Vaksinasi pada layer
Oleh : Muhammad Sandi Dwiyanto*
Faktor penyakit selalu menjadi tantangan tersendiri bagi industri perunggasan termasuk dalam proses budi daya ayam petelur. Permasalahan penyakit di lapangan yang cukup beragam harus diantisipasi dengan baik oleh para peternak untuk menghindari dampak negatif yang akan ditimbulkan. Langkah pencegahan seperti vaksinasi merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengantisipasi hal tersebut.

Program vaksinasi yang kurang tepat, seperti terlambat dalam melakukan vaksinasi, kandungan vaksin tidak sesuai dengan virus paparan lapangan, atau dosis dan aplikasi tidak tepat, akan menimbulkan imunitas yang dihasilkan tidak optimal.

Vaksinasi merupakan langkah pencegahan serangan penyakit dengan menginduksi antibodi dari dalam tubuh ayam. Proses vaksinasi dilakukan dengan memasukkan agen penyakit yang telah dilemahkan, agar dapat merangsang pembentukan sistem kekebalan atau antibodi terhadap suatu penyakit tertentu, dengan  dosis yang aman. Terbentuknya antibodi ini akan dapat meminimalkan risiko masuknya infeksi penyakit ke dalam tubuh ayam. Untuk itu, adanya manajemen vaksinasi yang tepat pada proses pemeliharaan sangatlah penting. Terlebih fase produksi pada ayam petelur yang cukup lama, membuat lebih banyak hal yang harus diperhatikan dan dipersiapkan.
Hal senada diungkapkan oleh Ir. Syamsidar, S.Pt, M.Si selaku Marketing Support PT Sanbio Laboratories. Saat berbincang dengan Poultry Indonesia melalui aplikasi virtual Zoom, Jumat (13/11), dirinya mengungkapkan bahwa banyak faktor yang berperan dalam keberhasilan menjaga performa ayam petelur, salah satunya adalah program vaksinasi yang baik.
Baca Juga: Vaksinasi dan Biosekuriti Kunci Sukses Menjaga Kesehatan Unggas
“Program vaksinasi yang baik akan mencegah atau setidaknya meminimalkan masuknya agen infeksi penyakit, sehingga akan membantu performa dari ayam dan bisa menghasilkan produksi yang optimal,” jelasnya.
Program vaksinasi yang kurang tepat, seperti terlambat dalam melakukan vaksinasi, kandungan vaksin tidak sesuai dengan virus paparan lapangan, atau dosis dan aplikasi tidak tepat, akan menimbulkan imunitas yang dihasilkan tidak optimal. Hal ini akan memberi kesempatan bagi agen penyakit untuk tetap menimbulkan gejala pada ayam. Selain itu, Sidar menegaskan bahwa untuk mencapai hasil yang maksimal, program vaksinasi tidak dapat berdiri sendiri dan harus didukung oleh manajemen pemeliharaan yang lain seperti manajemen biosekuriti, pakan, kualitas air dan lain sebagainya.
Titik kritis program vaksinasi
Program vaksinasi yang baik adalah program vaksinasi yang disusun berdasarkan kondisi lapangan suatu peternakan. Hal ini dikarenakan pada setiap daerah memiliki pemetaan tantangan virus yang tidak sama sehingga program vaksinasi sebaiknya disesuaikan. Kecocokan strain dari vaksin dan virus dilapangan akan membuat proteksi semakin kuat sehingga dapat menghalangi agen penyakit yang akan masuk ke dalam tubuh ayam. Oleh karena itu, menjadi hal yang wajar apabila dalam setiap peternakan mempunyai program vaksinasi yang berbeda-beda sesuai dengan keadaan lapangan masing-masing dan harus dilakukan evaluasi berdasarkan paparan virus lapangan.
Lebih lanjut, Sidar menjelaskan bahwa pada ayam petelur, umumnya peternak telah mempunyai acuan program vaksinasi hingga mencapai fase pullet. Kemudian, pada  periode  produksi dilakukan pemberian vaksin ulang atau revaksinasi terhadap penyakit-penyakit yang mengganggu produksi telur seperti ND, AI dan IB. Idealnya program revaksinasi ini didasarkan pada keadaan titer antibodi ayam. Namun banyak juga peternak yang melakukan revaksinasi berdasarkan pengalaman di lapangan seperti vaksin ND dan IB live yang diberikan secara berkala setiap bulan, sedangkan untuk kill setiap 3 bulan dan vaksin AI 2 kali selama periode produksi.
“Masih dijumpai terutama pada peternak kecil yang melakukan revaksinasi berdasarkan pengalaman. Namun idealnya revaksinasi didasarkan pada hasil tes titer antibodi. Apabila hasil proteksi tes titer antibodi berada di bawah 70 persen, maka revaksinasi harus segera dilakukan,” tambahnya. Untuk program vaksinasi ayam petelur yang umum digunakan, tertera pada Tabel 1.
Tabel 1. Program vaksinasi yang umum digunakan  pada ayam petelur
Umur
Vaksin
Umur 4/5 hari
ND Live/ ND+IB Live atau bisa kill
Umur 7 hari
Gumboro 1
Umur 14 hari
Gumboro 2
Umur 18-19 hari
ND live
Umur 21-22 hari
Gumboro 3
Umur 28 hari
AI H5
Umur 35 hari
ND IB Live/ND G7 IB Kill
Umur 42 hari
Coryza 1 dan Fowl Fox
Umur 56 hari
ND Live dan ND IB kill
Umur 67 hari
ILT
Umur 77 hari
ND IB live & Coryza 2
Umur 84 hari
AI (H5+H9)
Umur 15 Mg
ND IB Live & ND IB EDS kill
Umur 17 Mg
Coryza 3
Umur 18 Mg
AI (H5+H9)
Umur 21 Mg
ND IB Live & ND IB Kill
Selain itu, khusus untuk vaksin gumboro penentuan umur vaksinasi yang paling baik berdasarkan pada perhitungan maternal antibodi ayam dengan menggunakan rumus Deventer. Hal ini disebabkan seringkali terjadinya perbedaan kualitas dan keseragaman pada DOC.
“Kita ada beberapa pengalaman di lapangan, ketika menemukan ketidaksesuaian pengaplikasian program vaksinasi gumboro seperti biasa, ternyata setelah dipelajari, perhitungan maternal antibodi tidak tepat dan vaksinasi seharusnya lebih maju atau mundur. Maternal antibodi yang terlalu rendah akan menyebabkan reaksi post vaksinasi keluar, namun ketika terlalu tinggi maka akan menetralisir virus dari vaksin sehingga kekebalan yang diperoleh tidak bisa optimal,” terangnya.
Hal yang juga harus diperhatikan dalam program vaksinasi adalah pencatatan atau recording. Proses ini sangatlah penting, namun seringkali terabaikan di lapangan. Recording berfungsi untuk acuan monitoring dan evaluasi pada program vaksinasi yang telah dilakukan, sehingga peternak dapat mengambil langkah selanjutnya.
 “Terkadang masih dijumpai peternakan yang belum mengaplikasikan recording dengan tepat. Terlebih pada ayam petelur yang dipelihara dalam jangka waktu yang lama, maka recording program vaksinasi menjadi sesuatu yang harus diperhatikan. Hal ini juga dapat menjadi validasi dari hasil tes titer yang dilakukan,” ujar Sidar. *Wartawan Poultry Indonesia
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2021 ini dilanjutkan pada judul “Proses Vaksinasi dan Penyimpanan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153