti saya yang berkolaborasi dengan ahli teknologi,” terangnya saat memberi seminar dengan tajuk “Kontribusi konkrit generasi muda peternakan dalam mendukung swasembada protein hewani” yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Peternakan Polbangtan Malang yang termasuk dalam satu rangkaian acara Temu Kreativitas Mahasiswa Peternakan (TKMP) Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia (Ismapeti) Wilayah IV (3/10).
Aplikasi itu memang diperuntukkan untuk membantu ternak, dan untuk mencari permodalan. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, pengembangan peternakan sapi potong, ternyata tidak hanya masalah permodalan saja, ada sederet pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. yafi