Pandemi Covid-19 bukan hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi juga menggoyahkan stabilitas ekonomi di berbagai sektor industri, termasuk perunggasan.
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pandemi ditetapkan ketika suatu penyakit dapat menular dengan mudah dan terjadi di banyak tempat pada waktu yang bersamaan. COVID-19, dalam beberapa bulan sejak kasus pertamanya, telah menyita perhatian berbagai pihak. Virus ini bukan hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi juga menggoyahkan stabilitas ekonomi di berbagai sektor industri. Perunggasan pun tak luput dari ancamannya.

Coronavirus disease 2019 (Covid-19) telah dikategorikan sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO). Kerugian jiwa dan materi berjatuhan seiring mencuatnya virus ini. Kelangsungan industri perunggasan global pun ikut terdampak.

India, dengan 62 kasus COVID-19, menjadi salah satu negara yang mengalami kemerosotan pada industri perunggasannya. Orang-orang di sana mulai menghindari ayam dan telur sebagai bahan konsumsi harian. Hal itu menyebabkan turunnya harga produk unggas di pasaran. Pada minggu kedua bulan Maret, harga daging ayam di sana turun dari yang semula rupee (Rs) 180-200 per kilogram, menjadi Rs100-150 per kilogram, demikian dilansir oleh The Economic Times.
Ketakutan masyarakat terhadap daging dan telur ayam ini bermula dari beredarnya anggapan bahwa COVID-19 dapat menular melalui konsumsi produk perunggasan. Menurut keterangan yang dikeluarkan oleh The Food Safety and Standards Authority of India (FSSAI), anggapan tersebut merupakan sebuah kekeliruan. FSSAI Chief, Ayyangar, mengatakan bahwa tidak ada hal semacam itu.
Baca Juga: Mentan SYL Ajak Mitra Hadapi Corona
Kondisi perunggasan yang lebih sulit sedang terjadi di Provinsi Hubei, Tiongkok, tempat awal merebaknya COVID-19. Kegiatan produksi daging dan telur mendadak lumpuh akibat minimnya pasokan pakan bagi para produsen unggas. Jumlah unggas yang terpaksa dipotong pun meningkat demi efisiensi pakan. Alhasil, masyarakat sekitar kesulitan mendapat sumber protein yang memadai. Senior Asia Commodity Analyst dari perusahaan INTL FCStone, Darin Friedrichs, mengatakan bahwa kurangnya pasokan pakan ini menjadi masalah serius bagi sektor peternakan.
Darin juga menambahkan, mengingat adanya krisis African Swine Fever (ASF) yang mendahului COVID-19 di Tiongkok, produksi peternakan babi juga menurun drastis. Hal itu mempersulit masyarakat untuk mendapat asupan pangan berprotein. Pemerintah Tiongkok mengambil langkah impor produk unggas dari Amerika Serikat (AS) dan Rusia, demikian yang ditulis oleh laman Poultry Wolrd pada 9 Maret lalu.
Tiongkok membutuhkan impor ayam lebih karena peternak lokal memangkas jumlah peliharaan mereka secara drastis, sehubungan dengan sulitnya mendapat pasokan pakan dan terbatasnya akses pasar. Maka tak heran jika tampak peternakan di Hubei yang mulai ditinggalkan oleh para pemiliknya. COVID-19 benar-benar telah memasung ruang gerak mereka.PI
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi April 2020 dengan judul “ Kondisi Perunggasan Global di Tengah Pandemi Covid-19 Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153