Oleh : Ir. Didiek Purwanto, IPU*
Perkembangan industri peternakan Indonesia berjalan sangat cepat. Terlebih di era globalisasi dan tantangan revolusi industri 4.0 yang didominasi oleh penggunaan information technology (IT), big data dan internet of things (IOT) mengharuskan semua stakeholder peternakan termasuk pemerintah  untuk segera berbenah dan menyesuaikan diri.
Menjawab fenomena dan tantangan tersebut, ISPI telah melakukan kongres luar biasa beberapa waktu lalu. Agenda dari kongres luar biasa ini adalah untuk melakukan penyesuaian AD dan ART organisasi, agar tetap bisa mengakomodasi tuntutan dan tantangan yang ada, baik dari internal maupun gerak organisasi sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun peternakan Indonesia.
Salah satu hasil dari kongres luar biasa tersebut adalah mengubah dan menetapkan  ISPI yang awalnya merupakan Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia, bertransformasi menjadi Perkumpulan Insinyur dan Sarjana Peternakan Indonesia yang tetap disingkat ISPI. Saat ini ISPI tidak hanya menaungi sarjana peternakan saja, namun juga insinyur peternakan. Hal ini  dikarenakan pendidikan peternakan telah berkembang menjadi profesi dengan adanya program keinsinyuran peternakan yang diakui secara resmi sebagai program yang memberikan gelar insinyur peternakan dan gelar insinyur profesi di bidang peternakan yang telah resmi masuk dalam jajaran Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Insinyur peternakan ini merupakan pendidikan satu level di atas sarjana peternakan serta sejajar dengan profesi lain di bidang peternakan seperti dokter hewan.
Baca Juga: Konsolidasi ISPI Merekatkan Cabang di Tengah Pandemi
Penulis memahami bahwa perjuangan ini belum selesai. Penyesuaian secara payung hukum dan regulasi kepegawaian masih terus dikejar, sehingga dalam waktu dekat diharapkan bisa segera ada penyesuaian, persamaan perlakukan, dan kewenangan bagi para insinyur peternakan. Di sisi lain, melalui regulasi, ISPI ingin mendudukkan dan mempertegas ranah peternakan dengan berbagai aspek di dalamnya untuk ditangani oleh profesi insinyur peternakan. Tidak seperti saat ini yang masih banyak kerancuan dan tumpang tindih tupoksi ranah kerja dalam dunia peternakan. Oleh karena itu, dengan ranah kerja yang jelas, pembangunan peternakan bisa berjalan lebih fokus dan terarah.
Selain itu, ISPI juga telah melaksanakan konsolidasi nasional untuk menyatukan 38 cabang yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia, sehingga pada setiap gerak langkahnya dapat sesuai dengan garis besar haluan organisasi. Penulis melihat bahwa konsolidasi untuk menyatukan semua cabang ISPI merupakan suatu hal yang penting dalam upaya pembangunan peternakan. Hal ini dikarenakan Indonesia merupakan negara yang mempunyai potensi dan kearifan lokal peternakan yang sangat luar biasa.
Di sisi lain, terdapat 147 program studi peternakan yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Lulusan prodi peternakan inilah yang diharapkan dapat membantu pengembangan potensi dan kearifan lokal di setiap daerah tersebut. Tentu hal ini harus terus dioptimalkan dan dikonsolidasikan dalam sebuah arah yang jelas, sehingga dapat terbentuk suatu kekuatan untuk mencapai tujuan kedaulatan pangan protein hewani Indonesia. Selain itu, hanya dengan cara mengoptimalkan potensi daerah, peternakan Indonesia mampu bersaing dengan produk luar negeri dan mengurangi ketergantungan akan komoditas impor. *Ketua Umum Pengurus Besar Perkumpulan Insinyur dan Sarjana Peternakan Indonesia (PB ISPI)
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2021 dengan judul “Berjuang Bersama Membangun Peternakan Indonesia”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153