Pada layer, serangan penyakit unggas sepanjang tahun 2019 didominasi oleh penyakit pernapasan dan infeksi yang menyebabkan penurunan produksi telur.
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Tidak berbeda jauh dengan kasus di peternakan broiler, di peternakan layer tidak ada kasus baru yang muncul di tahun 2019. Akan tetapi, untuk serangan penyakit unggas sepanjang tahun 2019 didominasi oleh penyakit pernapasan dan infeksi yang menyebabkan penurunan produksi telur. Penyakit yang sering menimbulkan dampak penurunan produksi cukup tinggi ialah ND dan AI. Berdasarkan pengamatan di lapangan, kedua penyakit tersebut relatif sulit dibedakan, terutama jika perubahan yang terjadi pada ayam hanya sedikit. Adanya infeksi salah satu atau komplikasi dari kedua penyakit tersebut berpengaruh besar pada penurunan produksi telur.
Sedikit berbeda dengan ayam pedaging, penyakit bakterial pernapasan yang sering ditemukan pada ayam petelur yaitu Coryza, CRD, dan Colibacillosis. Sedangkan ND dan AI menduduki peringkat atas untuk penyakit viral. Jumlah kasus Coryza, CRD kompleks, Kolera, cacar, NE, serta Ektoparasit hingga bulan Oktober 2019 lebih tinggi dibanding 2 tahun sebelumnya, dapat diprediksi kasus masih akan bertambah terlebih lagi dengan masuknya musim hujan di pergantian tahun ini.
Baca Juga : Identifikasi Infectious Bronchitis Pengancam Pernapasan Unggas
Rofi Yasifun, peternak layer dari Blitar, Jawa Timur menceritakan kejadian apa saja yang menimpa para peternak layer di Blitar saat ditemui Poultry Indonesia di Bogor, Rabu (13/11). Rofi menyebut kasus AI masih muncul di beberapa titik di Blitar, dengan indikasi terjadi kematian. Ia menyebut kemunculan AI ini dikhawatirkan akibat adanya perubahan dari kemarau ke penghujan. Selain itu adanya Heat Stress yang muncul akibat cuaca panas yang mencapai suhu 36-39 0C yang terjadi beberapa bulan lalu juga turut memicu munculnya penyakit AI di wilayah Blitar.
Selain AI nampaknya penyakit yang mencemaskan lagi adalah EDS (Egg Drop Syndrome) yang masih terdeteksi di beberapa lokasi. EDS ini biasanya muncul secara tiba-tiba dengan gejala yang bermacam-macam. Sedangkan untuk infeksi bakteri, Rofi menyebut Kolibasilosis masih terdeteksi di pullet, dengan ciri-ciri kaki kering, kemudian beberapa kasus sampai terjadi kematian. Ditemukan juga ayam yang rentan pada pernapasannya.
Peternak layer di Blitar juga melakukan beberapa upaya pasca dilarangnya penggunaan AGP di dalam pakan sejak 2018 yang lalu. Upaya-upaya itu seperti melakukan pembersihan rutin yang dilakukan 1-2 kali seminggu atau satu bulan sekali memberi bahan tambahan pada pakan seperti penambahan enzim, adisifier, dan obat herbal lainnya seperti kunyit, dan temulawak. Selain itu, ayam yang tidak produktif mereka keluarkan dari kandang atau dilakukan apkir. Ayam yang diapkir biasanya berumur sekitar 80-90 minggu. Peternak menaruh harapan besar kepada pemerintah, terutama sejak AGP dilarang.
Keadaan di pembibitan
Beberapa kasus akibat infeksi virus seperti AI dan IB juga masih ditemukan di pembibitan atau breeding. Penyakit akibat infeksi bakteri seperti NE juga masih ditemukan bahkan dalam jumlah yang cukup tinggi. Terlebih penyakit NE termasuk ke dalam penyakit subklinis, yang gejala klinis untuk ayam yang terkena penyakit ini sangat sulit dideteksi. Setelah dilakukan nekropsi atau dilakukan pembedahan baru kita bisa mendeteksi penyakit NE tersebut.
Kunci utama penyebaran penyakit adalah di maternal antibodi, sehingga vaksinasi di breeding sangat berpengaruh. Selain bisa muncul karena adanya vaksinasi di breeding, maternal antibodi ini juga bisa muncul akibat adanya tantangan penyakit, sehingga maternal antibodi itu bisa terbentuk dan kemudian ditularkan ke DOC. Masalah lain terjadi ketika infeksi virus itu menyerangnya memasuki masa produksi yang memungkinkan bisa menular pada DOC yang dihasilkan.
Selain memperhatikan program vaksinasi, manajemen pemeliharaan juga tak kalah penting. Culling dan pemisahan ayam wajib dilakukan sedini mungkin, terutama pada saat ayam umur satu minggu. Ketika terjadi vertical trasmition pada satu minggu pertama dan tidak dilakukan culling maka penyakit akan mudah menyebar dari ayam satu ke ayam lainnya yang tentu saja akan menyebabkan kerugian yang bertambah besar.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2019 dengan judul “Potret Kejadian Penyakit Tahun 2019”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153