Ayam lokal diharapkan dapat meningkatkan perekonomian dan memberantas stunting (Sumber Gambar: Williamdark.com)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Populasi ternak ayam lokal meningkat setiap tahun, dan diharapkan kontribusi ayam lokal 25 persen dari konsumsi daging unggas nasional yang saat ini konsumsinya mencapai 13 kg/kapita per tahun.
“Perkembangan ternak ayam lokal ada kejadian menarik di sepanjang dua tahun terakhir yakni sejumlah sejumlah peternak ayam ras broiler beralih ke bisnis peternakan ayam lokal,” kata Febroni Purba, Marketing Manager PT Sumber Unggas Indonesia.
Hal tersebut ia sampaikan dalam Diskusi Online #Edisi10 dengan tema “Praktik Bisnis Inklusif untuk Pengembangan Usaha di Sektor Pertanian dan Peternakan” melalui aplikasi zoom, Rabu (20/5).
Acara diselenggarakan oleh Indonesia Livestock Alliance (ILA) dan Yayasan CBC Indonesia (YCI) dengan berkolaborasi dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) dan Partnership for Indonesia Suistainable Agriculture (PISAgro) atas dukungan Australia-Indonesia Partnership Promoting Rural Incomes through Support for Markets in Agriculture (PRISMA).
Febroni memaparkan, potensi pertumbuhan bisnis peternakan ayam lokal masih terbuka lebar dengan permintaan konsumen yang terus meningkat, terlebih di tengah situasi pandemi COVID-19, permintaan karkas dan ayam lokal olahan bahkan meningkat 2 hingga 4 kali lipat.
Baca Juga: Saatnya Pemeliharaan Ayam Lokal Menerapkan Good Breeding Practice
Tantangan usaha ayam lokal adalah adanya persaingan dengan ayam kampung persilangan seperti ayam super atau ayam Joper dan ayam arab. Kehadiran ayam persilangan di pasar membuat persaingan tidak sehat, karena tidak jarang ditemukan distributor atau produsen ayam persilangan mengklaim sebagai ayam kampung asli, padahal sebenarnya adalah ayam pejantan, ayam Joper, atau ayam Arab.
Tantangan berikutnya yakni biaya produksi ayam lokal yang relatif lebih tinggi ketimbang jenis ayam lainnya, belum ada pakan khusus ayam lokal yang sesuai dengan kebutuhan nutrisinya.
Selain itu masih sering terjadi kendala dalam birokrasi di tingkat pemerintah daerah untuk membuat surat rekomendasi pemasukan bibit ayam, rendahnya dukungan dari pemerintah dalam mendukung pengembangan peternakan ayam lokal secara berkelanjutan, serta cetak biru peternakan ayam lokal yang hingga saat ini belum ada.
Demikian juga antar-organisasi peternakan ayam lokal, masih sedikit dan belum kompak, dan bahkan masih berjalan sendiri-sendiri.
Namun Febroni optimis dengan perkembangan ayam lokal di Indonesia. Untuk itu pihaknya melakukan kerja sama dengan partner strategis, misalnya dengan bekerja sama dengan PRISMA melakukan promosi bibit ayam lokal unggul berkualitas dalam rangka meningkatkan perekonomian peternak, sekaligus mengurangi angka stunting pada anak di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pihaknya juga secara aktif mendukung pengembangan usaha unggas lokal di berbagai daerah, antara lain bekerja sama dengan BPTP Jambi, Pemda Sumatra Barat, dan PT Kaltim Prima Coal di Kalimantan Timur.