Pemaparan materi pada sesi diskusi Koperasi Wirasakti dengan Sekolah Vokasi IPB University
POULTRYINDONESIA, Bogor – Perjalanan dua tahun terakhir dalam berbudi daya broiler yang jauh dari kata menguntungkan membuat para peternak di Bogor kembali bersepakat membentuk koperasi. Pengalaman gagal dalam berkoperasi beberapa dekade silam, menjadi bekal agar koperasi baru yang didirikan tersebut tidak mengalami hal yang sama.
Menurut Ketua Koperasi Ternak Unggas Wirasakti Bogor, Sugeng Wahyudi, mengatakan bahwa pihaknya mengadakan diskusi dengan Sekolah Vokasi IPB University bertujuan untuk mendengarkan pemikiran para akademisi terkait dengan langkah yang harus ditempuh koperasi agar bisa berjalan dan mampu mensejahterakan anggotanya.
“Kita berkoperasi karena ingin mencari solusi. Kita berusaha memperbaiki sistem, membangun integritas, profesional, dan tentunya agar bisnis ayam bisa untung dan jangan merugi terus-menerus,” ujar Sugeng di Bogor, Rabu (11/11).
Sugeng berujar, koperasi memiliki tantangan tersendiri ketika berhadapan dengan mitra. Berdasarkan pengalamannya, perusahaan lebih percaya kepada individu peternak daripada institusi (koperasi), padahal seharusnya koperasi memiliki posisi tawar yang kuat.
“Kita persiapkan koperasi yang baru ini agar bisa dipercaya. Sejauh ini baru satu perusahaan yang percaya untuk bekerja sama dengan kami (koperasi). Oleh karena itu koperasi memang sudah seharusnya dikelola secara professional agar dipercaya,” ujarnya.
Sementara itu, pakar koperasi pertanian dari IPB University, Dr. Yeti Lis Purnamadewi, menjelaskan bahwa dalam terminology koperasi produsen, seperti koperasi wirasakti ini adalah koperasi yang anggotanya memiliki usaha dan jenis usaha yang sama sehingga diharapkan usaha tersebut menjadi lebih efisien.
Baca Juga: Mengkop UKM Dukung UKM dan Koperasi Perunggasan
“Koperasi itu merupakan badan usaha yang sifatnya aksi kolektif, yang bermisi sosial dengan memperjuangkan nasib secara bersama-sama agar anggotanya sejahtera,” ujar Yeti.
Berdasarkan pengalamannya dalam mengamati dan meneliti banyak koperasi pertanian/peternakan di dunia, Yeti menilai koperasi yang dibentuk di Indonesia tidak bisa murni seperti dengan koperasi-koperasi pertanian di negara asalnya (Barat).
Menurutnya, koperasi petani di Jerman misalnya, walaupun anggotanya hanya 10 petani/peternak, mereka memiliki sarana produksi yang memang mencapai skala ekonomis karena kepemilikian lahan yang luas/populasi ternak yang banyak.
“Kontribusi koperasi di sana sangat besar terhadap GDP negara. Melihat perbedaan antara di sini (Indonesia) dan di sana (Eropa), maka memang koperasi di Indonesia harus melakukan penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan kondisi yang ada,” ujarnya.
Peternak yang berkoperasi karena di koperasi mengembangkan usaha yang sesuai dengan kebutuhan peternak. Sejahteranya anggota adalah bagaimana mereka mendapatkan harga input produksi yang lebih murah dan pada saat menjual produk dengan harga lebih baik dibandingkan jika tidak berkoperasi.

“Manfaat berkoperasi ada di situ, kalau berkoperasi sama saja, ngapain berkoperasi. Oleh karena itu, koperasi sudah seharusnya mengarah ke arah sana, bagaimana bisa menciptakan input produksi yang rendah dan bisa menjual hasil produk peternak dengan harga lebih baik,” imbuhnya.