Rangkaian pertemuan bilateral antara Raja Willem-Alexander dan Ratu Maxima dari Belanda dan pemerintah Indonesia melingkupi beberapa agenda, di antaranya sejumlah kesepakatan bisnis yang mencapai nilai 1 miliar USD atau setara Rp14,3 triliun. Kerja sama yang ditawarkan oleh 180 perusahaan Belanda yang ikut serta dalam rombongan Raja dan Ratu Belanda meliputi bagian life science, kesehatan, peternakan, pertanian, produksi pangan, keamanan pangan, manajemen perairan, kemaritiman, dan energi.
Dari bidang peternakan maupun life science, salah satu kerja sama yang dilakukan yaitu berupa konsultasi pembuatan fasilitas telur Specific Pathogen Free (SPF) dan laboratorium uji telur SPF antara Royal GD Animal Health dan Medion. Seremonial penandatanganan kerja sama konsultasi ini dilaksanakan di Ballroom A, Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (10/3).

Acara seremonial ini dihadiri oleh Raja dan Ratu Belanda yang didampingi menteri maupun perwakilan perusahaan asal Belanda beserta perwakilan dari Indonesia. Jan-Kees Goet (Vice Minister of Agriculture, Nature, and Food Quality, Netherland), Sigrid Kaag (Minister of Foreign Trade and Development Cooperation), Hans De Boer (President of The Confederation of Netherlands Industry and Employers VNO-NCW), Jan Willem de Vries (Director Business Development Royal GD). Sedangkan perwakilan dari pihak Indonesia yaitu Agus Suparmanto, Menteri Perdagangan Republik Indonesia, serta Prof. Toto Winata, Ph.D., Livestock Director Medion dan Agus Mulyana, ST., Project Manager Medion.
Kerja sama antara pemerintah Indonesia dan pihak Belanda sudah terjalin sejak lama, seperti pada tahun 2014 yang lalu dalam program Dutch-Indonesia Food Security Livestock (DIFSLIVE). Program tersebut bertujuan mendukung ketahanan pangan di Indonesia melalui Program Pembelajaran Broiler Modern (PPBM). Program yang memakai konsep kandang tertutup ini menggandeng beberapa perusahaan, salah satunya Medion yang memiliki koneksi baik dengan peternak dan telah lama berkecimpung di dunia peternakan. 
Sedangkan kerjasama antara Medion dan Royal GD Animal Health di awal tahun 2020 ini, nantinya akan menghasilkan fasilitas telur SPF pertama di Indonesia yang berstandar The European Pharmacopeia (Ph. Eur.) dan memiliki laboratorium berstandar Internasional.
Berdasarkan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE), telur SPF merupakan telur yang digunakan untuk produksi vaksin dan harus bebas dari 18 penyakit infeksius terhadap ayam. Indonesia merupakan konsumen yang cukup besar untuk produk vaksin, maka sudah sepatutnya pembuatan vaksin ini dapat dipenuhi oleh produsen dalam negeri dengan kualitas yang tak kalah dengan vaksin impor.
The European Pharmacopeia merupakan suatu acuan untuk mengontrol kualitas dari obat dan memberikan dasar ilmiah untuk quality control pada keseluruhan proses dari produk. Standar yang ditetapkan oleh Ph. Eur. harus dipenuhi dan dipatuhi untuk dapat memasarkan produk ke 39 negara di Eropa atau lebih. Diterapkannya standar tersebut tentu dapat memberikan kesempatan bagi Medion untuk melebarkan jangkauan pasarnya ke Eropa.
Pengukuhan kerja sama ini patut diapresiasi karena ke depannya bukan tidak mungkin Indonesia dapat menjadi negara yang terkemuka dalam hal produksi vaksin, sehingga kesehatan hewan ternaknya dapat terjaga dan kesejahteraan peternaknya dapat terangkat. Hal ini sesuai dengan semboyan yang didengungkan di dunia kedokteran hewan ‘Manusya Mriga Satwa Sewaka’, yaitu menyejahterakan manusia melalui kesehatan hewan.   Adv