Bangsa Indonesia dapat dikatakan sudah tidak asing dengan penggunaan tumbuhan herbal yang telah diwariskan secara turun-temurun
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Bangsa Indonesia dapat dikatakan sudah tidak asing dengan penggunaan tumbuhan herbal yang telah diwariskan secara turun-temurun sebagai salah satu alternatif pengobatan baik pencegahan, penyembuhan, dan pemulihan kesehatan. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya alat-alat pembuat jamu, prasasti, relief candi (Borobudur dan Prambanan), naskah kuno, dan produk lainnya hasil peninggalan nenek moyang. 
Herbal untuk perunggasan  
Tanaman herbal selain dapat digunakan sebagai obat, juga dapat digunakan sebagai imbuhan pakan. Bentuk derivat tanaman yang banyak digunakan sebagai imbuhan pakan yaitu fitogenik atau fitobiotik. Beberapa sumber menyatakan bahwa komponen aktif yang terkandung dalam fitogenik diantaranya minyak atsiri, flavonoid, saponin, dan tannin diketahui mempunyai aktivitas anti-mikroba, anti-fungi, dan aktivitas anti-oksidan.

Meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan dan pengaruh substansi kimiawi maupun sintetik, menjadikan tren penggunaan bahan dasar alami semakin populer. Indonesia yang kaya dengan sumber daya alamnya, berpotensi untuk menyediakan produk herbal untuk kesehatan hewan yang secara tidak langsung berdampak pada kesehatan manusia.

Sektor perunggasan sebagai sektor penyedia protein hewani terbesar dituntut untuk menghasilkan produk asal unggas seperti daging dan telur yang terjangkau dan aman bagi masyarakat. Sektor perunggasan juga dipacu untuk turut serta dalam memerangi stunting yang kasusnya masih tinggi di Indonesia. Sejak berlakunya keputusan untuk melakukan pelarangan penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) pada sektor perunggasan di Indonesia awal tahun 2018, para pelaku yang bergerak di sektor perunggasan berduyun-duyun mencari alternatif untuk menggantikan posisi AGP dengan natural growth promoter (NGP) demi menjaga performa dari unggas yang dipelihara.
Dr. Ir. M. Halim Natsir, S.Pt., MP., IPM., ASEAN Eng, Dosen Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang, yang juga pakar dalam bidang teknologi pakan unggas, formulasi pakan unggas, feed additive, dan rekayasa pakan berpendapat bahwa herbal mempunyai kandungan yang bermacam-macam, bahkan hampir sama dengan antibiotik, sehingga potensi herbal untuk menggantikan AGP sebenarnya besar. Hal yang perlu diperhatikan adalah peternak sudah cenderung nyaman menggunakan AGP karena responnya cepat, sedangkan fitobiotik atau herbal responnya cenderung lebih lama.
Ketika ditemui oleh Poultry Indonesia di Malang, Kamis (13/2), Halim menceritakan pengalamannya saat melakukan uji herbal secara invitro, mengunakan media di cawan petri, ada hal yang menarik. Menurutnya, setelah diamati 6-12 jam, ternyata ada hambatan pertumbuhan bakteri patogen, dan menunjukkan adanya daya antibakterial dari herbal yang digunakan. Hal yang menarik terjadi pada saat diuji dengan bakteri non patogen, seperti Lactobacillus atau Bakteri Asam Laktat (BAL) yang lain.
Tak ketinggalan, konsumen bahan pangan asal hewan saat ini mulai menyadari akan isu keamanan pangan yang semakin berkembang baik terhadap pangan yang diproduksi di dalam negeri maupun pangan impor. Tuntutan konsumen lainnya yang perlu juga untuk diperhatikan yaitu dari segi mutu dan standar, ramah lingkungan, serta isu sosial yang berkaitan dengan ketenagakerjaan. Keamanan pangan sendiri ditinjau sari segi bahaya mikrobiologis, bahaya kimia, dan bahaya fisik. Resistensi antibiotik merupakan salah satu bahaya yang mengintai didalamnya.
Baca Juga: Waspada Ancaman Bencana Kemanusiaan Akibat Resistensi Antibiotik
Resistensi antibiotik yang mengintai akibat penggunaan antibiotik secara berlebihan pada sektor peternakan, pada akhirnya mendorong masyarakat untuk ‘kembali ke alam’. PT Farma Sevaka Nusantara, yakni perusahaan yang bergerak sebagai penyedia produk fitogenik, melalui Direkturnya, drh. Wayan Wiryawan turut berkomitmen untuk menyediakan produk imbuhan pakan alami berasal dari fitogenik yang menurutnya lebih terukur dari dosisnya, efektivitas, dan keamanan pemakaiannya. Kekhawatirannya kepada resistensi antibiotik akibat penggunaan antibiotik yang kurang bijak menjadi salah satu pendorong perusahaan yang dipimpinnya untuk memasarkan produk fitogenik.
Wayan yang kerap diundang sebagai narasumber dalam berbagai seminar mengenai bahaya penggunaan antibiotik yang tidak bijak, mengatakan bahwa jika antibiotik bisa digantikan oleh fitobiotik, maka pasar dari fitobiotik ke depannya juga akan besar. Pengetatan terhadap pemakaian antibiotik mulai dilakukan oleh pemerintah Indonesia, seperti baru-baru ini ditetapkannya pelarangan menggunakan colistin pada unggas.
Sebagai bahan yang digadang-gadang sebagai pengganti AGP, Wayan mengatakan bahwa penggunaan fitogenik sebenarnya lebih diutamakan untuk program pencegahan dan sehingga penggunannya perlu dikombinasikan dengan bahan lain yang sesuai, sehingga mendapatkan hasil yang efektif.           
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2020 dengan judul “Kembali Ke Alam” Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153