Tumbuhan sarang semut (Sumber gambar: myrmecodia.invisionzone.com)
Oleh: drh. Ertika Fitri Lisnanti, M.Si1) dan Nur Fitriyah, SP, MP2)
Kasus flu burung pertama kali ditemukan di Indonesia pada bulan Agustus 2003 dan pemerintah secara resmi mengumumkannya ke publik pada bulan Januari 2004. Jenis unggas yang terjangkit AI di antaranya ayam pedaging, ayam petelur, bebek, dan puyuh. Tidak hanya di Indonesia, virus ini juga menyerang unggas di seluruh Asia Tenggara dan secara tak terduga burung pun dapat menularkan AI ke mamalia, seperti kucing, babi dan manusia. Penyebaran ini juga diduga oleh migrasi burung dan transportasi unggas yang terinfeksi.
Pada umumnya, virus Avian Influenza A tidak menyerang manusia, tetapi pada strain tertentu seperti H5N1 dan H7N7 yang sangat patogen dapat menyerang manusia dan menimbulkan kematian. Terdapat beberapa cara penularan virus avian influenza A dari spesies unggas ke manusia antara lain melalui kontak langsung maupun tidak langsung dengan unggas yang sakit, air liur, tinja, alat peternakan yang terkontaminasi virus AI, maupun lewat udara.
Tumbuhan sarang semut yang memiliki nama latin Myrmecodia sp., merupakan anggota keluarga Rubiacease dengan 5 genus. Tumbuhan sarang semut ini diketahui mengandung senyawa kimia dari golongan flavonoid dan tannin. Tumbuhan ini juga kaya akan antioksidan, salah satunya dari flavonoid, serta berperan sebagai imunostimulan, yaitu untuk menambah daya tahan tubuh. Secara teknis, zat immunostimulan akan membantu dan melindungi sel-sel tubuh agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik (Yuanita et al. 2014).
Baca Juga: Pencegahan Terhadap Penyakit Avian Influenza
Imunostimulan sendiri adalah suatu substansi atau senyawa yang dapat meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh baik secara spesifik maupun non spesifik. Induktor ini sebagian besar bekerja sebagai mitogen, yaitu meningkatkan proliferasi sel yang berperan pada imunitas. Induktor paramunitas ini berkerja menstimulasi pertahanan seluler dengan sel tujuan yaitu makrofag, granlosit, dan limfosit T maupun B. Meningkatnya pertahanan seluler tersebut diharapkan dapat membantu sel dalam melawan virus AI serta meningkatkan kinerja dari vaksin AI.
Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui efektivitas pemberian ekstrak sarang semut ini dilakukan pada broiler. Ayam diberikan vaksin AI killed dengan dosis 0,25 ml secara subkutan pada umur 4 hari. Pemberian ekstrak sarang semut dengan dosis pemberian masing-masing 5 mg/kg BB (L1), 10 mg/kg (L2), dan 15 mg/kg (L3) dimulai pada saat ayam berumur 25 hari. Variasi lama pemberian ekstrak tumbuhan sarang semut yaitu 3 (K1), 5 (K2), dan 7 hari (K3). Pengambilan darah serentak dilakukan pada umur 32 hari dan pemeriksaan titer antibodi AI dilakukan dengan uji Hemaglutinasi Inhibisi (HI).
Hasil pemeriksaan serologi pada penelitian ini menunjukkan bahwa setelah pemberian vaksin AI, baik kontrol vaksin maupun perlakuan, menunjukkan rataan titer antibodi yang protektif yaitu di atas 3 log 2. Menurut Indriani et al. (2004), bahwa pada titer lebih dari sama dengan 3 log 2, merupakan titer proteksi ayam lokal dan burung puyuh terhadap infeksi AI subtipe H5N1. Titer antibodi terhadap virus AI pada penelitian ini terdapat pada Tabel 1.
Tabel 1. Titer antibodi terhadap virus AI 4 minggu pasca-vaksinasi
Perlakuan
Jumlah sampel
Titer antibodi terhadap AI (log 2)
Rata-rata
CV (%)
0
1
2
3
4
5
L1K1
9
 
 
1
5
2
1
3,33
26
L1K2
9
 
 
1
4
4
 
3,33
21
L1K3
9
 
 
 
3
6
 
3,67
14
L2K1
9
 
 
 
2
5
2
4,00
18
L2K2
9
 
 
 
 
5
4
4,40
12
L2K3
9
 
 
 
2
4
3
4,20
20
L3K1
9
 
 
 
3
3
3
4,00
22
L3K2
9
 
 
 
2
4
3
4,10
19
L3K3
9
 
 
2
2
3
2
3,56
25
Kontrol vaksin
9
 
 
1
6
1
1
3,22
26
Kontrol tanpa vaksin
9
5
4
 
 
 
 
0,44
13
Berdasarkan Coefficient of Variance (CV) pada Tabel 1 yang bernilai di bawah 35% menunjukkan bahwa tingkat CV dari titer antibodi dalam penelitian ini sudah baik. Coefficient of Variance dinyatakan seragam terhadap titer antibodi tiap sampel yang terambil jika memiliki nilai ≤35%. Melihat dari penurunan nilai CV pada setiap perlakuan membuktikan bahwa pemberian ekstrak sarang semut mampu memberikan perlindungan yang lebih protektif terhadap serangan virus AI. Keseragaman paling baik ditunjukkan pada L2K2 yaitu pemberian dosis ekstrak sarang semut 10mg/kg BB dengan rentang waktu 5 hari. Pada aspek pemberian dosis dan waktu yang diberikan pada Tabel 2 menunjukkan bahwa perbedaan nyata terjadi antara dosis yang diberikan, namun tidak dengan perbedaan waktu pemberian ekstrak sarang semut.
Tabel 2. Rata-rata nilai titer antibodi AI setelah perlakuan dosis ekstrak sarang semut (L) dan waktu pemberian ekstrak sarang semut (K)
                   Perlakuan
Rata-rata nilai titer (log 2)
L1 (5 mg/kg BB)
 
3,44 ± 1,73
L2 (10 mg/kg BB)
 
4,22 ± 2,00
L3 (15 mg/kg BB)
 
3,89 ± 2,65
 
BNT 5%
0,28
K1 (3 hari)
 
3,78 ± 3,46
K2 (5 hari)
 
3,96 ± 5,13
K3 (7 hari)
 
3,81 ± 3,21
 
BNT 5%
ns
Keterangan: BNT = metode uji analisis data, ns= non-significant
Berdasarkan data rata-rata nilai titer broiler pada Tabel 3, hasil uji menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata perlakuan L2 yaitu pemberian sarang semut dengan dosis 10 mg/kg BB dan L3 yaitu pemberian sarang semut dengan dosis 15 mg/kg BB dengan kontrol broiler yang di vaksin AI.
Tabel 3. Rata-rata nilai titer broiler pada perlakuan pemberian ekstrak sarang semut dan kontrol
Perlakuan
Rata-rata nilai titer (log 2)
L1 (5 mg/kg BB)
3,44 ± 0,19
L2 (10 mg/kg BB)
4,22 ± 0,22
L3 (15 mg/kg BB)
3,89 ± 0,29
Kontrol vaksin AI
3,22 ± 0,19
Kontrol tanpa vaksin
0,44 ± 0,38
BNT 5%
0,28
Keterangan: BNT = metode uji analisis data              
Nilai rata-rata titer terbaik ditunjukkan pada perlakuan L2, yaitu pada dosis 10 mg/kg sebesar 24,22. Titer ini sesuai dengan rekomendasi dari organisasi kesehatan hewan dunia (OIE) yang menganggap bahwa titer antibodi protektif terhadap AI bernilai > 24 (Alfons 2005), walaupun ada juga beberapa pendapat yang mengungkapkan bahwa titer ≥ 3 log 2 merupakan titer proteksi terhadap AI.
Titer antibodi yang menunjukkan hasil protektif terhadap virus AI pada penambahan ekstrak sarang semut ini menunjukkan bahwa kandungan flavonoid yang memiliki antioksidan berkekuatan tinggi mampu membentuk mekanisme pertahanan sel terhadap kerusakan radikal bebas. Flavanoid juga diketahui memiliki aktivitas sebagai antibiotik dan antivirus (Cawson et al. 2008). Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dosis yang direkomendasikan untuk penggunaan ekstrak tumbuhan sarang semut agar memberikan perlindungan optimal terhadap virus AI yaitu 10 mg/kg BB. 1)Dosen Jurusan Peternakan, 2)Dosen Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Kadiri Kediri.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Oktober 2020 dengan judul “Memanfaatkan Tumbuhan Sarang Semut untuk Imunostimulan Broiler”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153