Seminar ISPI terkait dengan arah pembangunan peternakan di Indonesia
POULTRYINDONESIA, Tangerang Selatan – Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) menggelar focus group discussion (FGD) tentang pembibitan broiler di Indonesia yang bertempat di Swiss-Belhotel Intermark Indonesia, BSD, Tangerang Selatan, Kamis (12/12).
Acara yang bertajuk “Siapkah Indonesia Mandiri dalam Pembibitan Ayam Broiler?” ini sebagai respons atas pernyataan Dirjen PKH di media Bisnis Indonesia pada tanggal 18 November 2019 yang mengatakan bahwa Indonesia tengah menyiapkan program penyediaan grand parent stock (GPS) secara mandiri guna menekan importasi terhadap induk ayam potong tersebut.
Menurut Didiek Purwanto selaku Ketua Umum PB ISPI, mengatakan bahwa acara ini merupakan bentuk respons PB ISPI terkait dengan arah pembangunan peternakan di Indonesia. Pihaknya tergugah untuk memberi masukan tentang arah pembangunan peternakan khususnya ternak broiler. “Kami di sini mengundang para ahli di bidang pembibitan ayam untuk dapat memberikan pandangan kepada pemerintah terkait dengan penyediaan bibit ayam ras,” ujarnya.
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Ditjen PKH, Sugiono yang hadir dalam acara tersebut mengungkapkan bahwa tidak banyak negara yang mampu memproduksi GPS, sehingga jika Indonesia mampu memproduksi sendiri GPS merupakan suatu hal yang baik. “Kita selama ini impor GPS banyak sekali, kalau sampai terealisasi dan mampu menghasilkan sendiri GPS maka suatu hal yang sangat positif, dan siap tidak siap itu harus dimulai,” ungkap Sugiono.
Sedangkan menurut Ketua GPPU, Achmad Dawami, ia merespons positif jika ada pihak yang ingin membuat bibit produksi Indonesia namun yang penting adalah bagaimana bibit tersebut bisa sejalan dengan konsumsi dan produksi broiler yang ada saat ini. “Hal terpenting adalah semua mengetahui ilmunya agar tidak terjadi inefisiensi secara nasional. Jangan hanya melihat karena kita impor GPS yang nilainya hanya ratusan miliar rupiah, namun mengorbankan potensi perputaran uang di industri broiler yang mencapai 600 triliun rupiah,” jelas Dawami.
Acara ini dihadiri oleh para pakar di bidang genetika, juga para pelaku bisnis yang berkecimpung di industri pembibitan broiler. Para pakar yang diberi kesempatan untuk memberikan pandangan tentang pembibitan ayam tersebut yakni Prof. Cece Sumantri (IPB), Dr. Asep Anang (Unpad), Dominic Elfick (Aviagen), dan Marc Cooper (Cobb-Vantress) yang dimoderatori oleh Prof. Muladno.