Broiler yang dipelihara pada kandang tinggi kadar amonia rentan kasus cekrek
Oleh: drh. Esti Dhamayanti*
Pemanasan global dan perubahan iklim menjadi hal yang banyak diperbincangkan saat ini. Sebagian kelompok merasa tidak percaya dan merasa hal ini merupakan perubahan yang bersifat ’imaginer’, namun ada juga kelompok yang mempercayainya. Pada beberapa negara maju yang penduduknya sudah mulai sadar akan isu pemanasan global ini melayangkan protes dan mendesak regulator untuk melakukan langkah serius untuk mencegah terjadinya kerusakan lingkungan.

Tindakan pencegahan yang berkaitan dengan menurunkan jumlah amonia dalam kandang dapat dilakukan dengan mengatur ventilasi, kotoran, suhu, kelembapan, dan diet pakan.

Sektor peternakan menjadi salah satu sektor yang berkontribusi terhadap perubahan iklim karena sumbangsihnya pada emisi gas pemicunya, seperti Nitrous oxide (N2O), methane (CH4), Karbon dioksida (CO2), dan ammonia. Lantas, apa hubungannya gas-gas tersebut dengan kesehatan unggas? Pada artikel ini akan dibahas mengenai pengaruh amonia terhadap lingkungan maupun kesehatan ayam, khususnya berkaitan dengan infeksi oleh Mycoplasma gallisepticum.
Ketika kita membicarakan penyakit, tentu kita tidak hanya fokus terhadap agen penyakitnya saja, tetapi ada hal lain yang perlu diperhatikan sebagai pendukung baik dari internal (fisiologis ayam) maupun eksternal (faktor lingkungan). Tak dapat dipungkiri bahwa semakin meningkatnya kebutuhan manusia akan bahan pangan, salah satunya bahan pangan asal hewan berarti semakin banyak pula usaha yang dibutuhkan untuk memenuhinya.
Peternakan unggas yang lebih sedikit modal dan memiliki perputaran ekonomi yang cepat dibandingkan ternak lainnya, menjadikan sektor ini sebagai pilihan masyarakat yang hendak melakukan usaha dalam bidang peternakan. Menjamurnya peternakan ayam ini juga akan dibarengi oleh konsekuensi terhadap menambah emisi beberapa gas nitrogenous yang dihasilkan oleh sektor perunggasan, di antaranya ammonia, nitrous oxide (N2O), dan oksida nitrogen lainnya (NOx).
Kendati turut menyumbangkan gas rumah kaca (GHG), sumbangan gas tersebut dari sektor perunggasan masih tergolong lebih kecil daripada ternak hewan besar. Berdasarkan data dari Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) tahun 2019, sapi pedaging menghasilkan GHG sebesar 5 Gigaton CO2 eq per tahun atau sekitar 60% dari keseluruhan emisi yang dihasilkan hewan ternak. Ayam petelur dan pedaging termasuk dalam kategori rendah yaitu 0,3 dan 0,5 Gigaton CO2 eq. per tahun secara berurutan. 
Emisi gas amonia dalam lingkungan menjadi hal yang perlu diperhatikan karena amonia pada atmosfer dapat secara signifikan mendukung akselerasi oksidasi pada awan dan meningkatkan partikel spesies yang menyebabkan hujan asam. Sektor peternakan memproduksi gas amonia antropogenik secara signifikan. Urin hewan menyumbangkan sekitar 70% amonia sedangkan 30%-nya berasal dari feses. Pada unggas, feses unggas terdiri dari 60-65% asam urat, 10% garam amonia, 2-3% urea, dan sisanya merupakan kreatinin (Brouček dan Čermak 2015).
Asam urat yang sangat tinggi dihasilkan pada ekskreta unggas ini akan diubah menjadi urea melalui dekomposisi secara anaerob. Ketika urea tersebut bercampur dengan urease yang berada pada feses unggas, maka urea N dapat berubah dengan cepat menjadi ammonia yang sangat volatil dan dengan mudah berdifusi dengan udara di sekitar (Malomo et al. 2018).
Gas amonia dengan konsentrasi yang tinggi akan menimbulkan dampak buruk bagi performa ayam, kesejahteraan hewan, maupun kesehatan manusia. Pada aspek kesehatan manusia, amonia yang menimbulkan polusi udara dapat mengganggu kesehatan saluran pernapasan manusia. Gas yang berasal dari manure (kotoran) tersebut juga menjadi attractant bagi vektor penyakit, salah satunya lalat rumah (Musca domestica).
Baca Juga: Upaya Untuk Menurunkan Kadar Amonia dalam Kandang dan Lingkungan
Dari aspek kesejahteraan hewan, yaitu aspek kesehatan unggas, konsentrasi gas amonia dapat menurunkan konsumsi pakan, menekan pertumbuhan unggas, menurunkan produksi telur, mengiritasi mata, dan merusak saluran pernapasan. Ketika saluran pernapasan unggas ini rusak, maka beberapa agen penyakit yang memiliki porte d‘entrée (pintu masuk) pada saluran pernapasan akan mudah masuk, salah satunya Mycoplasma gallisepticum.
Penyakit chronic respiratory disease (CRD) yang disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum pada ayam sudah menjadi langganan bagi tiap peternak setiap tahunnya. Studi maupun laporan mengenai penyakit yang akrab disebut dengan cekrek atau ngorok oleh peternak sudah sangat banyak dan menjadi perhatian bagi para peternak karena menimbulkan kerugian yang tinggi akibat menurunnya performa.
Sebagai genus yang sangat patogenik dari Mycoplasma, M. Gallisepticum (MG) ini banyak ditemukan di saluran pernapasan karena MG menempel pada silia kemudian melepaskan endotoksin yang dapat merusak sistem pertahanan saluran pernapasan, yaitu sistem mukosiliaris. Beberapa daerah yang rentan terhadap serangan MG di antaranya epitel pada kojungtiva, lubang hidung, sinus, dan trakea. Tak ayal, jika amonia merusak barier yang terdapat pada saluran pernapasan, maka akan memperparah infeksi CRD.
Mycoplasma gallisepticum dapat ditularkan secara vertikal maupun horizontal, sehingga perlu adanya pengawasan ketat terhadap agen penyakit ini pada saat dalam breeding farm. Pada penularan secara horizontal dari satu individu ke individu lain melalui aerosol maupun dari peralatan atau petugas kandang yang membawa bibit penyakit.
Deteksi terhadap terjadinya CRD ini harus dilakukan sedini mungkin dengan melakukan seleksi pada ayam yang masih berumur muda atau di bawah satu minggu. Hal ini didasari dengan penularan secara vertikal dari Mycoplasma gallisepticum. Berdasarkan keterangan dari lapang pada ayam pedaging (broiler), upaya deteksi tersebut dimulai dari deteksi ayam yang mulai menunjukkan kelemahan, terlihat kesulitan untuk bernapas, dan tidak aktif. Pada ayam yang lebih dewasa akan terdengar suara ngorok.
Ayam tersebut sebaiknya diapkir karena akan mudah terserang penyakit, selain itu ayam ini kemungkinan besar juga tidak akan memiliki produksi yang maksimal. Petugas kandang maupun tenaga kesehatan hewan hendaknya taktis dalam melakukan penyeleksian. Berdasarkan keterangan yang ada di lapang, ayam yang diapkir saat dilakukan nekropsi, beberapa sampel menunjukkan adanya airsakulitis, bahkan ditemukannya penebalan pada pembungkus jantung (perikarditis) maupun hati (perihepatitis). Lesi tersebut juga dapat ditemukan pada ayam yang sudah dewasa ketika adanya campur tangan dari Eschericia coli atau disebut juga dengan CRD kompleks.
Sedikit membahas mengenai serangan E. Coli, bakteri gram negatif ini dapat dijadikan sebuah indikator baik atau tidaknya penerapan dari higiene maupun sanitasi. Serangan bakteri ini juga dapat ditularkan melalui telur, sehingga kembali lagi, manajemen pemeliharaan serta kontrol kesehatan pada induk harus dilakukan dengan ketat. Menyangkut dari infeksi MG, E. coli yang juga merupakan bakteri kommensal mudah masuk karena sistem pertahanan unggas yang lemah akibat MG.*Wartawan Poultry Indonesia
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Oktober 2020 ini dilanjutkan pada judul Usaha Pencegahan dan Pengobatan Cekrek”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153