Ayam ras pedaging yang dipelihara pada kandang open house
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Industri peternakan ayam ras di Indonesia memang masih berkutat di seputar permasalahan klasik seperti jatuhnya harga ayam hidup di tingkat peternak di waktu waktu tertentu.
Jatuhnya harga yang terkadang bisa sangat dalam dan jauh dari harga pokok Produksi (BPP), membuat para peternak kesulitan dalam mengatur modal dan berdampak kepada siklus budi daya dalam setahun.
Menyikapi permasalahan tersebut, Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) menyelenggarakan sebuah webinar secara daring melalui Zoom dengan tema ‘Menata Ulang Industri Perunggasan yang Berdaya Saing’ Rabu, (11/11).
Acara tersebut mengundang para pakar di bidang perunggasan dan perekonomian, baik dari internal INDEF seperti Tauhid Ahmad (Direktur Eksekutif) dan Enny Sri Hartati (Peneliti Senior). Selain itu ada pula Rachmat Pambudy (IPB University) dan Nasrullah (Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan)
Tauhid Ahmad dalam paparannya menyebutkan bahwa dinamika perunggasan setiap tahun sangat pelik dan masih ada perosoalan yang tidak juga selesai. Mengingat unggas merupakan salah satu sumber protein hewani yang sangat vital karena didukung oleh permintaan yang kian meningkat, yang didukung pula oleh selera masyarakat yang bisa diterima dan harganya terjangkau, maka sudah seharusnya industri ini ditata ulang dengan baik.
Sementara itu menurut Rachmat Pambudy, industri perunggasan memang sudah sangat lengkap dan tersedia dari hulu hingga hilir sehingga dalam penanganannya juga harus melihat pada industri agro yang juga sudah relatif matang.
“Pembandingnya itu agak mirip dengan sawit karena memang sudah terbentuk dari hulu ke hilir. Bedanya, untuk perunggasan impornya tidak kecil, seberti bibit, jagung, obat-obatan dan lainnya. Walaupun memiliki local content yang rendah, industri ini masih diunggulkan karena masih bisa menghasilkan daya saing yang lebh tinggi,” ujar Rachmat.
Lebih lanjut Rachmat menambahkan bahwa sektor perunggasan juga bisa membangun ekonomi di desa, mengingat pembangunan lokasi kandang tidak mungkin dilakukan di perkotaan. Menurutnya industri perunggasan Indonesia bisa bersaing maupun tidak tergantung dengan strategi yang digunakan oleh pelakunya.
“Produk ayam dan telur itu bisa membantu pemerintah dalam pengentasan stunting, karena untuk masyarakat yang miskin sekalipun, telur itu masih terjangkau. Mengingat harga telur yang harganya sama dengan sekitar 2 batang rokok” tambah Rachmat.
Baca Juga: Peternak Mencari Solusi Melalui Koperasi Perunggasan
Enny Sri Hartati juga berpendapat yang sama. Menurutnya dalam melihat kondisi dan situasi perunggasan di Indonesia harus dilihat secara rinci apakah terjadi oversupply atau surplus produksi. Harapannya memang industri perunggasan ini bukan hanya sekadar berdaya saing, namun bisa menjadi sebuah industri yang inklusif terintegrasi.
“Perlu ditekankan untuk kondisi di industri perunggasan sekarang ini apakah oversuppply atau surplus produksi karena dua hal tersebut adalah dua hal yang berbeda. Yang kita harapkan untuk dapat memberikan nilai tukar petani itu adalah surplus produksi,” ucap Enny.
Enny juga menambahkan ketika yang terjadi adalah surplus produksi tentu peternak yang melakukan usaha budi daya memang sudah mampu berproduksi dengan Harga Pokok Produksi yang tertutupi sehingga tidak hanya berupa HPP yang terpenuhi tetapi juga ada sebuah insentif yang menggairahkan bagi peternak.
Nasrullah yang juga sebagai pembicara dalam acara tersebut mengakui bahwa sebetulnya kebijakan yang diambil oleh Ditjen PKH selama ini yakni melalui surat edaran berupa cutting dan apkir dini itu lebih ke solusi jangka pendek.
“Kalau diibaratkan itu seperti pemadam kebakaran dalam kondisi penurunan harga. Sebetulnya dari sebelum pandemi itu kondisi ini sudah berlangsung. Ada yang mengatakan ini oversupply, akan tetapi kalau oversupply teori ekonominya jika supply berlebih tentu harga akan anjlok atau rendah, ini benar terjadi,” jelas Nasrullah.
Akan tetapi menurut Nasrullah, situasi yang cukup membingungkan terjadi di komoditas ayam ras pedaging ini yang pertama kondisinya adalah harga rendah pada ayam hidup (livebird), namun di konsumen tetap stabil tinggi.
“Yang kedua kondisinya kalau mau dikatakan ovesupply itu bukan secara nasional, saya sebulan yang lalu ke Maluku Utara, itu harga ayam 60 ribu per kilogramnya. Apakah itu indikasi oversupply?” tanya Nasrullah.
Oleh karena itu Nasrullah menyimpulkan bahwa yang terjadi di ayam ras pedaging itu memang persoalan per daerah, bukan secara nasional.
“Sebetulnya jika mau dikatakan oversupply, itu bukan secara nasional, tapi secara spesifik sebuah area. Silahkan koreksi saya jika di luar pandemi ini pernahkah harga livebird hancur secara nasional? Seingat saya belum pernah, tapi kalau ada tolong ingatkan saya,” kata Nasrullah.