Telur ayam ras coklat pada keranjang (sumber: healthline.com)
POULTRYINDONESIA, Solo – Tim Program Kreativitas Mahasiswa-Kewirausahaan (PKM-K) UNS Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian merancang bumbu masak kalsium tinggi dengan memanfaatkan cangkang telur. Produk yang dirancang itu diberi nama BUCATUR: Bumbu Masak High Calcium.
Menurut David Anggara Putra selaku Ketua Tim PKM-K BUCATUR, mengatakan bahwa cangkang telur merupakan limbah peternakan yang banyak belum dimanfaatkan. Tidak dipungkiri tingkat konsumsi telur sendiri tiap tahun kian meningkat. Meningkatnya konsumsi telur ini beriringan dengan bertambahnya limbah cangkang telur.
“Limbah cangkang telur yang menumpuk akan berdampak buruk pada lingkungan. Dasar pokok itulah yang menjadi tercetusnya ide untuk mengolah limbah cangkang telur menjadi komponen bumbu masak dengan kandungan kalsium tinggi,” jelasnya kepada Poultry Indonesia, Kamis (25/11).
Berdasarkan penuturannya, cangkang telur mengandung kalsium karbonat sebesar 90%, magnesium karbonat 1%, kalsium fosfat 1%, dan protein 4%. Kandungan kalsium yang tinggi tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan fortifikasi kalsium produk pangan.
Baca Juga: Kontroversi Telur Tetas untuk Konsumsi Masyarakat
BUCATUR terbuat dari rempah pilihan asli Indonesia dengan fortifikasi kalsium yang berasal dari ekstrak cangkang telur sebesar 5%. Berbeda dengan bumbu masak yang dijual di pasaran, produk tersebut mengandung 280 mg kalsium setiap satu sachet (14 g) sehingga didapatkan bumbu masak dengan kandungan kalsium yang tinggi.
“Bumbu masak memainkan peranan yang cukup penting dalam kehidupan rumah tangga. Hampir setiap ibu-ibu maupun juru masak restoran atau hotel menggunakan bumbu masak untuk meningkatkan cita rasa masakan. Terkhusus ibu rumah tangga yang menyediakan masakan untuk anggota keluarga, bumbu masak alami dengan fortifikasi kalsium akan menjadi pilihan yang menjanjikan,” kata David.
Sementara itu menurut Dr.agr. Muhammad Cahyadi, S.Pt., M.Biotech yang merupakan pembimbing PKM-K BUCATUR mengatakan bahwa program tersebut yang didanai oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan merupakan program yang sangat tepat bagi mahasiswa untuk belajar berwirausaha.
“PKM-K menuntut kreativitas mahasiswa yang inovatif dalam menciptakan peluang pasar sehingga produk yang ditawarkan mampu membuka peluang perolehan profit. Selain itu, munculnya para wirausaha baru dapat menyediakan peluang pekerjaan di masa yang akan datang,” ujarnya.
Produk BUCATUR direncanakan memiliki berbagai varian rasa dan bentuk kemasan. Pada tahap pertama akan diproduksi dengan kemasan sachet dengan volume 14 g dengan varian rasa ayam dan sapi. Harga yang ditawarkan adalah Rp1.000 per sachet, sehingga produk tersebut sangat menjanjikan dan dapat bersaing dengan produk sejenis di pasaran.